Dedi Mulyadi Jagonya Bikin Penasaran

FB_IMG_1510112074320

Akhirnya yang ditunggu-tunggu itu datang juga. Cukup lama publik menanti pernyataan sikap Kang Dedi menyusul kezaliman DPP Golkar kepada dirinya.

Simpati publik meluas. Rasa kebersamaan dan suasana batin justru terasa makin dekat dengan Kang Dedi. Kezaliman DPP itu saat ini tidak lagi hanya dirasakan oleh KDM. Bahkan kesewenangan DPP itu lebih besar dirasakan oleh para grassroot, relawan dan pecintanya, ketimbang oleh Kang Dedi sendiri.

Pada saat publik menanti sikap Kang Dedi, dalam acara di Lapangan Gasmin Antapani ia masih menghibur masyarakat, masih berbagi, masih membahagiakan mereka. Ia masih tetap seperti dulu: gogonjakan, seuseurian, jeung ngabodor. Saat wartawan menanyainya, ia bilang tenang saja. Malam sabtu bukan malam politik, tetapi malam untuk menghibur.

Saat wartawan bertanya apakah KDM semangat, ia bilang, “Ya semangat dong, masa tidak semangat.”

Orang-orang dibuat penasaran sebenarnya apa yang sedang disiapkan KDM. Sikap politiknya sangat ditunggu. Ada sebagian orang yag setiap jam mengecek Google sekadar ingin mendapatkan update berita tentang KDM. KDM memang bikin penasaran.

Pada saat yang sama, saat kezaliman kepadanya terjadi, justru survei terbaru Indo Barometer memperlihatkan elektabilitasnya meningkat pesan. Dari semula setinggi-tingginya 14 % an, kini sedikit lagi 20 %. Semula hanya berada di peringkat ketiga, sekarang Kang Dedi justru menggusur Deddy Mizwar menjadi peringkat ketiga di belakangnya. KDM naik ke peringkat kedua. Meroket signifikan.

Secara kultural, para relawan makin menguat, dan sudah bersiap-siap. Secara struktural, grassroot Golkar mengambil perannya masing-masing sesuai kapasitas. Dalam common sense mereka, terasa bahwa mereka sudah memiliki satu tekad dan perjuangan yang sama, untuk Kang Dedi.

Pokoknya, sikap politik Kang Dedi sangat dinantikan. Maka, Senin 6 Nopember kemarin, saat konferensi pers, publik sama-sama menyimak setiap kalimat yang diucapkan KDM. Ada beberapa keyword yang trending dibahas netizen. Salah satunya adalah ungkapan KDM (kurang lebih), “Saya MEMAHAMI keinginan DPP. Saya juga mengajak untuk MEMAHAMI apa yang diinginkan oleh DPP.” Berkali-kali KDM menekankan kata “memahami” ini.

Ada kalangan yang mengesani bahwa Kang Dedi menerima keputusan DPP. Saat wawancara jarak jauh dengan sebuah stasiun TV siang tadi, 8 Nopember, reporter menjebak KDM dengan kalimat bahwa KDM menerima SK DPP. Apa kata KDM? KDM menegaskan, “Saya memahami DPP.” Jadi, bukan menerima, tetapi memahami.

Nah, di sinilah asyiknya. Publik masih harus bersabar dan kian penasaran. Mungkin ada seseorang yang sedang bahagia karena telah berhasil mencuri kuda KDM agar KDM tidak bisa masuk arena pertempuran. Tetapi dengan diksi “memahami” itu, orang tadi nampaknya masih harap-harap cemas, apa gerangan maksudnya.

Bagi DPP sendiri, rupanya kata “memahami” itu juga menimbulkan efek tertentu. Sebelumnya kita mendengar kata Idrus bahwa SK akan diserahkan oleh KDM ke RK di Bandung. Katanya, begitulah mekanismenya.

Tetapi, sore ini kita membaca di media online bahwa Novanto akan menyerahkan SK di Jakarta. RK dipanggil. Jadi, tidak melalui ketua DPD Jabar lagi. Padahal KDM sudah menegaskan bahwa ia siap menyerahkan sendiri SK itu kepada RK, sambil mengadakan acara pagelaran dan curah gagasan.

Namun rupanya Novanto mau mengambil alih penyerahan SK itu. Mengapa ia menyalahi prosedur yang katanya disebut mekanisme partai itu? Jangan-jangan karena diksi “memahami” Kang Dedi itu.

Dengan pernyataan politik KDM kemarin, DPP tidak bisa berbuat “apa-apa” kepada KDM. Karena, KDM tetap berada di garis partai. Di sisi lain grassroot partai yakni para pengurus 600 an PK Golkar se-Jabar akan memperkarakan DPP ke mahkamah partai. Mereka solid melawan DPP.

Sementara itu, partai-partai juga menangkap sinyal dari pernyataan Kang Dedi tadi. Ungkapannya “Saya akan mengalir seperti air. Takdir saya ada di tangan Allah. Biar takdir politik yang menentukan” adalah sinyal positif dari Ki Sunda, untuk mereka.

Apalagi sejarah Golkar pernah memperlihatkan JK yang maju sebagai cawapres pada 2004, padahal Golkar resmi mengusung Wiranto sebagai capres. Hasilnya, Wiranto kalah, JK menang. Apakah JK dipecat dari Golkar? Tidak…! Justru JK malah dipilih menjadi ketum.

Nampaknya ini akan terjadi pada KDM. Jika pun benar pada Januari nanti Golkar mengusung si penjegal atau si “pencuri kuda” (meminjam istilah seorang ketua ormas), KDM akan tetap melaju, dengan kuda lain. Dan DPP tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab KDM adalah sosok kader yang loyal.

Menghadapi orang-orang zalim perlu strategi. Politik dilawan dengan politik. Memahami itu tidak sama dengan menerima. Jika orang tua mengambil hak anaknya lalu diberikan kepada anak tetangga dengan alasan yang dibuat-buat, maka si anak boleh jadi memahami alasan orangtuanya, tetapi belum tentu menerima ketidakadilan tersebut. Diam bukan berarti setuju, apalagi banyak tetangga yang bersimpati dan mendukungnya tetap melakulan perjalanan dengan kendaraan berbeda.

Kata “memahami” Kang Dedi tak ayal makin bikin penasaran. Publik masih harus bersabar menanti kejutan dalam sebulan ini. Kang Dedi memang jago bikin orang penasaran…

Sementara para grassroot, relawan, pendukung, pecinta dan simpatisan terus manteng, mengamati keadaan. Selalu siap untuk Kang Dedi..

Tagar #kangdedigubernuraing adalah ekspresi verbal perjuangan. Tagar #uranglemburjadigubernur adalah satu niat yang menyatukan. Kalimat #orangberprestasiharusjadipemimpin adalah kemestian. Dan itu Haji Dedi Mulyadi…

#kamibersamakangdedi

Bandung 8 Nopember 2017

Bagea

Mahya Lengka

Leave a Reply

close