Antara Ksatria dan Pencuri Kuda

FB_IMG_1510297407767

Hari ini istimewa. Tanggal 10 Nopember 2017 jatuh pada hari Jumat, sayyidul ayyam, penghulunya hari-hari.

Apa istimewanya? Ini Hari Pahlawan. Istimewanya jatuh pada hari Jumat. Lebih istimewa lagi karena sekarang sedang ramai membahas sosok ksatria. Dan tema ini lebih mengena karena sekaligus membahas siapa sih sebenarnya seorang Ksatria itu?

Waktu kecil saya akrab dengan kata “jagoan”. Jagoan itu tara eleh, sekalipun seringkali kalah dulu. Harap dicatat, jagoan itu diawali oleh kekalahan bukan apa-apa, melainkan karena selalu dilicikan dari awal.

Siapa yang ngalicikan? Setidaknya ada dua. Pertama, calon lawan yang memang sangat berambisi memenangkan pertarungan dengan segala cara. Cara kotor pun ia akan lakulan demi kemenangan. Termasuk cara agar si jagoan terhalang memasuki arena.

Kedua, pihak ketiga yang tidak suka dengan sosok jagoan. Karena mereka tidak menyukai sosok jagoan, mereka juga berupaya agar si jagoan terseok sebelum makalangan, bahkan hingga tidak ikut sayembara.

Ketika kedua pihak ini bertemu dalam satu titik kepentingan, klop. Sehingga keduanya akan berkolaborasi menjegal si jagoan. Tentu saja menggunakan cara-cara halus dengan memanfaatkan kekuasaan atau apa pun itu.

Apa saja yang bisa menghalangi si jagoan sampai di tempat bertarung, akan mereka lakukan.

Apakah si jagoan atau ksatria itu menyadari trik-trik mereka? Awalnya mungkin tidak berpikir bahwa ada orang-orang yang tega berbuat curang. Ia pikir bahwa semua orang itu baik. Apalagi orang-orang itu mengklaim dirinya sebagai petarung juga. Karenanya Ksatria akan berpikir lurus-lurus saja, tanpa curiga.

Barulah kemudian ia menyadari bahwa di antara manusia ada sebagian orang yang karena gila kuasa sampai hati berbuat cela. Ia juga baru paham bahwa ternyata ada saja orang yang tega mencuri kudanya yang sangat baik ia rawat dan jaga, sekaligus juga andalkan. Barulah ia mengerti bahwa ada seorang pencuri kuda yang rupanya tidak menghendakinya sebagai lawan di medan laga.

Tentunya tidak ada istilah terlambat untuk sebuah perjuangan. Apalagi para penonton juga tahu bagaimana kesaktian dan kepantasan si ksatria ini. Makanya ia harus tetap berjuang hingga meraih tujuan.

Mengamati bahwa ada banyak orang yang bermental pecundang, si ksatria harus paham dan menentukan apa strategi yang akan ia gunakan. Dalam ilmu kungfu ia mengenal tai chi. Yakni menggunakan kekuatan lawan untuk mengalahkannya. Karenanya ia biarkan lawan-lawan itu menyerangnya terus-menerus, sampai terbuka semua kelemahannya.

Yang harus ia pastikan adalah bahwa ia harus tetap kuat menghadapi semua serangan mereka. “Setiap serangan yang tidak membunuhmu, akan menguatkanmu,” begitu pikirnya. Dan yang jelas pula ia harus terus melatih dirinya lebih kuat lagi, karena ia takkan selamanya membiarkan dirinya diserang dan ditendang. Ia harus menghitung itu kapan.

Dan pada saat lawan merasa sudah menang, tertawa terbahak-bahak karena senang, barulah jagoan itu melancarkan jurus-jurus yang sudah ia siapkan. Seorang ksatria perlu juga belajar dari almarhum Muhammad Ali, petinju dunia yang menggabungkan seni dalam bertinju. Ia mengizinkan tubuhnya terkena pukulan. Tetapi sekali ia memukul, telak dan mematikan.

Maka, yang penting dimiliki seseorang itu adalah mentalitas pahlawan, mentalitas seorang ksatria. Silakan berbagai cara kotor dilakukan kepadanya, tetapi seorang ksatria takkan mengendurkan jiwa sinatrianya. Ia tetap fokus pada tujuan. Pada tahap awal, hati dan jiwanya adalah kekuatan yang sangat diandalkan.

Karenanya, “Seorang ksatria takkan menyerah dengan keadaan. Raga dan jiwanya didedikasikan untuk perubahan,” demikian kata Kang Haji Dedi Mulyadi yang pernah bersimpuh salat dan berdoa di Gua Hira, di tempat Nabi Saw menerima wahyu pertama.

Perjalanannya ke gua mulia itu saja ia tempuh dari bawah gunung terjal hingga ke puncak bukit, dengan perjuangan yang tidak semua orang yang berhaji-umrah sanggup melakukannya.

Jika kita pernah berumrah, diduga kebanyakan kita tidak menyempatkan menuju Gua Hira yang terjal. Namun Kang Dedi telah melakukannya saat umrah sebelum Ramadhan lalu.

Kalimat Kang Dedi di atas adalah sinyal keras, bahwa ia seorang ksatria yang pantang mundur. Visi perubahan harus dilandasi semangat seorang ksatria yang takkan mengalah oleh keadaan.

Semangat pantang menyerah inilah yang menjadi spirit para pahlawan, para jagoan, para ksatria. Perjuangan perubahan itu pasti dipenuhi jurang-jurang terjal, bahaya-bahaya yang mengancam. Tetapi itu semua akan dihadapi oleh seorang ksatria, dengan cara yang ksatria pula.

Itulah salah satu pembeda antara seorang ksatria dan si pencuri kuda.

Selamat Hari Pahlawan…!

Bandung, 10 Nopember 2017

Bagea

Mahya Lengka

Leave a Reply

close