Dedi Mulyadi: Lawan Saya Bukan Deddy Mizwar dan Ridwan Kamil

dedi mulyadi terbaru

Seorang pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang menjadi mind setter, bahkan seorang opinion leader. Orang-orang di sekitar boleh saja memiliki jalan pikiran dan kebiasaannya sendiri. Tetapi mereka bisa diubah oleh seorang pemimpin mindsetter yang mengendalikan opini orang.

Itu yang ada pada sosok Dedi Mulyadi.

Siapa sebelumnya yang berpikir bahwa urang lembur bisa memberikan karya kepemimpinan yang luar biasa? Siapa sebelumnya yang meyakini bahwa desa dan budaya bisa dijadikan modal hebat untuk membangun manusia dan peradaban? Siapa sebelumnya yang konsisten berjuang menjadikan desa dan budaya sebagai kekuatan besar yang bisa diwujudkan?

dedi mulyadi terbaru

Ketika banyak pemimpin lebih sering berada di wacana elitis, bangga dengan peradaban dan kebudayaan asing, minder dengan budaya dan nilai sendiri, Kang Dedi tidak. Ia awalnya seperti orang berteriak di hutan belantara, tidak ada yang mendengar dan memperhatikan.

Namun dengan perjuangan dan konsistensinya, juga kekuatan visioner dan cara kerjanya, kini semua orang mengetahui hasilnya. Budaya desa mendunia. Narasi desa makin dibicarakan. Pesona desa membanggakan. Prestasi desa ternyata mencengangkan.

Lihatlah Purwakarta yang semula tidak dikenal oleh masyarakat Indonesia, bahkan oleh masyarakat Jabar sendiri, tetapi kini bahkan sudah diakui dan dikenal dunia. Bukan hanya berbagai destinasi wisatanya saja yang mengundang decak kagum, namun juga filosofi, nilai dan budayanya.

Itulah hasil dari kekuatan mindsetting dan visioner Dedi Mulyadi. Gayanya yang sangat merakyat, berbaur dan bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, tanpa polesan dan pencitraan yang pura-pura, spontan adalah penguatnya yang mengesankan. Daya jelajahnya yang memasuki semua sudut dan pojok desa dan perkampungan Jabar sulit ditandingi oleh banyak pemimpin di Indonesia.

Bahkan untuk konteks Jawa Barat, ia adalah satu-satunya sosok pemimpin yang dirinya ada di mana-mana, paling menjelajah banyak sudut desa. Dari 5600 an desa di Jabar, lebih dari 1000 desa sudah ia kunjungi, sapa dan meninggalkan jejak. Padahal, seorang gubernur dan wakil gubernur Jabar pun tidak melakukan hal demikian seintensif Kang Dedi yang cuma seorang bupati.

Karenanya ia dikenal oleh masyarakat di kampung-kampung dan desa-desa. Jejak dan amal prestasinya dirasakan oleh mereka sekalipun ia baru membantu sebagian saja. Perhatian dan kepeduliannya pada masyarakat bawah sangat terasa dan menjadi ciri khas pembeda. Namanya sudah masuk dalam hati masyarakat kecil yang berharap perhatian, perubahan dan kesejahteraan.

Lalu, dengan semua track recordnya itu, survei telah menempatkannya pada peringkat ketiga. Sosok yang berangkat dari nol, bukan seorang artis dan bintang iklan, bukan pemimpin sebuah kota yang sudah terkenal sebelumnya, dan hanya orang kampung dari sebuah daerah yang tidak dikenal, tetapi namanya justru sangat diperhitungkan. Bahkan ia menjadi sosok pemimpin Jabar yang paling jadi target serangan. Ia malah dijegal dari awal oleh kiri dan kanan, termasuk oleh seorang sosok yang berambisi menjadi calon gubernur.

Sekalipun ia baru menempati posisi ketiga dalam survei, tetapi oleh lawannya justru dianggap paling mengancam. Dan ia santai saja menghadapi manuver yang hendak menjatuhkannya itu.

Dan apa komentarnya menanggapi persaingannya dengan Deddy Mizwar dan Ridwan Kamil yang dalam survei mengunggulinya?

Dengan santai dan optimis Kang Dedi berkata, “Lawan saya bukan Deddy Mizwar dan Ridwan Kamil.”

Malah ia pernah menyatakan dengan rileks, “Biasanya orang yang surveinya nomor satu malah jadinya malahnomor tiga,” katanya.

Lalu, jika Mizwar dan Emil bukan lawannya, siapa dong yang menjadi lawan Kang Dedi?

“Lawan saya adalah diri saya sendiri. Kalau saya malas, kalau saya tidak mau bekerja, itulah lawan saya yang sesungguhnya.”

Inilah tipe seorang pemimpin mindsetter. Dan melihat bukti capaiannya selama ini, publik pun merasakannya. Di kalangan graasroot, sekalipun deklarasi pencalonan masih jauh dilakukan, tetapi para relawan dan masyarakat bawah sudah mulai bergerak secara mandiri dan sukarela.

Karena Ki Sunda sudah masuk lembut dalam hati mereka.

Sampurasun, dangiang Ki Sunda, Siliwangi jaman kiwari.

Bandung, 10 Oktober 2017

Bagea

Mahya Lengka

Leave a Reply

close