25# Kang Dedi, Pemimpin yang Dicintai Hingga ke Hati

dedi dan yudi

Di negeri ini hanya sedikit pemimpin yang dicintai oleh rakyat pecintanya sampai hati, hingga ke lubuk yang paling dalam. Mereka tidak hanya dikagumi, tetapi juga dicintai. Sekalipun tidak sedikit pula yang mencibir atau membencinya, tapi kecintaan para pengagumnya kepada mereka terlihat luar biasa.

Bahwa ada pihak yang tidak menyukai para pemimpin tersebut adalah biasa. Namanya juga manusia, siapa sih yang dicintai seluruh manusia. Namun, yang jelas ketila mereka menerima kecintaan yang luar biasa dari para pecinta juga menunjukkan bagaimana posisi mereka di hati para pecinta.

Saya coba sebut beberapa di bawah ini dalam kacamata sosiologis.

Dulu, Soekarno dicintai rakyat sebegitu rupa. Sehingga dulu cukup dikenal ungkapan di kalangan sebagian pecintanya “pejah gesang nderek Soekarno”, hidup mati ikut Soekarno. Ini adalah ungkapan yang menggambarkan kecintaan mereka kepada pemimpin yang dikagumi. Tidak sembarang pemimpin mendapatkan pembelaan seperti ini dari (sebagian) rakyatnya.

Gus Dur bukan hanya dikagumi pikiran, kesederhanaan dan karomahnya, tetapi juga dicintai begitu dalam. Ketika dulu ia “dijegal” saat Muktamar NU di Cipasung, para pecintanya tumplek di arena muktamar. Ketika ia dilengserkan oleh MPR, para pendukungnya berkumpul di depan pagar istana memastikan kondisi Gus Dur baik-baik saja. Di luar sana, di tempat yang cukup jauh, banyak orang yang siap mati membelanya.

Saat Jokowi dilantik menjadi presiden 2014 yang lalu, jutaan rakyat tumpah ruah di sepanjang jalan dari depan gedung DPR/MPR hingga istana negara. Sesuatu yang belum pernah terjadi pada presiden-presiden sebelumnya. Para relawan Jokowi juga memiliki militansi dan fanatisme tinggi.

Ketika Ahok kalah dalam Pilkada DKI 2017 lalu, puluhan ribu karangan bunga terima kasih dari rakyat pendukungya berjejer memenuhi halaman balkot hingga mencari tempat di halaman Monas. Ini sesuatu yang ganjil: kalah dalam Pilgub justru Ahok mendapatkan apresiasi yang tinggi dari para pecintanya. Cagub yang menang saja tidak mendapatkan apresiasi sebegitu rupa.

Kini, Sabtu 15 Oktober 2017 yang lalu, seorang lelaki berusia 37 tahun rela berjalan kaki dari Cianjur ke Purwakarta hanya untuk bertemu pemimpin yang dikagumi dan dicintainya, Kang Dedi Mulyadi. Luar biasanya, Yudi (lelaki itu) berjalan kaki tanpa alas kaki, selama empat hari tiga malam. Dan ia rela berbekal hanya 1000 rupiah.

Dalam kacamata rasional, apa yang dilakukan Yudi ini aneh, seperti mustahil bisa dilakukan oleh seseorang. Berjalan kaki tanpa alas, menyusuri jalanan raya berbatu, beraspal, di bawah terik matahari atau guyuran hujan selama empat hari tiga malam, dan berbekal seribu rupiah, itu tidak sederhana dan mustahil. Malah ada yang bilang, apakah tindakan itu bukannya menyiksa diri sendiri?

Memang tindakan itu mustahil dilakukan oleh sembarang orang untuk sembarang orang. Tetapi itu bisa dilakukan oleh siapa saja yang memiliki cinta luar biasa kepada sosok yang juga dicintai. Jadi, cintalah yang membuat hal mustahil menjadi mungkin, hal sulit jadi mudah, hal rumit jadi sederhana.

yudi

Apa yang dilakukan Yudi ini jelas menunjukkan kecintaannya pada sosok pemimpin yang ia kagumi dan cintai. Bukan sekadar cinta, tetapi cinta itu masuk hingga ke hatinya. Cinta yang bersumber dari hati yang dalam memang akan memudahkan hal yang sulit.

Ini juga berarti betapa sosok Kang Dedi memiliki makna yang kuat bagi para pecintanya. Dan ini juga bukti bahwa ia bukan saja sosok pemimpin yang dikagumi karena prestasi kerjanya, tetapi juga dicintai dan dibela dengan sukarela.

dedi yudi 2

Ada banyak cerita bagaimana pembelaan dan kecintaan masyarakat bawah terhadap Kang Dedi. Sebelum ini kita juga menyaksikan bagaimana puluhan ribu pendukung mendatangi DPP Golkar di Jakarta tanpa diminta.

Ketika Kang Dedi ke Hongkong, ribuan TKI berkerumun menyambutnya. Setiap acara si mana ada Kang Dedi terjun ke desa-desa, ribuan masyarakat tumplek menyambutnya. Hanya dalam acara jalan santai bersama Kang Dedi saja, di Pangadaran, belasan masyarakat berjalan bareng di belakang Kang Dedi.

Para relawan bermunculan di mana-mana membangun komunitas secara sukarela tidak berharap dibayar atau mendapat upah. Malah mereka rela mengeluarkan uang, waktu dan tenaga untuk ngarojong urang lembur jadi gubernur. Jika saja sekarang Kang Dedi sudah resmi membuka rekening donasi, saya yakin para relawan dengan rela hati menyumbang semampunya, bahkan misalnya hanya 5000 pun.

Tagar #kamibersamakangdedimulyadi juga bukan main-main. Ini sebuah ungkapan yang lahir dari tekad dan kecintaan yang dalam.

Dan semuanya karena kecintaan mereka pada sosok Kang Dedi. Jarang pemimpin yang dicintai rakyatnya sebegitu rupa. Dan kali ini masyarakat Jabar telah memiliki sosok pemimpin yang dicintai rakyatnya hingga masuk ke hati mereka.

Karenanya, saat ini Kang Dedi sudah menjadi milik rakyat banyak. Dan rakyat akan membela dan mengawalnya. Mereka akan mendukungnya dan akan bereaksi jika ada hal-hal yang tidak diharapkan terjadi padanya. Ini semua karena mereka mencintai Kang Dedi hingga ke hati. Karena Kang Dedi juga mencintai mereka dengan hatinya.

Sangat langka pemimpin yang dicintai hingga ke hati. Dan Ki Sunda adalah satu dari yang sedikit itu….

#uranglemburjadigubernur

Sampurasun

Bandung 16 Oktober 2017

Bagea

Mahya Lengka

Leave a Reply

close