24# Pemimpin Itu Harus Original

FB_IMG_1507500358898

Ada kalimat yang menarik saat menyimak salah satu wawancara Kang Dedi Mulyadi bersama sebuah media online. Wawancara ini bisa dilihat di Youtube yang oleh peng-uploadnya diberi judul “Dedi Mulyadi: Lawan Saya Bukan Deddy Mizwar dan Ridwan Kamil.”

Semua isi wawancara menarik dan memberikan wawasan pencerahan, yang mengulas beberapa tema. Seperti tentang 1000 taman di Purwakarta yang fenomenal, konsep pembangunan, pilgub Jabar dan kepemimpinan.

Di antara yang menarik dari wawancara Kang Dedi kali ini adalah pernyataannya saat ditanya pewawancara.

FB_IMG_1507500358898

“Pemimpin itu harus original,” katanya.

Apa maksud dari pemimpin original menurut Ki Sunda ini? Dengan cukup panjang lebar ia menguraikannya, dengan redaksi bilmakna.

“Jika pemimpin memimpin di daerah pesisir, maka ia harus memahami karakter pesisir, memahami potensi pantai, mengerti persoalan dan kebutuhan nelayan, berbaur dan hidup dengan dunia pesisir, serta mengeluarkan kebijakan yang berbasis pesisir.

Jika pemimpin memimpin daerah pegunungan dan desa, ia harus memahami gunung, hutan, persawahan, budaya dan masyarakat desa, hidup dan menyerap nilai-nilai dan budaya desa, serta mengeluarkan kebijakan berbasis pedesaan dan hutan.

Jika pemimpin memimpin daerah industri, ia harus memahami industrialisasi, potensi dan masalahnya, dunia perburuhan, problematika kaum urban dan lainnya.

Jadi, pemimpin itu tidak boleh memisahkan diri dari masyarakatnya. Ia harus hidup dan berbaur menyatu dengan masyarakat dan kehidupan mereka.

Seorang pemimpin jangan hanya diam di kantor, melainkan harus terjun dan hidup bersama rakyatnya. Itulah sebabnya mengapa saya sering berkunjung ke desa-desa di Jawa Barat ini.

Di Jawa Barat ini ada lebih dari 5600 an desa. Dan hingga sekarang sudah lebih dari 1000 desa sudah saya kunjungi, dan akan saya kunjungi lagi desa-desa yang lainnya.

Ada orang yang bertanya kepada saya, apakah saya tidak cape terus-terusan keliling desa. Saya bilang, justru saya akan cape kalau saya diam saja di kantor. Saya justru merasa segar dengan berkunjung ke desa-desa, menemui masyarakat, menyelesaikan masalah mereka, membantu mengangkat hidup mereka.

Ibarat ikan di air, ia tidak cape terus-menerus berenang mengelilingi air. Mengapa? Karena air adalah kehidupannya. Makanya, kenapa saya tidak cape terus-menerus mengunjungi setiap sudut desa dan pojok di Jawa Barat, karena itulah kehidupan saya. Orang tidak akan cape jika yang ia lakukan adalah kehidupan yang ia cintai.”

Begitulah ekspresi dan manifestasi dari kepemimpinan original. Pemimpin yang berasal dari rahim masyarakatnya, tumbuh bersama mereka, memahami mereka, dan bekerja melayani dan mengabdi bagi mereka….

Sarindeuk saigel
Sabobot sapihanean…
Ka cai jadi saleuwi…
Ka darat jadi salebak…

Nu jauh urang deukeutkeun…
Nu deukeut urang layeutkeun…
Nu layeut urang paheutkeun…
Geus paheut urang silih wangikeun….

Sampurasun, Ki Sunda…

Bandung, 9 Oktober 2017

Mahya Lengka

Leave a Reply

close