Pilgub Jabar, Hanya Satu Dedi, Satu Mulyadi

FB_IMG_1504913218367

Hari ini, Selasa 12 September 2017, media online diramaikan oleh berita bahwa Gerindra menarik dukungan untuk Deddy Mizwar, sehingga calon yang akan diusung oleh Gerindra kembali cair.

Di antara alasan yang disampaikan oleh ketua DPD Gerindra Jabar, Mulyadi,  adalah karena tidak ada kemajuan setelah deklarasi dukungan diberikan tanggal 17 Agustus lalu. Syarat agar Demiz menjadi kader Gerindra juga belum dipenuhi. Tambah-tambah, cawagubnya, Ahmad Syaikhu, kabarnya tidak percaya diri maju dalam arena pilgub Jabar, karena merasa tidak dikenal baik; ia ingin berkonsentrasi di kota Bekasi saja.

Singkat cerita, langkah Deddy Mizwar di Jabar nampaknya akan benar-benar berakhir.

Agaknya, alasannya tidak sekadar apa yang disampaikan kepada publik oleh ketua Gerindra tadi. Yang tidak kalah penting (mungkin ini yang utama), adalah karena Demiz tidak mewariskan prestasi yang patut saat sekarang jadi wagub sekalipun. Sejujurnya, sebagai warga Jabar, saya tidak melihat ada yang menonjol dari kerjaan Demiz. Kalau saya ditanya apa yang diingat darinya, saya ingat dua hal: dia bintang iklan (sekalipun jadi wakil gubernur), dan cenderung mengeluh atau kurang bekerja.

Keluhan yang masih diingat publik (setidaknya dalam ingatan saya) adalah saat banjir besar di Garut. Ia meminta masyarakat untuk bersabar dan berdoa. Adapun upayanya sebagai penguasa provinsi yang memiliki kewenangan, kita tidak melihatnya (dan gubernurnya) melakukan hal-hal strategis dan jangka panjang.

Belum lama ia juga mengeluhkan bahwa Jabar kekurangan gedung sekolah, sehingga 170.000 siswa SMP terancam tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMA atau SMK. Saya tidak paham, apakah ini laporan atau keluhan kepada masyarakat. Yang saya tahu, seharusnya seorang gubernur dan wakilnya bertindak mengatasi kondisi tersebut. Belum lagi fakta di Jabar di mana masyarakatnya masih banyak yang tidak memiliki fasilitas MCK di rumah atau tempat tinggal mereka. Sehingga mereka harus nebeng di pancuran umum, atau jembatan, atau kebun dan ladang.

Sepuluh tahun memimpin Jabar, pak Gubernur dan wakilnya belum terdengar melakukan tindakan atau program strategis dan massif untuk mengatasi hal ini. Padahal APBD Jabar sekitar 32 Trilyun.

Jadi, sangat boleh jadi, alasan penarikan dukungan itu, yang tidak kalah penting adalah masalah prestasi yang minim (untuk tidak mengatakan tidak ada). Apalagi sosok Demiz saat ini sudah terbilang generasi tua, sehingga kurang mobile dan tidak adaptatif dengan problematika dan tantangan masyarakat Jabar. Padahal para pesaingnya kemungkinan besar adalah anak-anak muda semuanya.

Intinya, Demiz kemungkinan besar akan out dari ring pertarungan pilgub Jabar 2018.

Pada saat yang sama, ketua Gerindra sendiri nampak sering diwacanakan sebagai cagub juga. Sambil test the water, bolehlah, dan publik menontonnya mesem-mesem saja.

Sekarang, Gerindra malah merapat dengan koalisali PPP dan Demokrat. Ada dugaan kuat, dengan merapatnya Gerindra ke kedua partai tadi, mereka akan memunculkan figur baru. Bukan Ridwan Kamil, bukan Dedi Mulyadi, apalagi Deddy Mizwar. Entah siapa. Tetapi melihat sosoknya, nampaknya Mulyadi Ketua Gerindra Jabar itu berat untuk diusung. Publik belum kenal Mulyadi yang ini. Karenanya, Mulyadi takkan diusung dalam Pilgub Jabar 2018. Ia hanya jadi bagian dari pengusung.

Jika demikian, maka terlihat bahwa Pilgub Jabar yang segera tiba ini takkan menampilkan sosok Deddy Mizwar, apalagi Mulyadi. Sehingga yang kelak akan tampil sebagai cagub itu hanya ada Satu Dedi dan Satu Mulyadi. Yakni Ki Sunda, Dedi Mulyadi.

FB_IMG_1504913218367

Sekalipun ia terus digoyang oleh berbagai manuver, baik oleh kalangan tertentu yang bermain isu SARA maupun oleh seorang figur yang ngebet jadi cagub, namun melihat optimisme dan sikap tawakkal yang ia tunjukkan selama ini, juga pernyatan-pernyataan dari beberapa petinggi DPP Golkar, nampaknya Kang Dedi tetap akan dicalonkan oleh DPP Golkar, berkoalisi dengan PDIP dan Hanura. Sikap PDIP yang santai tidak grasak grusuk, setelah intensif berkomunikasi tentang koalisi Jabar dengan Dedi Mulyadi, adalah sinyal kuat bahwa deklarasi atas Ki Sunda hanya tinggal menunggu saat yang tepat. Bisa jadi ini bagian dari strategi politik juga: contra strategy yang halus, yang hanya dipahami oleh para pemerhati soft politic. Kalau di Cina, ini jurus gerakan Tai Chi: mengalahkan dengan kelembutan. Kalau di India, ini namanya ahimsa, memenangkan perjuangan tanpa kekerasan. Kalau di Sunda, ini namanya jurus Siliwangi: silih asah, silih asih, silih asuh.

Kita akan lihat tidak lama lagi. Pilgub Jabar hanya ada Satu Dedi dan Satu Mulyadi. Yakni, Siliwangi Jaman Kiwari Dedi Mulyadi.

Sampurasun…

Bandung, 12 September 2017

Mahya Lengka

Leave a Reply

close