Melayani adalah Jalan Orang Merdeka

menolong orang (kartun)

Kehidupan ini akan tegak dan berkembang selama di dalamnya ada orang-orang yang rela melakukan pengorbanan atau pengkhidmatan. Sebaliknya, jika sebuah masyarakat hanya diisi oleh orang-orang yang hanya ingin dilayani, tidak ada yang mau berkhidmat dan melayani sesama, maka kebaikan akan dicabut dari mereka dan diganti dengan keburukan dan kesulitan. Allah akan menurunkan rahmat bagi suatu kaum selama mereka saling mencintai dan melayani.

Sungguh, kita semua hidup, karena orang tua kita telah berkorban untuk  kita semua. Anak-anak kita akan hidup lebih baik, jika kita memberikan pengorbanan yang lebih baik bagi mereka. Masyarakat dan lingkungan akan hidup dan berkembang, jika warganya tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, melainkan bersedia berkorban untuk kemaslahatan orang banyak, berbuat untuk lingkungannya, mengerahkan pikiran, tenaga dan hartanya bagi kemaslahatan agama dan lingkungannya.

Dalam bahasa lain, pengorbanan adalah pelayanan, atau khidmah. Al-Quran sering menyebut khidmat dengan istilah jihad, dan dilakukan dengan dua hal, yakni dengan harta dan diri atau jiwa (bi amwaalikum wa anfusikum). Al-Quran selalu menyebut pengorbanan harta sebelum pengorbanan dengan diri atau jiwa. Ini artinya kita diharuskan berkhidmat dengan harta terlebih dahulu sebelum dengan diri atau jiwa.

Banyak di antara kita yang rela mengorbankan diri termasuk tenaga dan pikiran, tetapi berat untuk mengorbankan harta.  Manusia sering mudah berkhidmat dengan pikiran dan tenaga, tetapi sulit untuk berkhidmat dengan harta. Justru mereka malah sering mengorbankan kesehatannya, tubuhnya, pikiran dan tenaganya, bahkan nyawanya sekalipun, untuk mendapatkan harta. Berkorban harta lebih berat daripada berkorban tenaga dan diri. Berkorban dengan pikiran dan tenaga lebih mudah dan ringan dilakukan ketimbang berkorban dengan harta. Seseorang bisa dermawan dalam tenaga, namun bisa kikir dalam harta. Itulah sebabnya Al-Quran mendahulukan jihad dengan harta di atas jihad dengan jiwa atau diri.

Di antara contoh khidmat dengan harta adalah zakat, infak, sedekah, wakaf, dan juga berqurban hewan sembelihan pada hari raya qurban ini.

Apa manfaat berkhidmat dengan harta? Ketika menafsirkan QS Muhammad ayat 36-37, Ibnu Katsir menyebutkan, “Sesungguhnya Allah Swt mengetahui bahwa kalau engkau mengeluarkan hartamu, maka pada saat yang sama engkau mengeluarkan penyakit-penyakit batinmu, seperti kedengkian, ego, iri hati, dan mementingkan diri sendiri. Dengan kebiasaan mengeluarkan harta, maka akan keluar juga kedengkian.”

Para psikoterapis mengetahui ada banyak penyakit gangguan jiwa, seperti kegelisahan, keresahan, dan stres berkepanjangan, yang bermula dari perbuatan kita yang mementingkan diri sendiri, menghendaki orang lain berbuat seperti yang kita kehendaki, dan menginginkan dunia berjalan seperti keinginan kita. Kita menderita jika apa yang kita inginkan tidak terwujud. Yang selalu kita pikirkan adalah keinginan-keinginan ego kita.

Untuk menghilangkan ego, kita harus melakukan sejumlah latihan, riyadhah. Di antara riyadhah itu adalah mengeluarkan harta, berkorban dengan harta benda. Harta adalah sesuatu yang selalu diinginkan oleh kita. Jika kita ingin belajar menaklukkan keinginan-keinginan ego kita, maka belajarlah dengan mengeluarkan harta kita. Jika kita ingin menaikkan kualitas penghambaan kepada Allah, maka berkorbanlah dengan harta benda.

Rasul Saw pernah bercerita tentang orang-orang yang mencapai derajat tinggi. Sekiranya salah satu dari mereka mati, Allah akan menggantikannya dengan orang yang sama dengan mereka. Menurut Nabi Saw, karena orang-orang inilah Allah menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman, menghidupkan dan mematikan, membuat sehat dan sakit. Kalau mereka datang ke suatu tempat, maka Allah akan menyelamatkan tempat itu dari 70 macam bencana. Lalu Rasul bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian bagaimana mereka mencapai derajat setinggi itu? Mereka mencapainya bukan karena banyaknya salat dan haji, melainkan mereka mendapatkannya karena dua hal, yakni al-sakhawah (kedermawanan) dan al-nashihah li al-muslimin (ketulusan bagi orang-orang Islam).”

Kedermawanan dan kesucian hati memang berkaitan. Orang dermawan, hatinya akan bersih. Sebaliknya, orang yang bakhil hatinya akan kotor dan berpenyakit. Orang bakhil adalah orang yang tidak mau berbagi dengan orang lain dan ingin memiliki sesuatu hanya untuk dirinya sendiri.

Kedermawanan, berbagi, bersedekah, berqurban adalah bagian dari pengorbanan dengan harta benda. Dan amat besar pahala bagi para pelakunya. Berbahagialah orang yang mau melayani sesamanya. Berbahagialah orang yang mau berbagi untuk kebaikan sesama. Berbahagialah orang yang telah berkorban dengan harta mereka.

Rasulullah Saw bersabda, “Memenuhi kebutuhan seorang Mukmin lebih Allah cintai daripada melakukan 20 kali haji dan pada setiap hajinya menginfakkan ratusan ribu dirham atau dinar.’

Dalam hadis yang lain beliau bersabda pula, “Jika seorang Mukmin berjalan memenuhi keperluan sesama Muslim, itu lebih baik baginya daripada melakukan 70 kali thawaf di Baitullah.”

Rasul bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba. Di antara hamba-hamba itu ada manusia yang Allah ciptakan untuk melayani keperluan sesama manusia yang lain. Kepada mereka manusia berlindung untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka itulah yang akan memperoleh kedamaian pada hari kiamat nanti.”

Beliau juga bersabda, “Ada orang-orang yang Allah berikan harta kepada mereka agar mereka membagikan harta tersebut kepada hamba-hamba yang lain. Jika mereka tidak membagikannya, maka Allah akan mengambil harta itu dan memindahkannya kepada orang lain yang bisa membagikan harta-Nya kepada sesama manusia.”

Untuk inilah ada sebuah doa bagus yang bisa kita masukkan dalam daftar doa-doa kita, “Ya Allah, jadikanlah aku lelah dalam membagi-bagikan harta-Mu, bukan lelah karena mencari harta-Mu.”

Ada banyak faidah berqurban, atau berkhidmat kepada sesama. Pertama, menaklukkan ego kita. Dengan berqurban dan berkhidmat, kita selalu belajar untuk menghancurkan kecenderungan untuk dilayani orang dan menggantinya dengan melayani orang lain.

Kedua, berqurban dan berkhidmat akan meruntuhkan kesombongan. Orang sombong akan sulit memasuki kerajaan Allah, sebagaimana sulitnya unta memasuki lubang jarum. Dengan mengeluarkan harta, berqurban dan melayani sesama, berarti kita menghancurkan kesombongan yang ada pada kita. Dan ketika kesombongan hilang, maka peluang kita memasuki kerajaan Allah, semakin dekat.

Ketiga, berqurban dan berkhidmat akan mendekatkan seseorang kepada Allah. Setiap amal saleh akan menjadi tiket seseorang untuk mendapatkan rahmat dan keridhaan Tuhan. Setiap kesalihan akan mengundang anugerah dan menolak musibah.

Keempat, dengan berkhidmat kita akan menjadi pribadi yang aktif dan proaktif. Kita akan lebih banyak mencintai, ketimbang dicintai. Kebanyakan orang hanya berharap untuk dicintai, disayangi, dan dilayani, tetapi mereka sering lupa untuk mencintai, menyayangi dan melayani. Padahal, barangsiapa mencintai, ia akan dicintai. Barangsiapa memberi, ia akan menerima. Barangsiapa melayani, ia akan dilayani. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik yang melayani sesamanya, innallaaha yuhibbu al-muhsiniin..

Kelima, berkhidmat akan menyucikan jiwa seseorang. Banyak jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, sebanyak bilangan nafas para pencari Tuhan. Tetapi jalan yang paling mendekatkan diri kepada Allah adalah membahagiakan orang lain, yakni dengan berkhidmat atau melakukan pengorbanan.

Kaum Muslimin dan Muslimat…!

Dalam semangat Idul Qurban ini, marilah kita bersama-sama belajar untuk berqurban, berkhidmat, dan mempersembahkan pengorbanan bagi kebaikan sesama. Tentu kita sangat jauh untuk bisa meneladani para figur luar biasa sepanjang zaman yang telah kita sebutkan di awal khutbah tadi. Namun dengan semangat Idul Adhha, kita bisa mengubah kebiasan kita yang cenderung ingin dilayani menjadi melayani, dari dicintai menjadi mencintai, dari selalu ingin menerima menjadi suka memberi.

Pengorbanan adalah jalan orang-orang merdeka dan perangai orang-orang bajik, al-khidmah sabilul ahraar wa syiimatul abraar..

Semoga orang-orang yang berqurban pada tahun ini, juga pada tahun-tahun yang lalu dan yang akan datang, selalu mendapatkan kemudahan, kelapangan, dan kebaikan di dunia dan akhirat. Dan semoga pula, orang-orang yang telah bekerja keras melayani masyarakat, berkhidmat bagi umat, serta mengorbankan dirinya untuk kebaikan sesama, selalu mendapatkan keberuntungan dunia dan akhirat.  Aaamin ya Rabb al-`aalamiin…***

 

Keterangan:

Khutbah idul adha penulis pada 10 Dzulhijjah 1434, 15 Oktober 2013

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

close