Cagub Jabar Masih Misterius, Bersiap Ada Kejutan

FB_IMG_1504998720296

Hingga tanggal 12 September 2017 ini, siapa-siapa saja sosok yang akan menjadi cagub Jabar 2018 belum juga fixed. Sekalipun sejak beberapa bulan lalu sudah ada wacana yang mengerucut pada tiga nama populer, namun konstelasinya saat ini masih belum pasti. Masih berupa misteri.

Sejauh ini publik memang seperti fokus pada tiga nama, yakni Dedi Mulyadi, Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar. Kendatipun sebelumnya pernah mencuat nama seperti Abdullah Gymnastiar, Uu Ruzhanul Ulum, Dede Yusuf, Dyah Pitaloka, Desy Ratnasari, Bima Arya, Burhanudun Abdullah, Iwa Karniwa dan lainnya, tetapi semuanya seolah tenggelam oleh tiga nama pertama, yakni Ki Sunda Dedi Mulyadi, Naga Bonar Deddy Mizwar, dan Orang Kota Ridwan Kamil.

FB_IMG_1504998720296

Akan tetapi, dengan memperhatikan pergerakan dan manuver politik belakangan ini, baik secara personal maupun kepartaian, sepertinya ketiga nama tadi pun dirundung ketidakpastian. Sekalipun ada partai yang sudah mendeklarasikan, atau merekomendasikan, tetapi belakangan dimentahkan lagi. Publik yang memperhatikan isu pilgub Jabar harus lebih bersabar. Apalagi bagi para pendukung ketiganya, kondisi ini membuat mereka masih berdebar-debar.

Deddy Mizwar awalnya boleh saja lega. Ia wakil gubernur petahana yang seorang artis. Sekalipun diberi amanat menjadi pejabat yang harus berpikir keras bekerja untuk rakyat, tetapi ia masih aktif menjadi bintang iklan. Dan sekalipun publik melihatnya nampak tidak amanat dalam menjalankan tugas sebagai wagub (karena tidak terlihat inisiatif dan prestasinya sebagai wagub malah jadi bintang iklan itu), namun oleh partai pengusungnya (PKS) tetap digadang sebagai cagub Jabar, dipasangkan dengan Ahmad Syaikhu.

Naga Bonar semula boleh saja yakin dengan pencalonannya. Namun pada minggu-minggu ini pencalonannya dimentahkan lagi. Terlihat, pementahan itu bersumber dari Gerindra. Kendatipun katanya Mizwar bersedia menjadi kader Gerindra (asal diusung), tetapi rupanya Gerindra masih mencoba opsi lain. Walaupun Naga Bonar merasa yakin dengan kata-kata Prabowo yang katanya mendukungnya, namun manuver ketua Gerindra Jabar (Mulyadi) membuatnya belum pasti tercalonkan. Apalagi pihak Mulyadi (ketua Gerindra Jabar) justru malah cukup gencar mewacanakan dirinya sebagai cagub.

Bagi Gerindra, pencalonan Mizwar sebenarnya tidak menguntungkan dirinya. Pencalonan Naga Bonar hanya menguntungkan PKS. Kesediaan Mizwar menjadi kader Gerindra dirasakan hanya sebagai “pura-pura” saja, bohong-bohongan. Sebab, terlihat Mizwar lebih seperti orang PKS, apalagi karena kedekatannya dengan Aher yang gubernur kader PKS. Ketika dipasangkan dengan Ahmad Syaikhu yang juga kader PKS, maka Gerindra seolah melihat bahwa ini pasangan yang murni PKS wungkul. Gerindra seolah hanya dimanfaatkan. Karena itulah Gerindra bermanuver. Dan itu artinya Deddy Mizwar pantas untuk deg-degan, dan harus bersiap jika tersingkir dari bursa pilkada Jabar.

Ridwan Kamil boleh saja percaya diri karena merasa elektabilitasnya tinggi. Namun karena komunikasi buruknya dalam berinteraksi dengan partai-partai, juga karena manuver personalnya yang tidak simpatik selama ini, ia juga sama-sama tidak pasti terusung lewat partai.

Sekalipun namanya sudah dideklarasaikan jauh-jauh hari oleh Nasdem sebagai cagub, namun faktanya ternyata sulit ia diusung dengan segera. Bahkan, kendatipun sekarang PKB sudah memutuskan dukungannya kepada Emil lewat surat resmi, tetapi apalah artinya dukungan Nasdem dan PKB jika tidak digenapi oleh partai lain. Syarat dukungan harus 20 kursi DPRD, sementara kedua partai tadi hanya memiliki 12 saja. Masih jauh dari syarat.

Masalahnya, PPP yang semua sangat diharapkan mengusung RK, justru hari-hari ini malah kian serius membangun koalisi dengan Demokrat dan PAN. Makin kuat terbaca bahwa poros ketiga partai ini akan memunculkan sosok lain, bukan RK. Poros ini mungkin akan memunculkan sosok yang tidak terduga-duga, atau di luar figur-figur yang selama ini muncul. Boleh jadi, Gerindra yang tengah galau pun merapat ke poros ini.

Itu artinya, posisi RK masih sangat rawan. Sekalipun ia berusaha mendekati DPP Golkar dan terlihat berusaha menjegal calon andalan Golkar yang juga ketua Golkar Jabar, yakni Dedi Mulyadi, namun justru manuvernya ini melahirkan antipati publik. Ia terlihat sebagai sosok ambisius: hanya karena ingin diusung Golkar ia menjegal kader Golkar dengan memanfaatkan kekuatan Golkar. Yakni dengan wacana pemasangan dirinya dengan Daniel Muttaqin, kader Golkar dari Indramayu.

RK boleh saja merasa berhasil menggoyang Golkar yang sekarang seolah memberinya peluang untuk diusung. Namun manuver tidak simpatiknya ini bisa jadi akan menjadi blunder yang membuatnya gigit jari. Kesimpulannya, hingga hari ini RK masih jauh untuk bisa dicalonkan.

Dedi Mulyadi, ketua umum DPD Golkar Jabar. Seluruh DPC Golkar tingkat kabupaten/kota hingga kecamatan dan desa sudah aklamasi memutuskannya dalam Rapimda untuk menjadi cagub partai ini. DPP Golkar juga sudah mengeluarkan surat rekomendasi pencalonannya sebagai cagub tanggal 1 Agustus lalu. Bahkan ia sudah mantap menjalin koalisi dengan PDIP yang kemungkinan besar mencagubkan dirinya. Posisinya sebenarnya sangat kuat. Namun, dengan manuver Ridwan Kamil yang terbaca publik hendak menjegalnya dari pencalonan dari Golkar ini, di mana RK langsung mem-by pass ke DPP, nasib Ki Sunda yang sangat merakyat ini juga sekarang masih belum pasti. Ketidakpastian itu terutama karena pihak DPP Golkar sendiri yang membuatnya seperti “diganggayong”, diombang-ambingkan.

Dedi Mulyadi yang biasa disebut sebagai Ki Sunda ini masih harus bersabar menghadapi manuver politik berbagai pihak, baik dari sosok yang berambisi ” nyagub”, maupun manuver orang-orang tertentu yang menyebarkan isu-isu SARA. Siliwangi jaman kiwari yang urang lembur ini, masih perlu waktu untuk dipastikan sebagai gubernur Jabar.

Publik masih harus bersabar melihat geliat politik Jabar dalqm hari-hari ke depan. Sebagian partai menyatakan bahwa September ini akan ada kepastian. Tetapi kuat dugaan, kepastian siapa-siapa saja cagub Jabar nanti bisa jadi baru akan diketahui bulan Oktober.

Bisa jadi ada kejutan dalam waktu dekat. Bukan saja berupa kemunculan sosok baru di luar tiga nama di atas. Tetapi malah bisa jadi ada dari mereka bertiga yang tersingkir dari pencalonan.

Kita nantikan saja.

Sampurasun…

Bandung, 12 September 2017

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

close