22# Kamis Welas Asih di Purwakarta, Manifestasi Cinta Rasa Budaya

dedi kemis welas asih1

Jika seorang pemimpin serius menjalankan fungsi dan tugas kepemimpinannya, mencintai pekerjaan pelayanannya, dan benar-benar memikirkan masyarakat yang dipimpinnya, maka yang lahir darinya bukan saja berbagai jenis pengkhidmatan dan pelayanan,

melainkan berbagai kreativitas dan inovasi yang menggerakkan masyarakat untuk mentradisikan kebaikan dan kebajikan.

Inilah yang bisa kita lihat dari manifestasi kepemimpinan Ki Sunda Dedi Mulyadi di Purwakarta. Ada banyak inovasi dan kreativitas pelayanan dan kepemimpinan yang sudah dan akan terus ia wujudkan, pada saat hal itu tidak terpikirkan apalagi dilakukan oleh kebanyakan pemimpin lain.

Inovasi terbaru Dedi Mulyadi yang hari-hari ini ramai diperbincangkan khususnya oleh masyarakat netizen adalah kebijakan dan program yang bertajuk Kemis Poe Welas Asih, atau Kamis Hari Kasih Sayang, yang mulai digulirkan pada hari Kamis 7 September 2017 kemarin.

Program ini merupakan kelanjutan inovatif dari beberapa program sebelumnya, seperti menggerakkan program Beras Perelek, yang akhirnya melahirkan teknologi ATM Beras Premium bagi warga yang tidak mampu, sehingga di Purwakarta tidak ada lagi masyarakat yang tidak mampu yang makan dengan beras kualitas buruk. Siapa pun warganya, sekalipun tergolong tidak mampu, makannya harus berupa beras kualitas premium. Dan visi ini bisa terwujud dengan diawali dengan menjalankan dua kebijakan tadi, yakni program Beras Pelerek yang melibatkan semua masyarakat di Purwakarta dan ATM Beras Premium.

Lalu bagaimana dengan kebijakan Kemis Poe Welas Asih? Kamis Hari Kasih Sayang ini berlaku bagi seluruh masyarakat Purwakarta, dan dilakukan oleh mereka sendiri. Sedangkan pemerintah kabupaten menggerakkan, memasyakatkan, dan meningkatkan kualitas dan kuantitasnya. Dimulai dari para pegawai dan para pelajar sekolah, Kamis 7 September 2017 kemarin, program ini semarak dan memberikan dampak. Rutin seminggu sekali, setiap Kamis.

Dengan program ini, setiap hari Kamis, setiap siswa membawa segelas beras kualitas premium untuk disedekahkan, lalu mengumpulkan dan menghitungnya. Para siswa di setiap kelas dibagi beberapa kelompok, dan setiap kelompok mempunyai Anak Asuh. Dengan beras yang mereka kumpulkan, mereka bertanggung jawab mengasihi Teman Asuhnya itu, yakni dengan memberinya sekian kilogram beras yang dikonsumsi untuk diri dan keluarganya.

Ketika beras berlebih, maka para siswa memberikan beras yang mereka himpun itu kepada masyarakat yang tidak mampu yang ada di sekitar sekolah mereka. Sebelumnya tentu saja mereka melakukan pendataan dan pemetaan. Jadi, setiap kelompok kelas menjadi “orang tua asuh” yang memiliki “anak asuh”, baik dari teman sekelas maupun warga sekitar sekolah.

Saat meresmikan program ini, Kang Dedi langsung memimpin dan memandunya di SMP 5 Purwakarta. Dengan masing-masing siswa menyedekahkan satu gelas beras, secara keseluruhan, sehari itu SMP tersebut berhasil menghimpun sekitar 1 kwintal beras. Ada siswa bernama Saifullah, yang sehari-harinya menyabit rumput untuk memberi makan domba majikannya. Di hari kasih sayang ini, dia mendapatkan 5 kg beras plus 3 ekor domba betina dan 1 domba jantan, agar ia bisa meningkatkan hidupnya. Sementara beras-beras lainnya dibagikan kepada masyarakat tak mampu di sekitar sekolah.

Ada banyak tujuan visioner yang hendak dicapai dari Hari Kasih Sayang yang diadakan setiap Kamis ini. Selain membantu dan mensejahterakan kalangan yang tidak mampu, khusus bagi para siswa, ini menanamkan pendidikan banyak hal. Seperti pendidikan karakter, menerapkan sila kedua Pancasila (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab), menyatukan ucapan dengan tindakan, menerapkan ilmu matematika, mengaplikasikan ilmu biologi, dan lainnya. Dengan menghitung beras yang mereka himpun, mereka mengaplikasikan matematika. Dengan mendata jumlah jiwa dalam keluarga yang dibantu, mereka menentukan berapa kalori yang dibutuhkan oleh keluarga tersebut, dan memastikan berapa jatah beras setiap keluarga, itu berarti mereka belajar ilmu biologi secara aplikatif dan langsung.

dedi kemis welas asih1

Karenanya banyak dampak positif yang lahir dari program luar biasa ini. Bukan saja bagi para siswa dan masyarakat lainnya yang membantu, bukan saja bagi para warga yang tak mampu, tetapi untuk masyarakat secara keseluruhan. Secara sosiologis dan spiritual, masyarakat akan sehat. Secara keagamaan, mereka bisa menjalankan ajaran agama secara langsung dalam tindakan, bukan dalam ceramah, tulisan atau teriakan.

kemis welas asih smp

Inilah yang saya maksud dengan “Mencintai Sesama dengan Cara Budaya” itu. Untuk melayani, membantu dan mensejahterakan masyarakatnya, seorang pemimpin tidak harus mengandalkan APBD. Akan tetapi ia bisa menggerakkan potensi-potensi besar dalam masyarakat dengan mengaktualisasikan nilai-nilai luhur budaya mereka. Sebab, seberapa pun besarnya APBD sebuah pemerintahan, tetap kecil untuk menghasilkan pelayanan berkualitas terbaik bagi masyarakat. Sebaliknya, berapa pun kecilnya APBD, jika pemimpin bisa menggali berbagai potensi dari kekayaan kultural masyarakatnya, ia bisa menghasilkan kuantitas dan kualitas pelayanan yang luar biasa, melebihi pemimpin yang memegang APBD yang sangat besar.

dedi kamis welas asih2

APBD Purwakarta itu kurang lebih 2 trilyun saja. Tetapi Purwakarta berhasil menyelesaikan banyak infrastruktur dan pembangunan yang berdampak besar. Jalan-jalan selesai dibangun pada tahun 2017 ini. Sehingga mulai tahun 2018 setiap desa di Purwakarta memiliki tabungan berupa Dana Investasi Desa dari APBD Purwakarta, di mana setiap desa (total 183 desa) mendapatkan 1 milyar per tahun, dan akan ditingkatkan menjadi 5-10 milyar per tahun, per desa.

Dengan anggaran yang kecil, Purwakarta berhasil membangun banyak taman dengan kualitas dunia sehingga dikunjungi oleh banyak wisatawan tiap hari dan minggu. Ini jelas menarik, di mana Dedi Mulyadi itu bukan lulusan teknik atau arsitek, ia hanya lulusan sekolah hukum (bergelar SH), tetapi taman-taman yang ia bangun mengalahkan taman yang dibangun oleh pemimpin berlatarbelakang akademis arsitektur. Ia pernah ditanya tentang ini. Apa jawabnya? “Jika kita belajar dari alam sekitar, mengamati dan mencermati, belajar dari capaian budaya dan teknologi para leluhur dulu yang luar biasa, maka kita bisa menghasilkan hal-hal yang juga luar biasa,” demikian kira-kira jawabannya.

Jadi, membangun dengan cara budaya itu bukan saja akan memudahkan pekerjaan pembangunan, tetapi juga akan mampu mengakselerasi dan mengeskalasi pembangunan besar bagi masyarakat. Masyarakat terlibat, pembangunan hebat, kesejahteraan meningkat. Umat akan tumbuh sehat dan kuat.

Publik kini makin yakin dengan konsep membangun cara budaya ini, karena sudah ada buktinya, yang diperjuangkan dan diwujudkan oleh Dedi Mulyadi di Purwakarta dengan manifestasi yang nyata.

Namun, membangun dengan cara budaya ini tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang mencintai pelayanan dan menghargai budayanya sendiri. Visi, nilai dan karakter pemimpin jelas menjadi unsur paling penting untuk mewujudkannya.

Sebab, sekalipun misalnya ada seorang pejabat tertinggi di tingkat provinsi yang berasal dari kalangan seniman, namun ketika ia tidak memiliki visi dan karakter kepemimpinan budaya tadi, maka ia tidak bisa menghasilkan kualitas kepemimpinan dan pelayanan yang seharusnya, meskipun ia sudah memimpin selama lima tahun. Yang publik baca dan lihat, justru sosok seperti ini malah mengeluh seperti ini, “Jabar kekurangan jumlah kelas. Sekitar 170.000 siswa SMP terancam tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMA/SMK.” Ini khan sama dengan mengarahkan telunjuk ke orang-orang, padahal dialah yang bertanggungjawab dan berwenang.

Sekalipun provinsi Jabar memiliki APBD sekitar 33 trilyun, tetapi karena lemahnya visi dan karakter pemimpinnya, masalah kekurangan jumlah kelas atau problem sosial berupa banyaknya warga Jabar yang tidak memiliki fasilitas MCK di rumahnya saja, tidak bisa diatasi, meskipum sudah 5-10 tahun memimpin. Apalagi, sudah tahu Jabar masih memiliki masalah besar dan strategis yang harus disolusi dengan baik, namun justru pemimpim yang tidak visioner ini masih sempat menjadi bintang iklan. Dalam kacamata teologis, ini sebenarnya bisa dianggap “mengabaikan amanat rakyat dan umat”.

Akan tetapi, terlepas dari itu semua, masyarakat kini memiliki bukti nyata tentang kepemimpinan berbasis kearifan lokal, memimpin efektif dengan cara budaya. Dedi Mulyadi di Purwakarta telah membuktikannya. Kemis Poe Welas Asih adalah satu contoh yang sangat kasat mata.

Inilah pula wujud sosial dari tindakan mencintai sesama dengan cara budaya, tanpa memandang keragaman SARA dan membedakan kasta…

Ini inspirasi baru dalam kepemimpinan dan pelayanan, di bulan ini.***

Bandung, 8 September 2017

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

close