21# Di Bandung, Tukang Fotokopi Mengidolakan Kang Dedi

dedi cetok nini

Saya memiliki langganan tempat fotokopi di Cibiru Bandung, sejak kuliah dulu hingga sekarang. Pemiliknya, sebut saja Mas Didi, rendah hati dan mudah akrab. Ia memiliki dua karyawan. Anak isterinya juga sering datang membantu atau sekadar menunggu.

Pertengahan Agustus kemarin saya memotokopi buku ke sini. Sambil menanti buku selesai difotokopi, saya membaca koran lokal yang biasa dibeli Mas Didi. Di halaman depan paling atas, saya membaca judul berita tentang Dedi Mulyadi. “Wah, Dedi Mulyadi jadi headline di koran ya,” kata saya asal bersuara, sambil meneruskan membaca koran.

Dikira, kata-kata saya tadi tidak disimak. Ternyata, Mas Didi yang semula sibuk dengan kerjaan, berhenti, mendekati saya dan mengomentari Dedi Mulyadi, kurang lebih begini.

“Dia bagus. Hasil kerjaanya nyata dan hebat. Ia perhatian kepada orang kecil. Saat ini, sosok yang sedang ramai dibicarakan orang-orang ya dia. Dulu ia membantu nenek-nenek di Garut yang diadukan ke pengadilan oleh anak-menantunya.”

“Oh Mas sudah tahu Kang Dedi juga, sampai bercerita tentang kasus Nenek Rokayah dari Garut yang dibantu diselesaikan Kang Dedi?” tanya saya.

“Ya, sudah tahu,” jawabnya. “Dia bikin Taman Air Mancur yang bagus dan terbesar di Asia Tenggara. Bikin banyak taman dan tempat wisata. Taman yang dibikin di Bandung mah kalah sama taman yang ada di Purwakarta.”

Ternyata Mas Didi ini memiliki banyak info juga tentang sosok bupati Purwakarta. Mungkin karena ia berlangganan beli koran, jadi sebagian informasi itu ia dapatkan dari bacaan korannya.

Saya juga menimpalinya dengan menyebut bahwa pada tanggal 21 April 2017 yang lalu, Kang Dedi datang ke sebuah tempat yang tidak jauh dari fotokopi Mas Didi, untuk meresmikan Toko Pakaian, milik seorang ibu yang ia bantu. Awalnya ibu ini berjualan tisue di sekitar masjid Istiqomah, dan ia memiliki seorang anak yang memiliki masalah dengan tulangnya: jika bergerak, tulangnya patah.

Nah, Kang Dedi waktu itu datang menemui ibu tersebut, membantu menyewakan tempat untuk dia berjualan pakaian. Modal usaha pakaian pun Kang Dedi yang sediakan. Bahkan, Kang Dedi menjadi pembeli pertama dengan memborong pakaian si ibu ini seharga 2 juta tapi pakaiannya diambil oleh warga yang hadir dalam acara peresmian.

Oleh Kang Dedi, ibu ini disebut sebagai Kartini Masa Kini. Peresmian pada tanggal 21 April bertepatan dengan Hari Kartini. Tentang cerita ini rupanya Mas Didi belum tahu, padahal lokasinya dekat dari tempat fotokopinya.

“Oh gitu? Dia memang perhatian sama orang kecil, suka membantu,” balasnya.

Mas Didi ini senang kalau berurusan dengan hitung-hitung, maklum pelaku usaha. Ketika saya cerita tentang program Dana Investasi Desa untuk 183 desa yang diprogram oleh Kang Dedi di Purwakarta (per desa mendapatkan 1 milyar dan kelak 5-10 milyar per tahun), dia juga surprised dan mengapreasiasi sambil menghitung peluang ekonomi bagi desa-desa tersebut.

“Di Purwakarta mah enak. Kepala desa digaji besar. Ketua RW juga digaji. UMR Purwakarta juga besar, lebih besar dari UMR Bandung. Hanya beda dikit dari Bekasi, tiga jutaan lebih,” komentarnya.

Dan lain-lain. Singkat cerita, Si Mas ini mempunyai banyak cerita tentang Kang Dedi. Sehingga saya dan dia berbagi cerita tentang Ki Sunda ini.

Obrolan kami ternyata disimak juga oleh dua karyawannya. Malah, seorang dari keduanya, yang paling muda (sebut saja namanya Tatang) turut berkomentar, “Dulu orang-orang membicarakan Ridwan Kamil. Sekarang pembicaraan mereka ganti. Kini mereka banyak membicarakan Dedi Mulyadi. Bagus sih program dan hasilnya. Kalau walikota Bandung, yang jadi prestasinya yang menonjol adalah memperbaiki trotoar dan bikin taman. Tetapi taman-taman yang ia buat masih kalah jauh oleh taman-taman yang dibikin Dedi Mulyadi di Purwakarta,” ceritanya agak panjang.

Begitulah, obrolan di tempat fotokopi. Tentu saja banyak cerita lain yang diobrolkan. Termasuk juga mengomentari sedikit tentang sosok lain yang namanya mirip dengan Dedi Mulyadi. Orang ini sekarang jadi pejabat penting tapi tetap nyambi jadi bintang iklan. Obrolan pun berakhir. Saya pulang.

dedi cetok nini

Beberapa hari kemudian saya kembali lagi ke sini, untuk memfotokopi buletin masjid. Baru juga menyimpan kertas di atas etalase fotokopi, Mas Didi langsung menyodori saya buku berjudul “Spirit Budaya.”

“Apa nih Mas?”

“Ini buku tentang Dedi Mulyadi. Banyak dosen di sini yang motokopi buku ini. Saya ingat ke bapak, makanya saya fotokopi lebih untuk bapak,” jawabnya.

“Oh gitu? Di sini banyak dosen yang mencari buku tentang Dedi? Berarti Dedi juga menarik kalangan kampus perguruan tinggi ya…? Oke deh. Makasi ya,” jawab saya.

“Baik Mas, berapa harga bukunya. Saya bayar sekalian dengan fotokopian tadi. Nuhun nya infona,” ujar saya ketika semuanya sudah selesai.

Rupanya di Bandung ada fenomena baru belakangan ini, tentang sosok dan figur yang sedang dinantikan. Bahkan seorang tukang fotokopi pun membicarakan dan berharap pada sosok ini, Dedi Mulyadi.

Sekarang nampaknya nama Kang Dedi sudah banyak dikenal dengan kesan positif di mata masyarakat, termasuk masyarakat Bandung. Dan kesan yang saya tangkap dari mereka cukup dua saja, yakni: (1) prestasi kerjanya bagus dan (2) perhatian sama rakyat kecil. Dua kesan ini yang menonjol. Kesan-kesan lainnya sebagian adalah turunan dari dua hal di atas. Dan di kalangan masyakarat umum, dua kesan ini sudah cukup make sense dan mengesankan…

Nulung kanu butuh
Nalang kanu susah
Nganteur kanu sieun
Nyaangan kanu poekeun….

Inilah ciri khas dan karakter menonjol Ki Sunda Dedi Mulyadi…

Agar Jabar Nanjeur, ya Jabar Sajati…

Sampurasun…

Bandung, 7 September 2017

Mahya Lengka

 

Leave a Reply

close