20# Kang Dedi dan Empat Cara Memahami Sunda

dedi dan surawisesa

Terutama di kalangan masyarakat Jawa Barat, tema Sunda kembali mencuat kuat. Dalam obrolan-obrolan ringan dulu memang kerap dibahas terbatas. Namun kini sepertinya tema Sunda makin luas dibahas.

Apalagi setelah narasi budaya Sunda yang terus disosialisaikan oleh Dedi Mulyadi dalam berbagai kebijakan dan terobosannya, hingga salam sampurasun ia gemakan di atas podium PBB di New York, Sunda makin sering diperbincangkan. Berbagai festival budaya Sunda tingkat nasional hingga tingkat dunia yang diadakan di Purwakarta atau luar negeri dalam beberapa tahun belakangan membuat Sunda kian dikenal dan familiar di mancanagara, juga kian membuka wacana untuk diulas lebih bernas.

Terlebih, belakangan sedang ramai kasus tanah adat Sunda Wiwitan di Cigugur Kuningan, tidak sedikit kalangan yang mencoba membuka-buka referensi, membaca, meneliti dan menuliskan tema ini, Sunda. Sunda kembali menjadi objek bahasan dan penelitian yang menarik dibincangkan, dengan berbagai perspektif dan beragam objek bahasan.

Tidak bisa tidak, momentum ini menjadi kesempatan untuk memahami Sunda lebih dalam. Baik bagi kalangan masyarakat Sunda sendiri, maupun kalangan umum yang interested mengenai kesundaan.

Berdasarkan bahasan dan ulasan yang berkembang, termasuk dalam obrolan saya dengan beberapa teman kuliahan dulu di fakultas Ushuludin, setidaknya ada empat wacana, cara dan pendekatan untuk memahami Sunda. Saya akan coba menggambarkannya dalam tulisan singkat ini. Dan sebelumnya mohon maaf bila ada kesalahan atau kekeliruan.

Pertama, Sunda secara geografis. Dulu, saat belajar ilmu geografi, kita mengenal Indonesia atau Nusantara terdiri dari Sunda Besar dan Sunda Kecil. Sunda Besar adalah gugusan pulau besar yang mencakup pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Sedangkan Sunda Kecil adalah gugusan pulau kecil mencakup Nusa Tenggara (barat dan timur), kepulauan Maluku, dan pulau-pulau lainnya.

Dengan pembagian ini, dulu Nusantara disebut dengan Negeri Sunda (Sunda Land, atau Shunda Land). Untuk maksud yang sama, orang asing ada yang menyebutnya Sunte atau Sunde, atau Sonde. Jadi pada masa dulu, semua orang di Nusantara adalah orang Sunda, dan tidak dikenal adanya etnis-etnis. Sunda adalah Nusantara, dan Nusantara adalah Sunda. Semua orang di dalamnya adalah warga Sunda. Jadi, pada masa lalu, masyarakat manusia yang ada di kepulauan Nusantara ini adalah masyarakat Sunda.

Itu dulu. Dulu sekali. Dan beriringnya waktu, kini secara geografis, apa yang disebut daerah Sunda itu mengerucut pada wilayah Jawa bagian barat dan sekitarnya. Karena itu pula wilayah ini biasa juga disebut daerah Pasundan atau Parahyangan.

Kedua, Sunda sebagai etnis. Ini Sunda secara antropologis. Seiring dengan hilangnya penyebutan Negeri Sunda untuk Nusantara, di kawasan Nusantara muncul banyak etnis, suku. Di setiap pulau bisa terdapat satu atau beberapa suku. Salah satu etnis itu adalah masyakarat yang tinggal di Jawa bagian Barat dan sekitarnya, yakni etnis Sunda. Sunda sebagai nama negeri sudah lama tak terdengar. Yang ada sekarang adalah nama sebuah etnis, yakni suku Sunda yang mayoritas tinggal di Jawa Barat dan sekitarnya. Plus nama sebuah selat antara pulau Jawa dengan Sumatera, dengan nama Selat Sunda.

Jadi, secara antropologis ada masyarakat etnis Sunda yang secara geografis tinggal di wilayah Jawa bagian barat dan sekitarnya.

Saya belum tahu apa awalnya etnis ini menjadi satu-satunya etnis yang namanya diambil dari nama negeri mereka dulu, yakni Sundaland, sedangkan etnis-etnis lainnya tidak. Sekalipun masyarakat etnis Sunda tersebar di luar Jabar, bahkan berdiaspora hingga ke mancanegara, namun kawasan yang ditinggali oleh mayoritas etnis Sunda adalah Jawa Barat.

Seperti kata Dedi Mulyadi (Ki Sunda dari Purwakarta), ada empat tipologi Sunda di Jawa Barat. Saya menambahkan satu lagi di Banten karena sekarang sudah dimekarkan. Yakni, Sunda Cirebon, Sunda Kidul (selatan), Sunda Tengah, Sunda Betawi, dan Sunda Banten. Totalnya lima. Sekalipun sama-sama Sunda, tetapi masing-masing memiliki ciri khas berbeda, baik dari budaya, bahasa, kesenian, dan lainnya (sekalipun juga banyak kesamaannya). Para peminat kajian tema ini dipersilakan meneliti dan menuliskannya.

Ketiga, Sunda sebagai jalan kehidupan, atau sebagian orang menyebutnya Agama Sunda, atau lebih sering disebut dengan Sunda Wiwitan (SW). Ini adalah Sunda sebagai sebuah keyakinan. Ini tema Sunda secara teologis.

Sudah cukup banyak kajian yang dipublikasikan bahwa Agama Sunda atau SW adalah agama yang monoteis, tauhid. Penganutnya menyebut Tuhan mereka dengan Sang Hyang Keresa atau Sang Hyang Tunggal. Keyakinan Sunda sudah hidup dan berkembang sangat lama, setidaknya saat berdirinya kerajaan Salakanagara pada tahun 100 an Masehi. Menurut sebagian, bahkan lebih lama lagi dari masa tersebut.

Masyarakat pada masa Kerajaan Salakanagara (daerah Pandeglang Banten) dan Tarumanagara (tahun 400 M) (sekitar daerah Bekasi sekarang), oleh para peneliti Sunda diyakini menganut Agama Sunda yang monoteis ini. Begitu juga masyarakat Sunda pada masa kerajaan Galuh (Kawali Ciamis) yang semasa dengan Kerajaan Majapahit (Wilwatikta) di Jawa Timur.

Bahkan berikutnya, masyarakat Sunda pada masa Kerajaan Pajajaran (di daerah Bogor sekarang) pun disebut sebagai penganut Keyakinan Sunda ini. Hanya saja, khusus berkenaan dengan rajanya yang terkenal dan legendaris, yakni Sri Baduga Maharaja Siliwangi, selain ada yang menyebutnya menganut Keyakinan Sunda, ada juga peneliti sejarah yang menyimpulkannya Muslim. Di antara alasannya adalah karena Siliwangi (Raden Jaya Dewata) menikah dengan seorang Muslimah Nyi Subang Larang, santriwati dari Syekh Quro. Apalagi kemudian keduanya melahirkan Kian Santang dan Rara Santang yang Muslim, bahkan kelak keturunannya, Sunan Gunung Djati, menjadi satu dari Walisongo yang mendakwahkan Islam di daerah Jawa Barat.

Terlepas dari apa keyakinan Sri Baduga Siliwangi, saat ini, sebagian masyarakat Sunda di Jawa Barat ada yang menganut keyakinan Sunda ini. Misalnya, disebutkan, seperti masyarakat Sunda Kanekes Banten, Cigugur Kuningan, dan lainnya. Sekalipun mungkin secara teologis sudah masuk pengaruh-pengaruh dari yang lainnya, tetapi secara sosiologis barangkali mereka masih menjadi entitas tersendiri yang khas. Penelitian tentang hal ini kiranya cukup menarik bagi sebagian peneliti dan pengkaji. Jumlah kalangan Sunda teologis ini sedikit saja di kalangan etnis Sunda saat ini, karena mayoritas etnis Sunda adalah Muslim.

Keempat, Sunda sebagai cara pandang kebudayaan. Ini tema Sunda secara kultural sosiologis. Sebagai masyarakat yang tertua menempati daerah Parahyangan yang indah ini, tentu saja di sini ada banyak nilai-nilai dan ajaran-ajaran budaya yang hidup dan tumbuh, sebagai hasil cipta karsa manusia yang berinteraksi dengan lingkungannya. Baik menyangkut diri, sesama manusia, sesama makhluk hidup, alam sekitar (alam bawah, alam atas, alam lahir, dan alam batin), juga dengan Tuhan. Itu semua menghasilkan cara pandang, cara hidup, cara berekspresi, cara mengelola dan cara membangun lingkungan.

Harap dicatat, bahwa orang-orang yang tertarik dengan nilai-nilai budaya Sunda ini bukan berarti mereka sebagai penganut Agama Sunda. Dari kalangan penganut Sunda tentu saja ada, karena itulah warisan yang mereka pegang. Namun dari kalangan lain juga lebih banyak lagi.

Oleh sebab itu, ketika saat ini ada kesadaran dari masyarakat Jawa Barat (Sunda) untuk menghidupkan dan mengaktualisasikan nilai-nilai kultural Sunda, itu bukan dalam tataran keyakinan Sunda, melainkan dalam tataran budaya tadi, atau biasa disebut dengan kearifan lokal. Jadi, bukan menyangkut aspek teologis, melainkan kultural sosiologis.

Di sinilah barangkali perlu dipisahkan dengan tegas antara Sunda sebagai keyakinan dengan Sunda sebagai nilai-nilai kebudayaan. Akhir-akhir ini ada upaya dari kalangan tertentu (terutama karena alasan politis) yang berusaha mencampurkan dua hal tadi, menggoreng isu SARA untuk tujuan politis.

Bagi kalangan Muslim pecinta Sunda kultural, kesadaran untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Sunda itu bukan berarti dengan menjadi penganut keyakinan Sunda, apalagi untuk menyebarkannya. Melainkan untuk menghidupkan nilai-nilai kearifan lokal Sunda yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan prinsip Islam. Bahkan antara kesundaan dan keislaman itu bukan saja tidak bertentangan, tetapi merupakan satu kesatuan.

Karena itu, memahami Sunda tidak bisa dicampuradukkan. Mesti dilihat dalam wacana apa bahasan sedang diperbincangkan. Barangkali, empat wacana, cara dan pendekatan yang digambarkan sekilas dalam tulisan ini bisa membantu semua kalangan yang tertarik membicarakan dan memahami Sunda. Yakni, pendekatan geografis, antropologis, teologis dan sosiologis. Pembedaan keempatnya penting ditegaskan agar mendapatkan pemahaman yang benar dan proporsional.

Karenanya, tuduhan bahwa Haji Dedi Mulyadi (yang kakinya sempat menapaktilasi dan bersimpuh salat di Gua Hira tempat Nabi Saw menerima wahyu pertama) itu Sunda Wiwitan, apalagi sampai tuduhan musyrik, hanyalah ungkapan politis, bukan akademis apalagi teologis. Itu bagian dari fitnah dan hoaks yang diproduksi untuk kepentingan politis semata.

Sampurasun.

Bandung 5 September 2017

Ashoff Murtadha
(Mahya Lengka)

Leave a Reply

close