19# Ketika Sopir Angkot di Bandung Membicarakan Dedi Mulyadi

dedi mulyadi dan sopir angkot

Lagi-lagi di luar dugaan, dan surprised. Dikira, sopir angkot mah tidak suka membicarakan figur-figur politik, apalagi bukan figur politik nasional. Kalau figur politik nasional, okelah, mereka mengenali dan membicarakannya. Karena, seorang figur politik nasional –apalagi seorang presiden atau capres—pasti dikenal oleh semua orang dari berbagai lapisan, di daerah mana saja.

Sebab, seorang figur nasional pasti cakupan eksposnya luas ke seluruh negeri, dan semua kalangan. Termasuk sopir angkot, apalagi di daerah perkotaan.

Namun, jika seorang sopir angkot di sebuah kota, lalu dia terus membicarakan secara positif seorang bupati dari kabupaten lain yang mungkin belum pernah ia temui, ini jelas fakta menarik. Apalagi selama obrolan hampir satu jam itu ia banyak menyebut nama dan membicarakan kebijakan si bupati itu, ketimbang walikotanya sendiri.

Pada tanggal 25 Agustus kemarin, sepulang mengisi workshop bahasa di sebuah perguruan tinggi di Cirebon, saya pulang ke Bandung dengan menumpang mobil travel melalui tol Cipali, dan berhenti di Pasteur sekitar pukul 20.00 malam. Di Pasteur saya berpindah mobil, naik mobil jurusan Ciroyom-Cicaheum. Trayek angkutan ini ada wilayah kota Bandung. Selain saya ada sekitar tiga penumpang lain yang sama-sama mengendarai angkot ini. Salah satu penumpang ada di jok depan, di samping sopir angkot. Dari obrolannya, sepertinya penumpang itu adalah temannya pak sopir. Saya sendiri duduk di kursi paling belakang.

Begitu duduk, terdengar sopir sedang berbicara dengan temannya. Ia menyebut-nyebut nama Dedi Mulyadi. Saya coba simak pembicaraannya. Tidak semuanya jelas. Hanya saja ada kalimat yang saya tangkap, kurang lebih sopir itu berkata begini, “Dedi Mulyadi alus (bagus). Perhatian ke rakyat kecil.”

Tidak begitu lama, para penumpang di jok belakang sudah turun semuanya. Tinggal saya sendirian. Saya pindah duduk, mendekat persis di belakang sopir, sambil membayar ongkos. Dalam kondisi jalanan macet, sopir menceritakan (baca: mengeluhkan) kondisi perangkotan di Bandung, kurang lebih begini: “Unit mobil trayek berjumlah banyak, sementara para penumpang sedikit dan makin berkurang. Sudah begitu, ada angkutan mobil yang menggunakan aplikasi. Jumlah mereka di Bandung banyak. Jadi, nasib kami makin sulit. Kami para angkot memberi pemasukan kepada pemerintah, tetapi kami merasa kurang diperhatikan. Yang bagus mah Gubernur Purwakarta Pak Dedi Mulyadi. Ia melarang mobil berbasis aplikasi beroperasi di Purwakarta, sehingga angkot dilindungi.”

Pak sopir ini menyebut Dedi Mulyadi dengan Gubernur Purwakarta. Saya memberitahunya bahwa posisi Dedi Mulyadi sekarang bukan Gubernur Purwakarta, tetapi Bupati Purwakarta. Purwakarta itu kabupaten. Pemimpinnya disebut bupati, bukan gubernur. Kalau pemimpin Jawa Barat, baru namanya gubernur. Mungkin ia tidak ngeh dengan perbedaan keduanya, atau mungkin juga karena ia sedang berharap besar agar Kang Dedi menjadi gubernurnya juga suatu hari nanti.

Setelah mendengar cerita atau keluhannya, saya mencoba berbagi informasi dengannya, setahu saya tentu saja. Saya bertanya, “Iya gitu pak, Kang Dedi melarang mobil berbasis aplikasi di Purwakarta?” “Iya,” jawabnya mantap. Saya tidak tahu persis bagaimana kenyataannya. Namun begitulah informasi yang diyakini pak sopir angkot Bandung ini.

“Tentang mobil aplikasi di Purwakarta saya tidak tahu. Tetapi saya pernah membaca bahwa Kang Dedi memiliki aturan tentang Gojek. Kalau tidak salah, sebelum beroperasi di Purwakarta, pihak Gojek harus mendata dulu para ojeg pangkalan, dan menjadikan mereka sebagai sopir Gojek. Jadi, biar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari, Gojek masuk ke Purwakarta harus dengan merangkul opang (ojeg pangkalan) dan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Jika prosedur ini tidak dipenuhi, maka Kang Dedi akan melarang Gojek beroperasi di Purwakarta.

“Tadi pagi, Jumat 25 Agustus 2017,” saya meneruskan cerita, “Saya melihat beberapa menit akun Facebook Kang Dedi Mulyadi yang melakukan Operasi Kebahagiaan bagi para sopir angkot di Purwakarta. Operasi ini dilakukan langsung oleh Kang Dedi bersama pihak Dishub dan Kepolisian. Operasi Bahagia ini dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Purwakarta. Sekitar tiga puluh angkot terkena “tilang”.

Tetapi, karena ini namanya Operasi Bahagia, maka para sopir angkot yang ditilang itu mendapatkan hadiah, yakni diberi uang setoran harian, perpanjangan SIM-STNK dan KIR secara gratis. Dan ini bukan yang pertama Kang Dedi memberi hadiah untuk para sopir angkot. Pada setiap peringatan Hari Jadi Purwakarta, setahu saya, para sopir angkot di sana termasuk yang mendapatkan hadiah dari Kang Dedi.”

“Wah, enak atuh begitu mah. Ditilang malah dapat hadiah, diberi uang setoran dan perpanjangan surat-surat secara gratis, langsung di tempat lagi. Enak ya di sana.”

Saya tidak tahu dari mana Pak Sopir ini pertama kali mengenal nama Kang Dedi. Kalau dari media online, rasa-rasanya gestur dia tidak terlihat aktif dalam internet. Hanya saja saya ingat dulu akhir Ramadhan 1438 (Juni 2017) yang lalu, kalau tidak salah tanggal 28 Ramadhan, Kang Dedi pernah berkunjung ke terminal Cicaheum dan naik bis pada sore hari, berdialog dengan para penumpang, sebelum pada malam harinya ia mengisi acara Safari Ramadhan di Arcamanik Bandung.

Terus, usai menghadiri acara di Pesantren Cigondewah pimpinan KH Sofyan Yahya dan dihadiri oleh KH Ma`ruf Amin, Kang Dedi juga berkunjung ke terminal Gegerkalong, dan berdialog cukup lama dengan para sopir di terminal tersebut. Nah, saya menduga, di kalangan para sopir di Bandung, nama Kang Dedi sudah sangat dikenal secara positif, melalui berita dari mulut ke mulut. Jadi, sekalipun para sopir tidak aktif bermedsos, mereka mengenalnya cukup baik.

Karenanya, mengapa sopir angkot di Pasteur tersebut banyak menyebut-nyebut nama Dedi Mulyadi, mungkin karena di kalangan para sopir nama Kang Dedi sudah sangat familiar. Malah, dari obrolannya itu saya menangkap ada harapan besar mereka dari sosok Dedi Mulyadi.

Kang Dedi memang “hanya” seorang bupati Purwakarta. Tetapi masyarakat di berbagai daerah dan berbagai kalangan sudah sangat mengenalnya, bahkan dengan pengharapan. Termasuk masyarakat Bandung. Dari obrolan sopir angkot tadi, malah sopir itu lebih mengharapkan sosok Dedi Mulyadi ketimbang sosok lainnya, sekalipun sosok lain itu sekarang menjadi walikotanya atau wakil gubernurnya.

Jadi, Kang Dedi bukan hanya dikenal dengan baik, malah makin masuk ke dalam hati masyarakat. Bukan hanya di kalangan seniman atau budayawan. Bukan hanya di kalangan para guru dan petani. Bukan hanya di kalangan ibu-ibu dan para gadis. Bukan hanya di kalangan tukang urut. Tetapi juga di kalangan para sopir.

Dan nampaknya sekarang ini, pengenalan mereka sudah memasuki tahap mencintai, sehingga mereka tumbuh menjadi fans yang fanatik, kepada Ki Sunda Dedi Mulyadi.

Sampurasun…

Bandung, 2 September 2017
Mahya Lengka
(Ashoff Murtadha)

Leave a Reply

close