18# Kang Dedi di Mata Tukang Urut di Bandung

dedi dan petani d sawah

Popularitas namanya boleh saja menempati posisi ketiga menurut lembaga survei beberapa bulan yang lalu. Tetapi jangan salah, nama Dedi Mulyadi makin sering diperbincangkan orang-orang dari berbagai kalangan. Bukan hanya dari kalangan orang yang menyukai berita-berita politik dan nasional. Tetapi juga dari kalangan masyarakat kecil yang sehari-harinya tidak akrab dengan berita-berita online.

Bahkan, di kalangan masyarakat kecil, nama Kang Dedi bukan saja sering disebut-sebut, bahkan sudah menjadi sebuah harapan baru dalam kepemimpinan.

Saya memiliki beberapa pengalaman langsung, yang terjadi tanpa disengaja, tanpa direncanakan, dan terjadi begitu saja, berkaitan dengan kesan dan respon masyarakat Bandung terhadap sosok Dedi Mulyadi. Kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman saat saya mengantar anak saya yang kakinya keseleo, ke tukang pijat (tukang urut) langganan di Cinunuk Cileunyi Bandung. Kejadiannya pada bulan Juli 2017 lalu.

Sambil dipijat, pandangan mata anak saya tertuju ke dinding rumah tukang urut ini. Ia melihat sebuah piagam penghargaan yang dikeluarkan oleh Pemkab Purwakarta dan ditandatangani oleh Bupati Dedi Mulyadi. Anak saya memberitahu saya piagam yang dimiliki oleh tukang urut tersebut.

Hebat nih si bapak, pikir saya. Ternyata ia tidak hanya bisa mengurut. Saya memang sudah tahu dari ceritanya dulu bahwa ia memiliki grup seni yang biasa tampil di kampung-kampung. Tapi piagam itu membuktikan bahwa grup seninya juga bukan grup sembarangan. “Wah, bapak hebat. Dapat piagam penghargaan dari Kang Dedi Mulyadi. Pastinya bapak habis tampil. Kalau boleh tahu, dalam acara apa nih?”

“Oh itu. Saya bersama anak-anak asuh dalam grup seni pernah diundang tampil di Taman Air Mancur Sri Baduga Purwakarta. Alhamdulillah sudah dua kali kami diminta Pak Dedi Mulyadi (begitu ia menyebutnya) untuk tampil di Purwakarta. Dan rencananya bulan Agustus 2017 ini kami akan tampil lagi mengisi acara di sana.”

Keren si bapak ini. Belakangan saya tahu pada bulan Agustus 2017, di Purwakarta bukan hanya diselenggarakan peringatan HUT RI, tetapi juga secara berbarengan diadakan pula Hari Jadi Purwakarta selama beberapa minggu. Dan kita lihat memang acara HUT RI dan Hari Jadi Purwakwarta ini sangat keren, variatif dan fenomenal. Kita semua bisa menyaksikan sebagiannya dalam Live Streaming akun Facebook Kang Dedi Mulyadi atau lainnya. Jadi, sebagai sesama warga Bandung, kalau grup seni si bapak yang asal Bandung ini tampil di Purwakarta yang saat ini terkenal dengan destinasi wisatanya, tentu saja akan sangat membanggakan.

“Hebat pak. Kalau boleh tahu, dari mana Kang Dedi mengenal Bapak? Pasti ini merupakan pengalaman yang luar biasa,” tanya saya.

“Beberapa bulan lalu Pak Dedi pernah datang bersama rombongan ke daerah ini. Kepala Desa meminta saya dan anak-anak asuh tampil menyambut Pak Dedi dan menghibur hadirin. Usai acara, Pak Dedi mendekati saya, dan meminta saya tampil di Purwakarta. Setelah diatur waktunya, kami dapat kesempatan tampil dua kali dalam waktu berbeda.

Di desa ini ada beberapa grup kesenian. Ada desa lain di Bandung yang dikenal memiliki banyak grup seni yang lebih banyak dari desa kami. Dan alhamdulillah grup kami yang mendapatkan kesempatan pertama untuk tampil di Purwakarta. Kami komunitas seni dan budaya sangat mendukung Pak Dedi jadi gubernur.”

Si bapak tukang urut ini tinggal di Bandung. Tentu saja, sebagai warga Bandung, ia mengenal nama walikota yang juga kabarnya hendak maju jadi calon gubernur. Ia juga menyebut wakil gubernur saat ini, yang kabarnya juga mau menjadi calon gubernur. Tetapi si bapak ini lebih banyak menyebut nama Dedi Mulyadi ketimbang yang lainnya. Saya tidak perlu menuliskan apa pendapatnya tentang figur-figur lain itu, tetapi yang jelas ia lebih banyak menyebut dan mengapresiasi Kang Dedi. Ia menjadikan Kang Dedi sebagai harapannya di masa mendatang. “Semoga saja,” katanya.

Ki Sunda Dedi Mulyadi memang lekat dengan dunia seni dan budaya. Bahkan bakatnya di dunia seni juga menakjubkan dan dan diakui banyak orang. Ia bisa ngedalang, bisa menghibur, dan berorasi, baik dengan bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda. Karena itu sepantasnya kalangan seni dan budaya lebih berharap banyak kepada sosok ini ketimbang kepada sosok-sosok yang lainnya.

Budaya adalah hasil cipta karsa manusia, sebagai hasil interaksi mereka dengan lingkungan dan alam sekitar. Karenanya budaya merupakan ekspresi kemanusiaan yang harus dihargai, diapresiasi, dan difasilitasi untuk tumbuh dan berkembang. Oleh sebab itu para komunitas seni dan budaya berharap banyak kepada sosok yang memang terbukti mampu mewujudkan nilai-nilai budaya dalam kepemimpinannya.

Alhasil, sekalipun oleh kalangan tertentu Kang Dedi sering “diserang” berulang-ulang dengan isu SARA, namun namanya justru makin akrab di telinga, lidah dan hati banyak orang. Semakin banyak ia diperbincangkan pro dan kontra, bahkan diisukan ini dan itu, namanya justru semakin masuk dalam kesan dan memori positif masyarakat kecil yang jarang berinteraksi dengan media sosial.

Masyarakat rupanya makin paham tentang arti politisasi. Sehingga mereka tidak terpengaruh dengan isu-isu yang sengaja dihembuskan. Mereka lebih percaya dan nyaman dengan sosok Dedi Mulyadi yang mereka lihat dan saksikan langsung. Mereka lebih percaya kenyataan, ketimbang pergunjingan.

Apakah nama dan prestasi Kang Dedi hanya makin familiar di kalangan seni dan budaya? Ternyata tidak…! Kelak saya akan tuliskan lagi pengalaman langsung lainnya tentang Ki Sunda ini, menurut berbagai kalangan di Bandung yang tanpa sengaja saya temukan. Sejumlah pengalamaan yang bagi saya terasa surprised.

Mengapa surprised? Karena ini tentang kesan dari warga Bandung bro, bukan warga Purwakarta. Bandung, sebuah kota yang diatur oleh walikota dan ditinggali oleh wakil gubernur, tetapi warganya kini justru sangat familiar dan apresiatif terhadap bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi.

Bandung, 31 Agustus 2017
Mahya Lengka

Leave a Reply

close