16# Belajar Kearifan Kosmologis dari Dedi Mulyadi

dedi di depan orang-orang pangsi

Seperti kita ketahui, narasi utama yang menjadi ciri khas Dedi Mulyadi adalah budaya. Narasi budaya yang ia perjuangkan lahir dari kesadaran bahwa kebudayaan adalah hasil cipta dan karsa manusia ketika berinteraksi dengan alam sekitar. Alam yang dimaksud adalah mencakup empat unsur, yakni tanah, air, angin (udara) dan matahari (api). Karena kondisi alam berbeda-beda, maka interaksi manusia dengan alam kelak melahirkan berbagai budaya yang beragam.

Alam tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, karena alam memang merupakan kebutuhan dasar kehidupan mereka. Karena interaksi dengan alam melahirkan budaya, maka kebudayaan pun merupakan satu kesatuan dengan manusia. Ekspresi kebudayaan tidak hanya bersifat horizontal sesama manusia, tetapi juga berkaitan dengan alam bahkan dengan semesta secara keseluruhan. Kebudayaan yang berkaitan dengan semesta itu melahirkan kesadaran kosmologis. Di antara manifestasinya adalah perilaku terhadap benda-benda langit, semisal bulan.

Nah, berkaitan dengan kesadaran kosmologis ini, ada kebijakan dan program yang menarik dan unik, yang digulirkan oleh Kang Dedi di daerah yang ia pimpin, Purwakarta. Mulai bulan Dzulhijjah 1436 yang lalu, tepatnya bulan September 2015, Kang Dedi mengeluarkan kebijakan kepada seluruh warganya agar mematikan lampu luar rumahnya pada saat Malam Purnama. Dalam kondisi demikian itu mereka berbaur bersama Bulan Purnama di luar untuk menikmatinya, lalu mengadakan kegiatan-kegiatan sosial yang diisi dengan kaulinan barudak (permainan anak) Sunda. Acara dikelola secara mandiri oleh RT/RW setempat. Adapun pihak pemerintahan daerah memperlombakannya.

Apa menariknya Kebijakan Malam Purnama ini? Jelas bagi saya sangat menarik. Sejujurnya, (jangan-jangan) semua kita saat ini sudah tidak mengenal lagi bulan Purnama, tidak mempedulikannya mau ada atau tidak. Bulan purnama yang merupakan satu dari nikmat Allah bagi penduduk bumi ini seolah tidak pernah disyukuri kehadirannya. Bahkan, makhluk bulan pun (terutama anak-anak kecil kita) tidak begitu tahu seperti apa, apalagi yang namanya bulan purnama dan pada tanggal berapa ia muncul di atas langit.

Mengapa? Karena setiap malam, kita dan anak-anak kita hanya berada di dalam rumah, hampir semuanya menonton TV, sehingga tidak memperhatikan bagaimana kondisi malam di luar. Kebiasaan hidup yang membuat kita selalu dalam cahaya listrik seakan membuat kita tidak menyadari ada gelap yang mengelilingi kita setiap malam.

Dan ketika malam-malam purnama terjadi (yakni malam 13-14-15 bulan Qamariyah), kita dan anak-anak kita seakan tidak mengerti bahwa bulan purnama adalah anugerah nikmat yang luar biasa. Terlalu canggihlah bila kita mengaitkannya dengan hubungan bulan dengan bumi, hubungan purnama dengan gelombang laut, serta akibat-akibat yang terjadi antara purnama-bumi-laut, dan lain sebagainya.

Biasanya orang-orang mau keluar rumah malam-malam saat listrik di rumahnya padam. Kebanyakan malah tetap berada di rumah, dengan menyalakan lilin atau lampu darurat. Artinya, kebanyakan orang dan anak-anak tetap saja berada di dalam rumah, tidak suka berinteraksi dengan dunia sekitar, saat malam dan gelap. Dengan begitu, baik dalam kondisi listrik menyala maupun padam, lagi-lagi mereka seperti tidak berkesempatan untuk mengenal bulan, berinteraksi dengan bulan purnama, apalagi mensyukurinya.

Ada memang sedikit orang yang agak peduli dengan bulan. Kapan? Yakni saat masjid mengumumkan bahwa malam ini terjadi gerhana bulan. Lalu pihak pengurus DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) mengimbau agar masyarakat turut melakukan salat gerhana bulan di masjid. Maka, barulah mereka bergegas ke masjid. Tetapi tunggu dulu. Berapa orang yang ikut salat? Biasanya selalu tidak banyak. Ketika khatib bercerita tentang bulan dan gerhananya, berapa banyak yang mendengarkannya? Tetap sedikit orang saja!

Alhasil, kebanyakan kita dan anak-anak kita tidak peduli bulan, termasuk ketika bulan itu sangat terang benderang, atau purnama. Kebanyakan kita tidak suka berinteraksi dengan bulan, apalagi mensyukuri nikmat purnama. Kondisi ini berbeda dengan kondisi dulu saat listrik belum menyinari kota dan desa seperti sekarang. Orang-orang seusia saya dulu di kampung merasakan hidup hanya mengandalkan lampu teplok (lampu sumbu), atau obor (oncor), atau paling canggih menggunakan lampu petromak (yakni lampu cukup besar dengan bahan bakar spirtus).

Karenanya, dulu, terutama di kampung dan pedesaan, saat listrik belum masuk pemukiman, saat malam purnama adalah saat yang ditunggu-tunggu dan menyenangkan. Saatnya anak-anak bermain bersama tetanggga. Saatnya para orang tua membangun silaturahim dan interaksi social. Saat kita menatap bulan, mengagumi purnama, melihat dan menatap ke atas, merasakan diri hanya bagian amat kecil dari semesta langit yang luas, indah, dan misterius.

Ya, itu dulu. Namun sekarang zaman telah berubah. Teknologi listrik sudah masuk ke desa-desa dan kampung-kampung, hingga pedalaman. Sehingga malam tidak begitu berbeda dengan siang. Siang terang oleh matahari, malam terang oleh listrik. Ketika siang kita tidak begitu mempedulikan matahari. Dan ketika malam kita tidak mempedulikan rembulan dan purnama. Ini nampaknya sudah menjadi kebiasaan yang umum di mana-mana.

Nah, ketika Kang Dedi mengeluarkan kebijakan Malam Purnama bagi seluruh warga Purwakarta, maka kebijakan ini jelas akan mengubah mindset dan perilaku orang-orang terhadap bulan, purnama, dan kosmologi. Selain ini tentu saja berdampak pada manfaat-manfaat sosial, terjadinya kohesi sosial, dialog social, keintiman sosial, dan semacamnya. Bulan kembali mendapatkan perhatian bahkan mulai dikagumi dan dinikmati oleh umat manusia.

Oleh sebab itu, kebijakan ini mengembalikan manusia untuk menyatu lagi dengan alam sekitar yang dibutuhkan, menikmati dan mensyukurinya. Sehingga, bukan saja anak-anak, bahkan orang tua dewasa pun mendapatkan kesempatan berinteraksi kembali dengan alam di mana mereka tinggal, khususnya dengan rembulan. Jangan sederhanakan dampak positif kebijakan ini.

Terutama bagi anak-anak yang sekian lama tidak mengenal purnama, kini mereka mulai belajar mengenalinya, hingga akhirnya kelak mencintainya. Dari kecintaan itu kelak akan melahirkan kesadaran kosmologis, sehingga mereka bisa belajar menghargai alam dan lingkungan. Ujung dari itu semua, mereka mensyukuri Tuhan yang telah menciptakan mereka dan alam semesta ini.

Lebih dari itu, secara energi, seperti dilaporkan oleh Kang Dedi sendiri sehari setelah Malam Purnama pertama itu, PLN Purwakarta ternyata berhasil menghemat 5 Milyar. Dan ini baru pemadaman pada lampu luar rumah-rumah warga saja. Artinya, dengan memadamkan lampu luar dan jalan saja, dalam jangka waktu hanya sekitar 3 jam, PLN Purwakarta bisa menghemat 5 Milyar, dalam sebulan. Dan ini bisa berulang pada bulan-bulan berikutnya.

Jika Dunia mencanangkan Earth Hour sehari dalam setahun, Purwakarta justru sehari dalam setiap bulan (12 kali dalam setahun). Kebijakan Malam Purnama di Purwakarta lebih maju beberapa langkah dari program Earth Hour. Jika program Earth Hour yang cuma sekali dalam setahun itu kita anggap bagus, maka program Malam Purnama Purwakarta jauh lebih bagus lagi. Apalagi desain Kang Dedi bukan hanya penghematan energinya, tetapi lebih pada perubahan mindset, kesadaran dan perilaku warganya. Terutama mindset, kesadaran dan perilaku terhadap bulan, purnama dan kosmologi.

Bagi kalangan yang mencintai alam lingkungan, kebijakan ini jelas sangat diapresiasi. Ini adalah kebijakan yang berangkat dari kearifan lokal, kebijakan yang tidak membutuhkan biaya (no-cost policy), kebijakan yang mengembalikan manusia kepada kesadaran kosmologis yang sangat penting, kebijakan yang merekatkan ikatan-ikatan sosial. Kebijakan yang formulanya sederhana, namun tidak semua pemimpin daerah sempat memikirkannya, apalagi mewujudkannya. Karena kebijakan seperti ini hanya akan muncul dari figur pemimpin yang memiliki kearifan lokal dan kosmologis.

Sepengetahuan saya, belum ada kepala daerah lain di Indonesia (mungkin juga di dunia) yang memikirkan hal mendasar seperti ini di daerah mereka. Baru Ki Sunda Dedi Mulyadi telah menyadarkan kita semua tentang kesadaran ini.

Kebijakan Malam Purnama yang digagas oleh Dedi Mulyadi di Purwakarta telah mengingatkan masyarakat untuk kembali berinteraksi dengan alam, baik alam siang hari maupun alam malam hari. Dan kebijakan itu telah membuat kita kembali belajar kosmologi.

Inilah kearifan kosmologis dari kebijakan Ki Sunda, Dedi Mulyadi…

Bandung, 26 Agustus 2017

Mahya Lengka

Leave a Reply

close