15# Luthfi dan Dedi Mulyadi, Bagaikan Syekh Quro dan Siliwangi

dedi habib luthfi 2

Acara Dzikir Kebangsaan yang diadakan di Taman Pasanggrahan Pajajaran Purwakarta, Selasa 22 Agustus 2017 kemarin, telah menyatukan Maulana Habib Luthfi bin Yahya dengan Kang Dedi Mulyadi. Habib Luthfi adalah seorang ulama NU kharismatik, Rais ‘Am JATMAN (Jaringan Ahlut Thoriqah al-Mu’tabarah al-Nahdliyyah). Sedangkan Dedi Mulyadi adalah seorang pemimpin di Kabupaten Purwakarta, salah satu daerah Sunda yang sangat penting saat ini.

Selama ini, Kang Dedi sering juga disebut-sebut sebagai Ki Sunda. Bahkan, dengan posisi dan jangkauan karya nyatanya, ia juga disebut sebagai personifikasi Siliwangi.

Waktu mudanya, Siliwangi memiliki beberapa nama dan panggilan. Seperti Raden Jaya Dewata dan Raden Pamanah Rasa. Ketika mudanya, Raden Jaya Dewata pernah berkunjung dan belajar kepada Syekh Quro. Dan kelak ia menikah dengan santriwati Syekh yang bernama Nyai Subang Larang.

Dari hasil pernikahannya dengan Nyai Subang Larang, Siliwangi memiliki beberapa putera, seperti Raden Kian Santang dan Nyimas Rara Santang.

Kian Santang kelak mengembara ke daerah Cirebon, dan menjadi raja di sana, dengan nama Prabu Cakrabuana. Sedangkan Nyimas Rara Santang kelak menikah dengan seorang bangsawan Arab dan kelak memiliki putera bernama Syarif Hidayatullah, yang dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Djati, salah satu Walisanga di Tanah Jawa.

Pertemuan antara Kang Dedi dengan Habib Luthfi kemarin itu mengingatkan kisah pertemuan dan thalabul ilminya Siliwangi dengan Syekh Quro. Syekh Quro dan Habib Luthfi adalah ulama, sedangkan Siliwangi dan Kang Dedi adalah pemimpin di Tanah Sunda.

Dengan kekhasan Kang Dedi yang selalu membawakan nilai-nilai budaya Sunda secara konsisten dan nyata, hingga ia disebut sebagai Ki Sunda, makin menegaskan personifikasinya sebagai sosok Siliwangi jaman kiwari. Karenanya, pertemuannya dengan Habib Luthfi kemarin itu seperti mengulang kisah pertemuan Siliwangi dengan Syekh Quro.

Kedua sosok ini bertemu dalam acara dzikir kebangsaan yang sangat mengesankan, di tengah harapan masyarakat (Jabar khususnya) agar Jabar kembali ke kejayaannya sebagai negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Dalam diksi Sunda, makna yang sama diungkap dengan kalimat “gemah ripah loh jinawi”.

Secara spesifik, pertemuan ini terasa bersejarah, karena keduanya mencerminkan dua sosok berbeda (ulama dan pemimpin) yang bersatu dalam visi yang sama, kebangsaan dan kebudayaan, seperti layaknya yang diperjuangkan para leluhur termasuk mewarisi perjuangan para Walisanga. Karenanya banyak media yang menulis dan mengulas pertemuan kedua sosok kharismatik tersebut.

Khususnya masyarakat Jawa Barat kini makin berharap, dengan pertemuan tersebut, semoga Jabar kembali kepada kejayaan dan kesejahteraannya.

Dedi Mulyadi menghidupkan harapan tersebut. Kemunculannya saat ini membawa pesan dan keyakinan bahwa Siliwangi kini segera kembali. Ke sini, Jabar Sajati…

Turun gunung mipir lamping…
Nyucruk lembur milang desa, nyampeur dayeuh nyaba kota…

Jawa Barat adalah Siliwangi
Siliwangi adalah Jawa Barat…

Jabar berjuang mewujud nyata…

Bandung, 24 Agustus 2017

Ashoff Murtadha
(Mahya Lengka)

Leave a Reply

close