9# Ki Sunda Itu Kini Bernama Dedi Mulyadi

dedi mulyadi sepeda

Dulu, di Jawa bagian barat, pernah ada beberapa kerajaan yang tercatat dalam sejarah, dan sangat populer di kalangan masyarakat. Kerajaaan di Jawa Barat bahkan mendahului semua kerajaan yang pernah ada di kepulauan Nusantara lainnya. Bisa dikatakan, di Jawa bagian baratlah kerajaan pertama pernah berdiri.

Ada yang bernama Kerajaan Salakanagara. Setahu saya, kerajaan ini tidak tercatat dalam buku sejarah resmi tentang kerajaan-kerajaan lama di Indonesia. Namun begitu, di kalangan masyarakat Sunda (yang menyukai sejarah), nama Salakanagara cukup familiar, dan diyakini sebagai awal kerajaan yang pernah ada di Jawa Barat, atau bahkan di Indonesia. Salakanagara ada sebelum kerajaan Tarumanagara.

Pada tahun 400 Masehi, buku sejarah resmi mencatat ada sebuah kerajaan bernama Tarumanagara, dengan rajanya Purnawarman. Kerajaan ini lebih tua ketimbang kerajaan Kutai di pulau Kalimantan, yang berdiri pada tahun 450 Masehi. Raja terkenal di Kutai bernama Mulawarman.

Sesudah kerajaan Kutai, kemudian lahirlah banyak kerajaan lainnya di berbagai pulau di Indonesia. Di pulau Jawa bagian tengah (Jawa Tengah) dan timur (Jawa Timur) kita mengenal adanya beberapa kerajaan seperti Medang, Mataram Kuno, Kahuripan (Raja Erlangga), Doha, Jenggala, Singasari (Ken Arok), Kediri (Jayakatwang), Majapahit (Wilwatikta). Kemudian disusul oleh kerajaan Demak (Raden Patah atau Pangeran Jin Bun), Pajang (Sultan Hadiwijaya, Jaka Tingkir) dan Mataram (Sultan Agung).

Sedangkan di Jawa bagian barat sesudah itu tercatat ada sejumlah kerajaan seperti Galuh, kemudian disusul oleh Pajajaran. Dari kerajaan Galuh (Ciamis) kita mengenal sejumlah figur seperti Prabu Linggabuana, Bunisora, Dyah Ayu Pitaloka dan Prabu Niskala Wastkencana. Kerajaan Galuh semasa dengan kerajaan Majapahit di Jawa Timur.

Setelah kerajaan Galuh ini mengalami senjakala, muncullah kerajaan baru di daerah Bogor, yakni kerajaan Pajajaran. Disebutkan bahwa para raja di Kerajaan Pajajaran adalah keturunan dari para raja kerajaan Galuh.

Dari kerajaan Pajajaran inilah kita mengenal rajanya yang sangat legendaris di kalangan masayarakat Sunda, yakni Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi. Di kalangan masyarakat Sunda, Siliwangi dikenal sebagai raja yang sangat sakti mandraguna, dan memiliki harimau peliharaan yang dikenal dengan Si Maung, Maung Siliwangi.

dedi dan IP

Sri Baduga (yang juga dikenal Raden Jaya Dewata atau Raden Pamanah Rasa ini) menikah dengan Nyi Subang Larang. Dari rahim Nyi Subang Larang, kelak Prabu Siliwangi memiliki seorang putera yang juga legendaris dan sakti, yakni Prabu Kian Santang, yang kelak bernama Prabu Cakrabuana, dan mendirikan kerajaan di Cirebon. Dari sini muncul kerajaan Cirebon, dan disusul oleh kerajaan Banten.

Nah, dari rangkaian kerajaan di daerah Jawa Barat (Sunda) ini ada sejumlah figur raja yang merepresentasikan sebagai sosok Ki Sunda. Yakni Prabu Linggabuana dan puteranya, Prabu Niskala Wastukencana dari kerajaan Galuh. Dan Prabu Siliwangi dari kerajaan Pajajaran. Bahkan, khusus Prabu Siliwangi merepresentasikan Ki Sunda hingga saat ini. Sehingga ada ungkapan “Jawa Barat adalah Siliwangi, Siliwangi adalah Jawa Barat.”

dedi pakai cetok

Ungkapan ini menggambarkan bahwa Siliwangi merepresentasikan Jawa Barat, di mana Jawa Barat juga dipersonifikasi dalam sosok Siliwangi, atau Ki Sunda. Ungkapan ini juga memberikan spirit bagi masyarakat Jawa Barat tentang jatidiri masyarakat Sunda, sekaligus memasyarakatkan budaya luhur Sunda.

Maka, di kalangan masyarakat Jawa Barat sudah lama ada kerinduan dan upaya untuk kembali menghidupkan dan melestarikan (ngamumule) budaya adiluhung Sunda. Di antara upaya itu dimulai dengan menggunakan bahasa Sunda dalam interaksi formal maupun informal, serta mengenakan pakaian Sunda khususnya pada waktu-waktu tertentu. Sejumlah daerah di Jawa Barat sudah mulai mengupayakan ini. Seperti menetapkan penggunaan bahasa Sunda pada hari tertentu dan pakaian pangsi atau kabaya yang termodifikasi.

dedi dan amih garut

Akan tetapi, sejauh itu, upaya tersebut belum memperlihatkan hasil yang diharapkan. Sekalipun upaya secara personal dan sosiologis itu ada, namun upaya memasyarakatkan bahasa dan budaya luhur Sunda belum menemukan hasil dan formula yang memuaskan. Boleh dikatakan, upaya tersebut tidak strategis, parsial, tanggung, dan tidak total. Karenanya hasilnya pun tidak sesuai ekspektasi.

Hingga akhirnya, publik dikagetkan oleh sepak terjang Dedi Mulyadi di Purwakarta. Banyak gebrakan dan inovasi berbasis budaya yang berkelanjutan terjadi di kabupaten terkecil di Jawa Barat ini. Inisiator, konseptor dan penggeraknya adalah bupatinya sendiri, Haji Dedi Mulyadi. Sejak kepemimpinannya, Sunda hidup kembali dan menemukan bentuk, ruang, dan contoh yang konkret dan mendunia. Di Purwakarta, Sunda yang adiluhung, manusiawi, berkemajuan, silih asah-silih asih-silih asuh itu memperlihatkan bentuknya secara fenomenal.

Di Purwakarta, bukan hanya menjadikan bahasa Sunda sebagai bahasa harian baik dalam acara resmi maupun tidak resmi. Bukan hanya mentradisikan ucapan salam Sampurasun di setiap acara, bahkan hingga diperdengarkan di atas podium PBB di New York. Bukan hanya tentang kaulinan (permainana) Sunda, atau pakaian pangsi dan iket, makanan khas, leuit, pertunjukan dan lain sebagainya. Tetapi tentang semuanya. Terutama filosofi dan ajaran luhur yang sangat menginspirasi kehidupan, baik dalam rangka berinteraksi dengan diri sendiri, dengan Tuhan, dengan sesama manusia, sesama makhluk hidup dan alam lingkungan.

Jadi, yang ditampilkan oleh Kang Dedi bukan semata-mata verbalisme, namun penghayatan dan manifestasinya dalam kehidupan nyata. Sehingga kekayaan tradisi luhur Sunda betul-betul dieksplorasi dan dihadirkan secara nyata.

Oleh sebab itu, yang kita saksikan di Purwakarta bukan saja tradisi berbahasa Sunda. Bukan saja berbagai festival budaya Sunda tingkat dunia. Bukan saja tradisi salam Sampurasun hingga menggema di atas podium PBB di New York. Bukan saja mengekspor kuliner Sunda (sate maranggi) hingga ke Amerika Serikat. Bukan hanya penamaan berbagai tempat dengan nama-nama Sunda (seperti Museum Surawisesa, Taman Maya Datar, Taman Pancawarna, Gapura Indung Rahayu, dan lain-lain). Bukan hanya lahirnya Taman Air Mancur Menari terbesar se-Asia Tenggara, bukan hanya Hotel Gantung di Tebing Gunung 99 kamar (Badega Gunung Parang, Pajajaran Anyar), dan lain sebagainya.

Tetapi yang kita lihat dan rasakan adalah manifestasi dari konsep silih asah-silih asih dan silih asuh, yang melahirkan banyak hal yang luar biasa. Seperti gerakan budaya beras perelek, ATM beras gratis, kebijakan malam purnama, mengkaji kitab kuning, mengenakan kain sarung setiap hari jumat di sekolah-sekolah dan perkantoran, melindungi 100 mata air di Purwakarta, pelajaran vokasional bagi pelajar, menciptakan desa mandiri, dan lain sebagainya.

Dan itu semua terjadi sebagai perwujudan dari spirit budaya Sunda yang adiluhung. Karenanya, saat ini, jika orang-orang ingin belajar Sunda (baik secara filosofis, spiritualitas, sosiologis, bahasa, budaya, dan aplikasi dalam kebijakan publik), Purwakarta menjadi rujukan. Menyebut Sunda, harus menyebut Purwakarta.

Dengan semua prestasi dancapaiannya itu, masyarakat kini melihat dan mengakui bahwa Sunda itu mewujud lagi di Purwakarta. Dan, di situlah pula tinggal Ki Sunda Baru memimpin dan memperjuangkannya. Yakni Kang Dedi Mulyadi.

Jika dulu negeri Sunda ada di daerah Galuh (Ciamis), kemudian berpindah ke Pakuan (Bogor), maka sekarang sepertinya negeri Sunda berpindah ke Purwakarta. Meskipun aset-aset Sunda (budaya dan heritage) tersebar di banyak daerah di Jawa Barat, tetapi sekarang kalau berbicara tentang Sunda, Purwakarta tidak mungkin dilewatkan.

Diakui atau tidak, ikon Sunda sekarang lekat dengan Kang Dedi Mulyadi. Jika orang mengucapkan atau mendengar ucapan Sampurasun, mereka ingat sosok ini, mereka ingat bahwa Kang Dedi pula yang telah konsisten dan benar-benar memperjuangkan salam ini hingga populer, sekalipun sampai diancam dan dilecehkan. Jika mereka mendengar nama atau hal-hal khas kesundaan, memori mereka langsung ingat ke Kang Dedi.

Tidak sedikit kalangan yang menyebutkan bahwa Kang Dedi adalah Ki Sunda saat ini. Jika kita mendengar orang menyebut Ki Sunda, itu ditujukan untuknya. Ki Sunda saat ini bernama Dedi Mulyadi. Bahkan, ada juga kalangan yang menyebut Kang Dedi sebagai Siliwangi Jaman Kiwari.

Kang Dedi berhasil membuktikan bahwa budaya adalah modal dasar yang sangat besar dalam membangun peradaban dan kemanusiaan. Kemajuan sebuah bangsa bisa dilakukan dengan menghidupkan nilai-nilai budaya, bukan saja secara sosial, tetapi juga dalam kebijakan dan kepemimpinan.

Pesan yang ingin ia sampaikan kepada masyarakat adalah bahwa sebuah bangsa akan hancur jika mereka telah tercerabut dari akar budayanya. Sebaliknya, mereka akan maju jika mereka menghidupkan nilai-nilai agung budaya mereka. Dan Kang Dedi sudah membuktikannya.

Selamat berjuang dan memimpin kembali, Ki Sunda…!*

Bandung, 14 Agustus 2017

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

close