8# Kang Dedi: Sunda Itu Islam

dedi mulyadi dan sorban

Cara Islam masuk ke negeri Sunda (dan Nusantara pada umumnya) berbeda dengan cara ia masuk ke negeri-negeri yang jauh di sana, seperti Eropa. Seperti umum diketahui, ke Eropa Islam dimasukkan melalui pedang, perang dan penaklukan. Sedangkan ke Nusantara, Islam masuk dengan kedamaian dan penghormatan.

Maka lihatlah. Masa lalu Eropa dulu pernah tercatat berjaya dengan dinasti kerajaan yang dipegang oleh orang-orang beragama Islam. Namun sekarang di sana kejayaan Islam tinggal sejarah masa silam.

Sama halnya dengan India. Dulu negeri Hindustan itu pernah berjaya di bawah dinasti para raja Muslim. Namun sekarang, populasi Muslim di sana sangat jauh di bawah populasi masyarakat Hindu. Sekalipun jumlah Muslim di sana saat ini puluhan juta, namun itu masih sangat jauh dibandingkan dengan jumlah kaum Hindu yang berjumlah ratusan juta.

Berbeda ceritanya dengan Islam di Nusantara, di mana Islam masuk dengan damai, dengan penghormatan dan kasih sayang. Termasuk ke negeri Sunda ini, Islam masuk bukan dengan penaklukan, juga bukan dengan pemaksaan. Ke sini Islam masuk dengan hati, ilmu dan cinta.

Karenanya, sekalipun dulu Nusantara pernah didominasi oleh populasi besar masyarakat Hindu, Budha dan animisme, namun sekarang Nusantara didominasi oleh populasi masyarakat Muslim. Sudah berabad-abad kondisi ini tidak berubah hingga sekarang.

dedi mulyadi dan sorban

Ketika Islam masuk (khususnya) ke negeri Sunda, masyarakat Sunda telah memiliki sistem kredo, sistem nilai, sistem ajaran, sistem sosial, dan sistem perilaku masyarakat yang luhur, yang tidak bertentangan dengan Islam. Karenanya ketika Islam masuk, masyarakat mudah menerimanya, tanpa penentangan.

Sebut saja semisal konsep SangHyang Tunggal dalam ajaran Sunda, itu merupakan ajaran yang dalam Islam disebut dengan konsep tauhid, mengesakan Tuhan, Allah al-Ahad, Allah Yang Maha Esa. Di sebagian masyarakat Sunda sampai sekarang, mereka menyebut salat masih dengan istilah sembahyang, yang artinya menyembah Hyang. Siapakah Hyang? Hyang adalah Hyang Tunggal itu, yakni Tuhan Yang Maha Esa.

Di kampung saya, kata sembahyang masih sering dipakai oleh banyak masyarakat untuk menyebut salat. Di masyarakat Sunda yang lain, istilah “netepan” juga lazim dipakai untuk mengungkapkan “iqamat al-shalat,” yang artinya mendirikan salat.

Konsep khusyu, tawakal, kesabaran, dan kepasrahan total kepada Allah dalam Islam, oleh masyarakat Sunda diterjemahkan dalam ungkapan “meneku kanu Maha Agung, ngabrata kanu Maha Kawasa, sumujud kanu Maha Luhur, sumerah kanu Maha Nyaah,” dan banyak yang lainnya.

Masyarakat Sunda mengenal tradisi penghormatan kepada leluhur atau karuhun. Makna yang sama, dalam tradisi Islam, disebut dengan penghormatan kepada al-salaf al-shalih (orang-orang salih pada masa lalu). Kata berbeda, bermakna sama.

Penghormatan kepada alam dan lingkungan oleh masyarakat Sunda dilestarikan dalam konsep PAMALI, sesuatu yang tabu atau dilarang dilakukan. Dalam fiqih Islam, pamali bisa disetarakan dengan konsep makruh atau haram.

Karenanya, ketika misalnya orang-orang Sunda menetapkan hutan larangan, itu dalam rangka menjaga hutan agar tidak dirusak, sehingga masyarakat tidak berani merusak dan menghancurkan hutan dan gunung. Ini sama dengan ajaran Islam yang melarang membuat kerusakan di muka bumi (laa tufsiduu fi al-ardhi ba`da ishilaahiha).

Filosofi Sunda mengajarkan konsep silih asah, silih asih, dan silih asuh. Juga ajaran “nulung kanu butuh, nalang kanu susah, nganteur kanu sieun, nyaangan kanu poekeun.” Itu semua adalah sebuah konsep ajaran sosial yang memanifestasikan ajaran Islam, seperti rahmatan lil alamin, ajaran cinta, keadilan, ajaran ilmu pengetahuan, ajaran kasih sayang, dan ajaran ta`awun sosial.

Tentang makanan, masyarakat Sunda itu sangat memperhatikan kesucian dan kehalalan makanan. “Coba kita perhatikan,” kata Kang Dedi Mulyadi kurang lebih, “Dalam tradisi masyarakat Sunda itu tidak ada konsumsi kepada beberapa hewan tertentu, semisal ular, babi, anjing, dan hewan-hewan tertentu yang lainnya. Tidak ada ceritanya orang Sunda memakan ular, atau babi, atau anjing, yang diharamkan dalam Islam.”

Masyarakat Sunda juga adalah masyarakat yang toleran dan baik kepada sesama. Sehingga, lanjut Kang Dedi, jika sekarang Jawa Barat disebut sebagai provinsi yang tidak toleran, itu bukan aslinya orang Jawa Barat, bukan aslinya masyarakat Sunda. Itu bawaan dari para pendatang, dan sayangnya para pendatang itu senang membuat kegaduhan, sementara masyarakat Sunda senang kedamaian. Konsep tasamuh dan ihsan dalam Islam, oleh masyarakat Sunda diungkap dengan istilah “hade ka papada manusa”, baik kepada sesama manusia.

Singkat cerita, Islam dan Sunda itu satu kesatuan. Keduanya bukan dua kutub yang saling berhadapan. Mengapa Islam masuk ke masyarakat Sunda dengan mudah, karena ada kesamaan antara keduanya dalam banyak hal. Bahkan keduanya adalah satu.

Oleh sebab itu, jika sekarang ada sekelompok orang yang mempersoalkan kesundaan dengan keislaman, itu karena mereka belum mengerti, atau belum mau belajar mengenai hubungan keduanya lebih dalam. Jika saja mereka mau membuka akal dan mata hatinya, mau belajar dan memahami lebih jauh, niscaya mereka bisa menemukan indahnya kesatuan antara Islam dan kesundaan.

Islam adalah agama yang selalu relevan di setiap zaman, ruang dan generasi. Maka ia bisa termanifestasi dalam keragaman budaya manusia sepanjang masa. Sampai kapan pun.

Itulah Islam yang untuknya Nabi Saw diutus kepada umat manusia… Dan ia tidak boleh dicoreng oleh perilaku orang-orang yang memperlihatkan perilaku yang tidak mencerminkan Islam yang diteladankan oleh Nabinya yang agung…

Islam memang bukan Sunda. Tetapi Sunda adalah Islam.. “Karena itu,” kata Kang Dedi, “keduanya tidak pantas dipertentangkan. Sebab keduanya adalah satu kesatuan, Dan Islam yang datang ke sini termanifestasi dalam budaya masyarakat di sini.”

Karena Sunda dan Islam itu sangat toleran, maka ketika sekarang Jawa Barat disebut sebagai salah satu provinsi yang paling intoleran, maka Jawa Barat harus dikembalikan kepada keasliannya yang toleran, damai, gemah ripah loh jinawi: Jabar Sajati…!

#dangiangkisunda

Bandung, 7 Agustus 2017

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

close