7# Kang Dedi: Islam dan Sunda Itu Satu

dedi ceramah

“Ada sebagian kalangan yang membenturkan antara keislaman dan kesundaan, seolah keduanya bertentangan. Padahal tidak demikian. Islam dan Sunda itu satu kesatuan,” kata Kang Dedi Mulyadi mengawali pembicaraan saat mengisi Ceramah Keagamaan di Masjid Ujungberung Bandung, Jumat 15 Januari 2017 yang lalu.

Kang Dedi menyampaikan ceramahnya sepenuhnya dalam bahasa Sunda, dan penuh dengan uraian filosofi kesundaan yang dikaitkan dengan keislaman. Atau lebih tepatnya, Kang Dedi sedang menjelaskan Islam dengan pendekatan kesundaan.

Sebenarnya bukan kali ini saja Kang Dedi menguraikan tema ini. Kalau kita simak banyak videonya di Youtube, berulangkali Ki Sunda ini mengulas, membahas dan memperluas bahasan tentang tema yang masih belum dimengerti oleh sebagian kalangan tersebut.

Bedanya, khusus saat acara Ceramah Keagamaan di Ujungberung Bandung itu, bahasan ini saya dengar dan simak secara langsung. Bahkan bahasan kembali dilanjutkan dalam obrolan santai usai salat Isya, yang bertempat di ruang tamu masjid.

Sejak tahun 1980-an, tema keislaman yang coba dijelaskan dalam konteks keindonesiaan pernah dengar gencar disosialiasikan oleh Cak Nur (Nurcholish Majid) yang disebut-sebut sebagai Bapak Pembaharu Pemikiran Islam di Indonesia. Saat itu Cak Nur mengangkat tema Keislaman dan Keindonesiaan.

Sekalipun awalnya –seperti biasa– banyak pihak yang kontra keras kepadanya, namun akhirnya gagasan Cak Nur tentang hal ini makin dimengerti dan diterima. Intinya, baik keislaman, keindonesiaan maupun kemodernan –menurut Cak Nur– bukan tema-tema yang mesti dipertentangkan dan saling menegasikan. Ketiganya justru saling menguatkan.

dedi ceramah

Kini, tema keindonesiaan kembali mencuat ke tengah publik, dan menjadi bahan perbincangan yang memicu perdebatan, sekalipun belum segempita masa Cak Nur. Kali ini keindonesiaan dihadapkan dengan tema kesundaan (sebagai bagian dari keindonesiaan).

Perbedaannya, kalau dulu wacana ini diangkat oleh sosok pemikir Muslim akademis, maka kali ini pengusungnya adalah sosok kepala daerah Muslim yang budayawan, yakni Dedi Mulyadi, bupati Purwakarta. Perbedaan lainnyaa adalah, kalau dulu Cak Nur bermain di wilayah wacana intelektual teoritis, kali ini Kang Dedi bermain di wilayah intelektual praktis yang diterjemahkan dalam kebijakan publik dan politis.

Kesamaannya adalah bahwa keduanya sama-sama disalahpahami pada awalnya, bahkan dituduh macam-macam. Dulu Cak Nur dituruh liberal, sekarang Kang Dedi dituduh musyrik. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, komunikasi, intensitas penjelasan, dan kematangan nalar audiens, pelan tapi pasti gagasan keduanya makin dipahami dan diterima. Apalagi untuk konteks Kang Dedi, gagasannya itu diwujudkan dalam karya-karya nyata yang bisa terlihat dan tersentuh, lebih konkret.

Singkat cerita, apa yang kang Dedi sampaikan kini makin dimengerti. Kalangan yang sebelumnya sempat menolak dan menuduhnya negatif pun sedikit demi sedikit mulai memahami apa yang dimaksudkan Kang Dedi.

Publik makin diyakinkan bahwa Islam dan Sunda itu bukan dua entitas yang pantas dihadap-hadapkan, keduanya justru tidak berlawanan bahkan satu kesatuan. Melalui ceramah-ceramahnya, Kang Dedi mampu menjelaskan hal ini dengan sangat baik dan mudah dipahami, bahkan oleh kalangan awam.

Misalnya, dalam penjelasannya tentang makna puasa, tentang kematian, tentang kewajiban menjaga dan melestarikan lingkungan, ia mampu menguraikan panjang lebar dengan pendekatan filosofi dan budaya Sunda.

Secara psikologis-internal, ia sangat meyakini bahwa Islam dan Sunda itu tidak bisa dipisahkan. Dan secara sosial-eksternal ia meyakinkan hal ini kepada masyarakat melalui kerja-kerja pembangunan dan pelayanan publik. Dan publik kini makin mengakuinya…*

(bersambung)

Bandung, 6 Agustus 2017

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

close