12# Dedi Mulyadi, Siliwangi Jaman Kiwari (3)

dedi dengan ibu-ibu

Ada ungkapan populer yang melekat dengan nama Siliwangi, yakni Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh. Secara sederhana, ungkapan ini berarti “saling mendidik, saling mengasihi, saling melindungi (menjaga). Di kalangan masyarakat Sunda (Jawa Barat), ungkapan ini sangat populer dan menjadi ajaran moral yang sangat agung.

Ajaran ini pula yang sering dijadikan pegangan oleh Dedi Mulyadi dalam menjalankan kepemimpinannya. Berbagai kebijakan, program dan langkah yang selama ini ia jalankan merupakan manifestasi dari ajaran moral ini.

Dalam banyak kesempatan, Kang Dedi sering memberikan penjelasan tentang ungkapan ini, dengan berbagai ungkapan lainnya yang juga mengesankan. Misalnya ia kerap menyebutkan sebagai berikut:

Nulung kanu butuh

Nalang kanu susah

Nganteur kanu sieun

Nyaangan kanu poekeun…

 

Yang artinya:

Menolong orang yang membutuhkan

Membantu orang yang kesusahan

Mengantar orang yang ketakutan

Menerangi orang yang berada dalam kegelapan

 

Bukan hanya menjelaskan maknanya secara verbal, Kang Dedi juga banyak melakukan berbagai aktivitas yang memanifestasikan ungkapan tersebut. Maka, publik banyak melihat bagaimana ia membantu berbagai kalangan, di berbagai daerah. Ke mana pun ia berkunjung ia selalu mengulurkan tangan bantuan.

dedi dengan ibu-ibu

Tidak jarang, saat pergi menuju rumah satu warga yang hendak dibantu, ia juga membantu sejumlah orang yang ia temui di perjalanan. Misalnya suatu saat ia diberitahu ada seorang warga yang perlu dibantu dan rumahnya harus direnovasi. Di perjalana n menuju rumah warga tersebut, ia juga membantu beberapa orang pedagang kecil (gorengan, es, dan lainnya), dengan memborong semua dagangan mereka, dan dibagikan kepada para warga sekitar.

Tidak perlulah kita tuliskan satu per satu di sini apa yang sudah ia lakukan selama ini, di berbagai daerah. Dari ujung timur Jawa Barat hingga ujung barat, dari ujung selatan hingga ujung utara, ada jejak kebaikan Kang Dedi di sana.

Mungkin ada yang pernah bertanya kepada Kang Dedi mengapa ia melakukan aktivitas “nulung kanu butuh” hingga lintas wilayah. Dan, seperti saat acara Safari Ramadhan di Arcamanik Bandung,  Ki Sunda ini menjawabnya, “Setidaknya satu orang dalam sehari kita bisa bantu orang, mengangkatnya ke arah kehidupan yang lebih baik.”

Itulah ekspresi konkret ajaran Siliwangi yang coba diterapkan oleh Dedi Mulyadi selama ia memimpin. Ajaran “silih asah, silih asih, silih asuh” dimanifestasikan dalam kepemimpinan, kebijakan, program dan keseharian. Tentu saja ini bukan satu-satunya aktivitas Kang Dedi, tetapi aktivitasnya di bidang ini sangat menonjol, dan seolah telah menjadi ciri khas yang memudahkan ia dikenali dari figur-figur lainnya. Dan ia kerap melakukan hal ini secara spontan, karena bertemu orang-orang di perjalanan atau di jalan.

Sebagai elaborasi dari ajaran moral ini, Kang Dedi juga kerap mengaitkannya dengan konsep ajaran “duduluran, sabilulungan, apresiasi dan silih wangi.” Dalam berbagai kesempatan Kang Dedi menerangkan bahwa dallam budaya Sunda itu ada ajaran sebagai berikut:

“Anu jauh urang deukeutkeun.
Geus deukeut, urang layeutkeun.
Geus layeut urang paheutkeun.
Geus paheut urang silih wangikeun.”

Artinya:
“Yang jauh kita dekatkan…
Sudah dekat kita akrabkan…
Sudah akrab kita satukan…
Sudah bersatu kita saling harumkan…”

Begitulah, ajaran Siliwangi adalah  ajaran silih wangi, ajaran untuk saling mengharumkan, saling mewangikan sesama. Dan itulah yang Kang Dedi perlihatkan dalam ekspresi kepemimpinannya selama ini.

Karenanya tidak berlebihan jika Kang Dedi disebut sebagai personifikasi Siliwangi zaman ini. Ia bukan saja memahami ajaran, filosofi dan nilai yang terkandung, namun juga banyak mempraktekkannya dalam perilaku kepemimpinan.

Ia Ki Sunda. Ia Siliwangi jaman ini. Dan ketika masyarakat Jawa Barat (Sunda) menginginkan sosok Sunda yang mengerti dan nyata dalam memahami Sunda dan Jawa Barat, maka sosok inilah yang diharapkan. Jawa Barat adalah Siliwangi. Siliwangi adalah Jawa Barat.

Dan Siliwangi jaman kiwari itu bernama Dedi Mulyadi. Masyarakat Jabar menantinya untuk menjadikan Jabar Sajati….!*

 

Bandung, 18 Agustus 2017

Mahya Lengka

Leave a Reply

close