11# Dedi Mulyadi, Siliwangi Jaman Kiwari (2)

dedi jalan sehat

Mengapa sosok Siliwangi terpersonifikasi dalam sosok Dedi Mulyadi? Ini alasan keduanya. Keduanya sama-sama pengembara, pengelana. Keduanya sama-sama “ngalalana.”

Dalam cerita yang hidup di masyarakat, Prabu Siliwangi dikenal banyak melakukan perjalanan ke berbagai daerah, nyucruk lembur milang desa, nyampeur dayeuh nyaba kota. Mengembara dan berkelana, masuk hutan keluar hutan, menemui rakyat, menyapa dan memantau mereka. Keluar dari istana, dan berbaur bersama rakyat yang ditemuinya. Siiwangi adalah raja yang pengembara.

Selain menemui rakyat, di antara tempat yang dikunjungi Siliwangi (Raden Jawa Dewata, atau Raden Pamanah Rasa ini) adalah sebuah pesantren di Subang yang dipimpin oleh Syekh Quro.

Kebiasaan mengembara sebenarnya bukan hanya dilakukan oleh Siliwangi. Para raja dan calon raja biasanya harus pernah mengembara terlebih dahulu. Begitu pula puteranya, Kian Santang, juga menjalani hal yang sama. Bahkan disebutkan bahwa Kian Santang mengembara hingga ke negeri Hindustan, India.

Kebiasaan dan gaya kepemimpinan seperti ini sekarang diikuti oleh Dedi Mulyadi. Ia sering keluar dari tempatnya tinggal (pendopo Purwakarta), dan banyak keluar ke berbagai daerah, berbagai desa dan sudut-sudut kampung. Gunung, sawah, laut, desa dan kota ia datangi. Bukan saja di daerah Purwakarta, tetapi semua kabupaten dan kota di Jawa Barat sudah ia kunjungi dan temui.

dedi jalan sehat

Masyarakat sudah mengenal kebiasaan Kang Dedi ini. Hingga ada sebagian orang yang menyebutkan kurang lebih begini, “Saking seringnya Kang Dedi menemui masyarakat di semua daerah Jawa Barat. Bisa dibilang bahwa saat ini tidak ada satu galeng sawah pun di Jawa Barat yang belum diinjak oleh Kang Dedi.”

Kang Dedi adalah seorang “pengembara”. Tentu saja dengan gaya dan cara yang berbeda, pengembaraaan dengan gaya zaman ini. Gaya yang kekinian. Kang Dedi banyak berkunjung ke berbagai daerah dan desa. Masuk ke gang-gang sempit, terjun ke lumpur sawah, memanggul karung, menemui nenek-nenek tua, bercengkrama dengan pedagang kecil, masuk ke terminal, naik bis, menaiki tebing gunung, mengunjungi pesantren, dan lain sebagainya. Dan itu semua ia lakukan sudah lama, sejak masih menjadi wakil bupati, dan berlanjut hingga sekarang.

Ketika ada beberapa figur yang mulai ramai didukung oleh sejumlah partai politik sebagai calon gubernur Jawa Barat, beberapa wartawan mencoba bertanya kepada Kang Dedi tentang pencalonan orang-orang itu dan dirinya. Ia hanya menjawab kurang lebih, “Saya ucapkan selamat untuk mereka. Adapun saya sendiri, saat ini adalah Bupati Purwakarta. Saya lebih tertarik untuk bertemu masyarakat di berbagai daerah,mencaritahu apa yang menjadi masalah mereka dan apa yang mereka inginkan.”

Karenanya kita saksikan Kang Dedi sering berada di berbagai tempat dan daerah yang berbeda-beda. Mungkin saat ini ia satu-satunya kepala daerah yang paling banyak berkunjung ke berbagai wilayah, menemui dan membantu masyarakat di berbagai daerah yang bukan wilayah di mana ia menjadi pemimpin secara administratif. Pengembaraannya lintas daerah dan wilayah.

Sejauh yang kita pantau, tidak ada kepala daerah lain yang melakukan advokasi dan memberi bantuan kepada masyarakat yang tidak berada di daerah administratifnya. Baru Kang Dedi yang melakukannya. Dan itu sering ia lakukan sudah lama.

Inilah kesamaan kebiasaan antara Dedi Mulyadi dengan Siliwangi. Yakni laku lampah “ngalalana”. Dan “ngalalana” adalah ciri khas Kang Dedi, Siliwangi jaman kiwari….

Leave a Reply

close