5#Kang Dedi, Pemimpin Jenis Ketiga

dedi di truk

Saya selalu ingat kata-kata Voltaire yang satu ini, “If you wish to converse with me, define your term.” Kalau mau berbincang tentang suatu hal, definisikan dulu istilah-istilah Anda, agar ada kesamaan pemahaman untuk melanjutkan perbincangan. Biar tidak debat kusir.

Kata Voltaire, definisi itu sangat penting. Bahkan, bagi sebagian orang, definisi itu menentukan kualitas seseorang, suatu masyarakat atau bangsa. Jika seseorang ingin meraih kesuksesan yang luar biasa, maka ia harus mendefinisikan kesuksesannya secara luar biasa pula. Definisi yang biasa-biasa tentang kesuksesan, hanya akan mengantarkan seseorang pada kesuksesan yang biasa-biasa pula.

Begitu pun tentang kepemimpinan. Jika sebuah bangsa ingin mendapatkan pemimpin yang luar biasa, maka mereka mesti merumuskan definisi yang luar biasa tentang pemimpin mereka. Pemimpin yang memegang nilai-nilai utama, memperjuangkan prinsip-prinsip keunggulan, memperjuangkan kualitas dan lain sebagainya.

Kepemimpinan (leadership) adalah tema penting yang sangat bersentuhan langsung dengan manusia. Secara sosiopolitik, tema ini pula yang selalu menarik, “seksi” dan ramai dibincangkan orang-orang. Saking ramainya, kerapkali ia menimbulkan ketegangan dan bahkan gesekan.

Kali ini saya ingin coba membahas jenis-jenis kepemimpinan. Dalam pengamatan saya, ada tiga tipologi pemimpin yang merepresentasikan kepemimpinan secara umum di mana pun dan kapan pun, khususnya kepemimpinan di bidang pemerintahan, baik di tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten/kota.

Pertama, pemimpin administratif. Pemimpin administratif menempatkan dirinya sebagai sosok yang lebih menangani hal-hal administratif dan seremonial. Ia menandatangani surat-surat, mengadakan rapat dengan bawahannya, menghadiri acara-acara dan pertemuan, baik di lingkungan daerahnya maupun di luar, atau di jenjang yang lebih tinggi. Ia menemui kelompok-kelompok orang (ormas atau semacamnya), melakukan sejumlah peresmian, dan sejenisnya.

Ia menjadi personifikasi administratif dan legal pemerintahan di wilayahnya. Ia menjadi jembatan administratif antara dirinya dengan bawahannya, atau dengan pemerintahan di atasnya. Ia hanya menjalani kepemimpinan sebagai rutinitas..

Masyarakat dan rakyat hanya merasakan kehadiran pemimpin jenis ini saat ia mengunjungi mereka. Jika besok lusa diganti dengan pemimpin baru yang lain, tidak ada memori apalagi ikatan mendalam mengenai pemimpin ini. Ia hanya pernah tercatat sebagai pernah menjadi presiden, gubernur, atau bupati, atau walikota di sebuah daerah.

Apakah pemimpin seperti ini bermanfaat? Oh, tentu saja bermanfaat. Dengan keberadaannya, pemerintahan dan pelayanan ada dan berjalan. Masyarakat dan rakyat merasakan manfaat kehadirannya, hanya saja dengan perasaan yang biasa-biasa saja. Tidak ada hal besar yang dilakukan oleh pemimpin seperti ini. Kalau pun besok-besok diganti oleh pemimpin yang lain, namanya akan segera lenyap dan dilupakan.

Nampaknya, mayoritas pemimpin pemerintahan di negeri kita –mungkin juga di negara lain– adalah masih seperti ini. Stok pemimpin administratif dan seremonial adalah yang terbanyak. Silakan sebut nama sejumlah pemimpin di Indonesia terutama di tingkat daerah. Kita akan menemukan kebanyakan mereka berada di tipe kepemimpinan jenis ini. Kepemimpinan yang biasa-biasa saja.

Kedua, pemimpin yang membangun. Pemimpin tipe ini telah naik kelas dari tipe sebelumnya. Selain menjalani fungsi-fungsi adminitratif-seremonial yang dilakukan oleh pemimpin administratif, pemimpin tipe kedua ini melakukan berbagai pembenahan dan pembangunan, terutama secara fisikal. Di tangan pemimpin seperti ini, daerah atau kota berubah lebih cantik, lebih rapih, lebih indah, dan familiar bagi para warganya. Di antara mereka ada yang membangun jalan, gedung-gedung, jembatan, taman-taman, merapihkan dan memperindah kota atau daerah.

Masyarakat merasakan kehadirannya lebih konkret, sekalipun ia tidak menemui mereka secara fisik. Jejak-jejak pembangunannya terlihat, tersaksikan dan terasakan oleh para warganya. Tentu saja, masyarakat senang dengan kehadiran dan kepemimpinannya. Mereka bahkan mengidolakan dan menaruh harapan agar ia tampil lebih dari posisinya sekarang.

Indeks kebahagiaan warga bisa naik berkat kepemimpinan yang membangun ini. Dan jika masyarakat di sebuah daerah mendapatkan pemimpin jenis ini, wah, luar biasa senangnya mereka. Selain membanggakan, pemimpin ini akan membuat pembangunan di daerah atau kotanya benar-benar terasa.

Saat ini, tipe pemimpin daerah seperti ini sudah mulai bermunculan. Dan setiap ada pemimpin seperti ini, pemimpin daerah lain sepertinya terpacu untuk sepertinya. Sebagai masyarakat, kita sangat senang dengan kehadirannya, dan bahkan mengharapkan kemunculan lebih banyak lagi seterusnya.

Akan tetapi, jika kita menginginkan pemimpin yang lebih dari sekadar menata dan membangun, maka kita memerlukan kepemimpinan tipe ketiga.

Ketiga, pemimpin yang mengubah. Tipe pemimpin ini menjalani tipe kepemimpinan pertama dan kedua. Ia melakukan peran administratif, juga membangun. Tetapi yang istimewa dari kepemimpinannya adalah ia sekaligus mengubah pola pikir dan perilaku warganya.

dedi di truk

Pemimpin jenis ketiga tidak hanya membangun daerah secara fisik, tidak hanya membangun infrastuktur dan sarana-prasarana, tetapi juga membangun mindset dan perilaku masyarakat. Ia tidak hanya melakukan hard development, tetapi lebih dari itu adalah soft development. Kebijakan-kebijakannya bukan hanya berkaitan dengan sesuatu yang terlihat, tetapi juga akan mengubah cara berpikir dan perilaku orang-orang di daerahnya. Sekalipun perubahan itu dijalani oleh sebagian masyarakatnya (pada awalnya) dengan keterpaksaan, tetapi dampak positifnya akan dirasakan kemudian.

Jika pemimpin tipe kedua saja masih cukup jarang, maka apalagi pemimpin tipe ketiga, sangat langka. Ada, tetapi mungkin baru satu dua, setidaknya yang sudah terekspos secara publik. Sebab, yang harus ia lakukan bukan saja kerja-kerja administrastif dan membangun, tetapi juga mengubah manusia –dan ini yang paling sulit.

Untuk menjadi pemimpin yang mengubah, seorang pemimpin harus juga memiliki kearifan lokal, pencerahan spiritual dan kecerdasan kontekstual. Termasuk dalam makna pencerahan spiritual dan kecerdasan kontekstual adalah kemampuan menangkap spirit dan keunggulan lokal untuk dijadikan keunggulan yang menonjol dan mengubah.

Di antara syarat pemimpin tipe ketiga adalah harus siap tidak populer dan siap mengambil risiko berat dan besar. Jika pemimpin administratif adem ayem, jika pemimpin yang membangun manis-manis dan banyak dipuji, maka pemimpin yang mengubah itu biasanya menegangkan, karena melawan arus. Menegangkan, tetapi mengasyikkan, dan memberikan harapan. Tentu saja jumlah mereka sangat sedikit sekali.

Dan di antara yang sangat sedikit itu, adalah Dedi Mulyadi, atau yang biasa dipanggil Kang Dedi Mulyadi, atau Kang Dedi. Kebijakan, langkah dan gebrakannya telah mengubah Purwakarta dan menginspirasi banyak orang.

Buku ini akan segera memberitahu kita kiprah dan prestasinya yang mencengangkan, mengubah dan luar biasa…!

5 Januari 2017

Leave a Reply

close