4# Kang Dedi dan Akhlak “Nulung Kanu Butuh Nalang Kanu Susah”

dedi dan emak nangis

Kang Dedi sangat aktif berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai kalangan. Dari berbagai videonya, baik yang tersimpan di Youtube maupun akun fanspage Facebooknya, kita bisa melihat beragam aktivitasnya yang menarik, edukatif, juga menghibur.

Dari caranya berinteraksi dengan rakyat, ia bukan sosok yang bauan, natural dan tidak dibuat-buat. Ia tidak jaim saat menyapa dan berinteraksi dengan siapa saja. Ia sering hadir di berbagai kejadian yang sedang dialami sebagian rakyat, tanpa diduga-duga. Ia juga kerap melakukan tindakan yang dilakukan oleh warga yang ditemuinya.

Jika ia mendapat laporan atau melihat langsung warga yang perlu ia tolong, ia responsif bertindak. Ada banyak kisah yang menceritakan ini, baik warga yang Kang Dedi temui secara spontan dan mendadak, maupun warga yang ia sengaja temui karena sebelumnya ia mendapat laporan via sms atau stafnya.

dedi dan emak nangis

Karena itu, Kang Dedi biasa memanggul beras di atas pundaknya, menggendong orang, menyuapi nenek-nenek, memeluk ibu-ibu tua atau tengah baya yang ia bantu, balapan sepeda dengan sejumlah anak-anak usia SMP dengan jarak yang cukup jauh, mengambil sampah dan memasukkannya ke tong sampah, memberi  makan ikan, menggandeng pemuda kebingungan yang ia temukan di depan Taman Maya Datar, dan lain sebagainya.

Kita masih ingat bagaimana peran Kang Dedi dalam membantu Amih, nenek tua dari Garut yang dimejahijaukan ke Pengadilan oleh anak dan menantunya. Kasus Amih ini mencuat dan heboh sehingga dimuat di berbagai TV nasional. Sebagai seorang anak, kita bisa merasakan bagaimana perasaan seorang ibu –apalagi sudah renta—yang dituntut oleh anaknya ke pengadilan. Dituntut ke Pengadilan tentu saja bukan pengalaman yang mengenakkan,bahkan ini bisa jadi menakutkan.

Karena teringat sosok ibu kandungnya, Kang Dedi turun tangan, tergerak untuk menyelesaikan kasus Amih secara kekeluargaan, bahkan siap menyediakan bantuan hukum jika kasus ini tetap di bawa ke ranah hukum. Beberapa kali Kang Dedi menemui Amih di Garut untuk membela dan menguatkan Amih. Singkat cerita, akhirnya beberapa bulan kemudian Pengadilan membebaskan Amih.

Kita juga masih ingat kisah Kang Dedi yang berinisiatif mengganti patung harimau di koramil Cisewu Garut. Awalnya stafnya menemukan patung harimau di koramil tersebut terlihat “lucu”, tidak berwibawa sebagaimana layaknya harimau di kantor tentara. Singkat cerita, Kang Dedi mengganti patung harimau itu dengan patung yang gagah dan memiliki “sima”. Selain dirinya, peresmian patung itu bahkan dilakukan dengan menghadirkan bupati Garut, Rudi Gunawan.

Pada waktu lain, Kang Dedi juga membantu keluarga Tionghoa di Rengasdengklok Karawang yang rumahnya sangat bersejarah karena dulu digunakan oleh Soekarno Hatta sebelum Proklamasi. Awalnya Kang Dedi mendengar bahwa pemilik rumah bersejarah ini sedang kesulitan uang, hingga ada sekelompok orang yang mencari sumbangan untuk rumah itu.

Mendenar kabar ini, sepulang dari Jakarta dalam perjalanan pulang ke Purwakarta, Kang Dedi sengaja mampir ke rumah tersebut di Rengasdengklok Karawang. Singkat cerita, Kang Dedi menemui pemilik rumah yang keturunan Tionghoa itu dan membantunya. Sempat ia menawarkan kepada pemilik rumah itu agar rumah itu bisa Kang Dedi beli untuk dijadikan museum nasional sehingga menjadi milik aset bangsa.

Kang Dedi juga berada di sisi seorang ibu yang melahirkan di tol pada mudik lebaran 2017 yang lalu, karena si ibu dibawa oleh polisi ke rumah sakit Siloam di Purwakarta. Ia juga menjadi penolong bagi seorang ibu di kota Bandung yang memiliki anak dengan kondisi tulang yang rapuh jika bergerak bahkan sekadar batuk, juga seorang anak perempuan berkebutuhan khusus di Padasuka Bandung.

Dengan berbagai tindakan ini sangat terlihat bahwa Kang Dedi sangat intensif dalam berinteraksi dengan masyarakat. Dan menariknya, interaksi tersebut tiidak hanya terbatas di wilayah di mana ia menjadi bupati, melainkan tersebar ke berbagai daerah di Jawa Barat. Dari ujung timur hingga ke barat, dari ujung utara hingga selatan Jabar, Kang Dedi sudah mendatangi dan menemui para warganya.

Apakah interaksi intensif ini ia lakukan baru-baru ini pada tahun 2017? Jika kita melihat berbagai video aktivitasnya di Youtube, kita bisa menemukan aktivitas interaktif itu banyak yang bertanggal di tahun 2016 dan 2015. Artinya ia sudah lama melakukan interaksi ini, dan sekarang masih berlanjut bahkan sering disiarkan langsung via akun Facebooknya.

Sebagai seorang bupati, mobilitas Kang Dedi sangat tinggi. Ia sering keluar dari rumah dinasnya setelah salat subuh, dan melakukan tugas-tugas pemimpin kepada masyarakatnya.  Waktu baru sekitar jam 05.00 lebih, tetapi Kang Dedi sudah bersiap dengan mengenakan kaos dan iket. Ia keluar dari rumah dinas, menyisir, menyusuri dan mengecek kebersihan Taman Maya Datar, memungut sampah dan menemui petugas kebersihan, memberi makan ikan, menyapa warga yang sedang berkunjung ke Taman dan memintanya berselfi.

Kemudian ia melanjutkan perjalanan kakinya ke luar Taman. Ketika ia bertemu dengan pedang gorengan, ia berhenti dan menanyakan banyak hal, yang ujung-ujungnya membeli semua gorengan pedagang itu dan dibagikan kepada orang-orang di sekitarnya. Perjalanan ia teruskan dengan memasuki gang-gang sempit di kampung, melewati galengan sawah, menyapa dan bercengkrama dengan warga pagi hari di rumah-rumah mereka.

Setelah menempuh perjalaan kaki cukup jauh, yang diselingi berbagai aktivitas spontan bersama para warga yang berpapasan atau ia temukan, ujung-ujungnya ia berhenti di sebuah rumah dari sebuah ibu tengah baya yang memerlukan bantuan. Sebelumnya ada sms masuk ke nomor Kang Dedi, memberitahukan kondisi prihatin si ibu itu dengan rumahnya yang mengkhawatirkan.

Singkat cerita, sesampainya di rumah tersebut, Kang Dedi bukan saja memborong gorengan yang dijual si ibu, tetapi juga memberi pekerjaan kepada suaminya yang bekerja serabutan, dan mengangkatnya sebagai petugas kebersihan dengan gaji 2,1 juta sebulan. Lebih dari itu, ini yang sangat mengharukan si ibu tadi, Kang Dedi merenovasi rumahnya.

Ada juga orang cukup terkenal yang kehidupannya sedang jatuh. Ia bertemu Kang Dedi. Dan Kang Dedi mengulurkan tangan kepadanya, dan mengajaknya bangkit dan bersinar kembali. Kang Dedi memberinya panggung bersama dan tampil di berbagai event yang Kang Dedi selenggarakan, baik di daerah Purwakarta sendiri, maupun di daerah-daerah lainnya.

Itulah sebagian aktivitas dan interaksi yang Kang Dedi biasa lakukan. Ada banyak yang belum kita tuliskan di sini. Tetapi beberapa contoh di atas sudah cukup menggambarkannya.

Apa yang Kang Dedi lakukan ini sebenarnya adalah manifestasi dari apa yang sering ia sampaikan. Ia mengutip filosofi dan akhlak Sunda yang sangat Islami ini, yakni :

Nulung kanu butuh
Nalang kanu susah
Nganteur kanu sieun,
Nyaangan nu poekeun
.

Yang artinya adalah:

Menolong orang yang membutuhkan
Membantu orang yang sedang susah
Mengantar orang yang sedang ketakutan
Menerangi orang yang sedang berada dalam kegelapan.*

Bandung, 27 Juli 2017

Ashoff Murtadha
(Mahya Lengka)

Leave a Reply

close