2# Dedi Mulyadi, Tukang Ngarit yang Inspiratif

dedi dan padi

Kang Dedi adalah anak desa, yang lahir di sebuah kampung di Jawa Barat bagian utara, tepatnya Subang. Kelahiran 11 April 1971. Dan ia selalu bangga menyebut dirinya sebagai “urang kampung”, urang kampung bau lisung. Lisung adalah sebuah alat tradisional untuk menumbuk padi. Lisung adalah alat yanag terbuat dari batu, dan hanya ada di kampung.

Dulu, untuk mendapatkan beras, orang kampung harus menumbuk padi di dalam lisung, dengan sebuah alat bernama halu. Halu terbuat dari kayu yang dibuat sebegitu rupa, dengan ukuran yang bisa dipegang dan digenggam oleh tangah manusia dewasa, ujungnya dibuat tumpul. Dengan ujung tumpul itulah orang kampung menumbuk padi di lisung. Lisung adalah alat khas orang kampung. Karenanya, ketika seseorang disebut “urang kampung bau lisung” berarti orang tersebut asli dan tulen orang kampung.

dedi dan petani d sawah

Sebagai orang kampung, semasa kecilnya, Kang Dedi terbiasa ngarit.  Ngarit adalah menyabit rumput untuk dijadikan makanan binatang ternak, terutama domba atau kambing. Jadi, Kang Dedi adalah tukang ngarit. Sebagai tukang ngarit, ia juga menggembala domba, yang akrab dengan sawah. Karena sering ke sawah, ia juga sering mencari belalang di sawah untuk dimakan, maksudnya untuk dijadikan lauk pauk sebagai teman nasi.

Selain itu, semasa sekolah dasar, Kang Dedi juga pernah mencari uang dengan menjual es bonbon, membuat layang-layang, dan ikut menjadi buruh membuat bata.  Itu semua ia lakukan untuk bisa survive bersama ibu dan keluarganya. Agar ia bertahan hidup bersama ibu dan keluarganya, dan tetap bisa bersekolah, i a menjalani hidup perih dan prihatin. Ia sendiri adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara, sementara ayahnya dipecat kejujurannya dalam menjalani tugas. Di tengah keluarga yang besar dan prihatin itulah Dedi Mulyadi tumbuh.

Usia mahasiswa, ia pindah ke Purwakarta. Sekalipun ia diterima masuk UMPTN di Unpad, namun karena kondisi ekonomi, ia tidak mengambil kuliah di parguruan tinggi favorit di Jawa Barat itu. Dan ia berkuliah di Sekolah Tinggi Hukum di Purwakarta. Nah, saat menjadi mahasiswa itulah ia juga sempat menjadi tukang ojek, dan kemudian menjadi buruh di sebuah pabrik di Purwakarta.

Saat mahasiswa, bersama beberapa temannya, ia mendirikan organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Purwakarta. Dan pengalaman di kemahasiswaan dan dunia buruh inilah kelak mengantarkannya sebagai seorang politisi. Pada tahun 1999 ia terpilih menjadi anggota DPRD termuda pada masanya, di Purwakarta.

Dari sinlah titik balik kehidupannya. Setelah menjadi anggota DPRP Purwakarta, selanjutnya ia terpilih menjadi Wakil Ketua DPRD Purwakarta. Tidak lama berselang, pada tahun 2003 ia terpilih menjadi Wakil Bupati Purwakarta termuda pada masanya. Dan lima tahun kemudian, tahun 2008 ia terpilih sebagai Bupati Puwakarta pertama yang dipilih langsung oleh rakyat, untuk periode 2008-2013, dan terpilih kembali untuk kedua kalinya pada tahun 2013-2018.

Nah, saat ia menjadi bupati inilah perubahan revolusioner terjadi, baik bagi dirinya maupun Puwakarta yang dipimpinnya. Dulu bukan siapa-siapa, kini Dedi Mulyadi sangat populer di mana-mana, hingga ke mencanegara. Ia bahkan tercatat sebagai satu-satunya kepala daerah (bupati/walikota atau gubernur) di Indonesia yang berbicara di atas podium PBB di New York, sebagai pemimpin muda yang inspiratif. Hingga sekaranga prestasi ini belum terulang oleh yang lainnya di Indonesia.

Tukang ngarit ini sekarang sangat populer dengan fenomena yang mencengangkan. Banyak sentuhan tangannya di Purwakarta yang luar biasa dan mengundang decak kagum, dan sampai sekarang masih terus mengkreasi berbagai capaian baru yang spektakuler.

Cukuplah Taman Air Mancur Sri Baduga yang merupakan Taman Air Mancur terbesar di Asia Tenggara itu, menjadi bukti betapa fenomenalnya kreasi Kang Dedi. Yang terbaru, adalah pembangunan Hotel Gantung di Tebing Gunung 99 kamar yang sangat menantang. Hotel yang bernama Padjadjaran Anyar atau Badega Gunung Parang itu menjadi hotel gantung tertinggi di dunia.

Hotel serupa baru ada di Peru, itu pun dengan ketinggian hanya 122 meter dari permukaan tanah. Lalu sebarapa tinggi hotel gantung Badega Gunung Parang? Beberapa kali lipat, tingginyai 400 hingga 900 meter. Luar biasa… ! Yang namanya hotel gantung di tebing gunung itu di seluruh dunia baru ada di dua negara, yakni, Peru dan Indonesia. Dan yang dimaksud dengan Indonesia itu adalah Purwakarta. Dan fenomenalnya, Badega Gunung Parang Purwakarta itu tertinggi, dan sangat jauh bedanya dengan Peru.

Itulah Kang Dedi Mulyadi, mantan tukang ngarit yang telah menorehkan prestasi pembangunan yang tidak terbayangkan oleh para pemimpin lainnya. Ia telah mengubah kabupaten kecil bernama Purwakarta menjadi kota yang sekarang sangat menakjubkan.

Saat ini, jika nama Purwakarta disebut, publik sudah langsung familiar dan mengenalinya. Mereka mengingat Purwakarta sebagai kota dengan banyak destinasi wisata. Dan salah satu destinasi itu adalah Taman Air Mancur berkelas dunia, dan terbesar setidaknya se-Asia Tenggara. Namanya juga gagah, Taman Air Mancur Sri Baduga.

Sekarang  ini, kalau orang mau ke Purwakarta, tujuan utama mereka adalah Taman Air Mancur, kecuali bagi yang sudah mengunjunginya. Meskipun ada beberapa destinasi yang keren-keren, tetapi Sri Baduga terlalu sayang untuk dilewatkan. Meskipun normalnya dibuka sekali dalam seminggu, yakni setiap malam minggu, namun pesonanya bisa menghadirkan sekitar 50 ribu pengunjung dalam sepekan. Ini  jumlah yang luar biasa, baraya…!

Dan itu semua berawal dari visi besar sosok Dedi Mulyadi ini. Karenanya wajar jika kini namanya telah tercatat sebagai salah satu pemimpin di Indonesia yang sangat populer di negeri ini, baik di dunia nyata maupun maya. Bahkan, untuk popularitasnya di medsos semisal Facebook, popularitasnya sudah mengalahkan hampir seluruh tokoh politisi nasional yang sudah lama malang melintang di blantika politik dan media sosial. Kita bisa membuktikannya sendiri.

Itulah Kang Dedi Mulyadi, tukang ngarit yang terus melejit dan inspiratif….!*

 

Bandung, 27 Juli 2017

Ashoff Murtadha
(Mahya Lengka)

Leave a Reply

close