The Power of Beras Perelek, “Keajaiban” dari Purwakarta

dedi mulyadi dan perelek

Saya asli kelahiran Majalengka, bagian dari wilayah Sunda yang ada di wilayah Jawa Barat bagian timur, berbatasan dengan budaya Indramayu (Dermayu) dan Cirebon (Cerbonan). Sekalipun Majalengka merupakan daerah Sunda, namun saat saya masih tinggal di Majalengka, saya belum mengenal istilah Beras Perelek.

Setelah saya berkeluarga, tinggal dan bermasyarakat di sebuah daerah di kawasan Bandung, untuk pertama kalinya saya mendengar istilah Beras Perelek dari seorang nenek-nenek yang aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Sekitar tahun 2008 an. Katanya, untuk saling membantu di antara warga, ia mengusulkan warga menghidupkan Beras Perelek. Kata si nenek, dengan program beras perelek, setiap warga menyisihkan satu sendok beras dan ditabungkan di sebuah tempat. Dalam seminggu, tabungan beras itu akan diambil oleh petugas. Dihimpun dengan semua tabungan beras dari semua warga yang lain, maka dalam seminggu dan sebulan bisa terkumpul sekian kilogram atau kwintal beras. Dari hasil pengumpulan beras itu warga bisa membantu warga sekitar yang perlu dibantu.

Si nenek menceritakan konsep ini saat bertamu ke rumah saya. Gagasan bagus dan keren, komentar saya. Hanya saja, karena kami masyarakat pendatang yang heterogen, yang belum sepenuhnya mengerti konsep beras perelek ini diwujudkan, apalagi belum ada pihak terpercaya yang menggerakkan, maka gagasan si nenek ini tidak berjalan.

Hingga bertahun-tahun setelah itu, bagi saya beras perelek hanya merupakan sebuah istilah yang sempat saya dengar, dan belum manifes. Belum pernah terbayangkan sebelumnya bahwa beras perelek ini ternyata merupakan sebuah budaya luhur peninggalan Urang Sunda, yang menjadi solusi ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan bagi sebuah masyarakat. Sama sekali belum terbayang saat itu.

Belakangan, pada awal tahun 2017 ini saya kembali mendengar istilah beras perelek ini, namun dengan kesan yang sama sekali berbeda. Kalau pada tahun 2008 hanya sebatas mendengar dan sedikit paparan dari si nenek tadi, maka pada awal 2017 ini saya mendengar berita bahwa ada sebuah masjid di kabupaten Purwakarta yang dibangun dari hasil Beras Perelek. Beritanya sebenarnya sudah cukup lama, yakni bulan Pebruari 2016, namun saya baru membacanya pada awal 2017.

Tepatnya di desa Cilandak kecamatan Cibatu kabupaten Purwakarta, masyarakat setempat berhasil membangun masjid dari hasil penjualan beras perelak yang dikumpulkan sedikit demi sedikit dari warga sekitar. Mendengar berita ini saya terhenyak. Luar biasa, sesendok beras yang dikumpulkan tiap hari oleh para warga selama sekian waktu itu ternyata berhasil menjadi sebuah masjid baru yang cukup megah di desa Cilandak.

Mau tahu seperti apa bentuk masjidnya? Saya menemukan gambarnya di bawah ini:

Adapun berita lengkap mengenainya bisa di baca di sini. Jadi, sekalipun awalnya konsep beras perelek dimaksudkan untuk santunan sosial, namun dalam perkembangannya ia juga bisa digunakan untuk membangun fasilitas publik di masyarakat. Dan masyarakat Cilandak Cibatu Purwakarta telah membuktikannya.

Belum juga kekaguman saya yang ini hilang, pada tanggal 1 Juni 2017 lalu saya mendengar lagi berita yang ramai di media online, yakni tentang diluncurkannya ATM Beras (lagi-lagi) di Purwakarta. Sebuah program pemkab Purwakarta dalam rangka mewujudkan keadilan sosial bagi masyarakat Purwakarta. Dengan program ini, masyarakat yang tidak mampu mendapatkan jatah 15-30 kg beras per bulan, dan beras itu bisa diambil sendiri oleh mereka melalui mesin ATM Beras, sesuai keperluan. Sebelumnya mereka diberi kartu ATM yang berkode, sebagaimana layaknya kartu ATM uang pada umumnya.

Pertama kali diluncurkan di desa Wanakerta kecamatan Bungursari oleh Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, ATM Beras memudahkan warga  tak mampuuntuk mendapatkan bantuan pangan berupa beras, dengan kualitas super, bukan kualitas raskin. Dan, mereka mendapatkannya gratis. Sekalipun peluncurannya baru di Desa Wanakerta Bungursari, namun visinya ATM ini akan dihadirkan di setiap RW di seluruh desa di Purwakarta. Jumlah desa di Purwakarta ada 183.

Dari manakah beras-beras yang disediakan dalam mesin ATM Beras itu? Ini yang menarik. Ternyata bukan berasal dari pemerintahan pusat, bukan dari pemerintahan provinsi. Bahkan juga bukan dari pemerintahan kabupaten Purwakarta sendiri. Melainkan dari hasil gotong royong warga berbagai kalangan dan lapisan. Baik perusahaan (dari hasil CSR) maupun perorangan. Untuk kalangan perorangan, mereka berasal dari para pegawai negeri, Aparatur Sipil Nasional (ASN), TNI/Polri, buruh pabrik dan segmen-segmen masyarakat lainnya.

Lalu bagaimana cara mereka mengumpulkan dan menghasilkan beras-beras itu? Jawabnya ya itu tadi, Beras Perelek. Sejak Kand Dedi Mulyadi menjadi Bupati Purwakarta, masyarakat Purwakarta sudah digerakkan dan digalakkan untuk menghidupkan tradisi Beras Perelek. Kang Dedi membuat kebijakan, dan masyarakat Purwakarta menyambut dan mengikutinya. Maka hasilnya sekarang kita dengar. Salah satunya adalah pembangunan masjid tadi, dan berikutnya lagi adalah ATM Beras, sebuah program ketahanan pangan yang lebih well-managed dan organized. Lebih jauh tentang ATM Beras Purwakarta ini silakan ibaca di tulisan saya yang lain.di media ini, berjudul ATM Beras Purwakarta Inovasi Baru Keadilan Sosial di Indonesia.

Mau tahu wadah yang digunakan warga untuk menampung beras perelek sehari-hari, dan bagaimana ditempatkan? Gambar ini menunjukkanya. Wadah itu terbuat dari bambu, kemudian dibentuk sebegitu rupa. Setelah itu disimpan di teras rumah. Setiap hari warga memasukkan beras (misalnya sesendok) ke dalam wadah tersebut. Dan setiap minggu (atau waktu lainnya) petugas mengambilnya dari seluruh warga.

Di antara keunggulan beras perelak adalah bahwa beras yang dikonsumsi oleh masyarakat yang membutuhkan itu kualitasnya super, kualitas premium. Ini berbeda dengan kualitas beras raskin. Karena beras perelek diambil dari beras yang biasa dimakan sehari-hari oleh setiap warga pada umumnya, maka tentu saja kualitas berasnya baik. Beras yang disedekahkan itu sama dengan beras yang dimakan oleh penyedekahnya. Jika penyedekah itu biasa makan misalnya dengan kualitas beras harga Rp 10.000 atau Rp 11.000, maka beras itu pulalah yang diterima dan dimakan oleh masyarakat yang mengambilnya dari ATM Beras. Inilah salah satu wujud keadilan sosial.

Jadi, orang yang miskin dan berkecukupan sama-sama merasakan dan mengkonsumsi beras yang kualitasnya sama, sama bagusnya. Sehingga gizi masyarakat bisa meningkat. Kesamaan rasa di antar masyarakat akan tercipta. Selain menjadi wujud membangun ketahapan pangan warga, program beras perelek juga membangun dan memupuk rasa keadilan kemanusiaan.

Di sisi lain, secara spritual, saling bantu sesama masyarakat ini akan menciptakan spiritualitas yang bagus. Kepekaan dan kepeduliaan sosial tidak hanya dibicarakan di atas mimbar atau disampaikan dalam janji-janji politik saat kampanye, melainkan benar-benar konkret, terprogram, terkelola dan profesional.

Tidak kalah penting, untuk meningkatkan kualitas hidup dan ketahanan pangan masyarakat, pemerintah tidak harus terbebani oleh penyediaan anggaran yang dikhususkan untuk itu, yang pastinya berjumlah besar. Asal pemerintah mampu menggerakkan masyarakat atau rakyatnya dengan program-program hebat yang mengadopsi dari budaya-budaya lokal yang luar biasa, maka merealasikan keadilan dan kesejahteraan sosial itu bisa dilakukan secara bersama-sama dengan masyarakat. Asal disadarkan, digerakkan dan difasilitasi, masyarakat ternyata siap melakukannya.

Program beras perelek diberlakukan kepada semua warga di Purwakarta. Karenanya ini bisa menghasilkan penghimpunan beras dalam jumlah yang sangat besar setiap bulannya.

Karenanya, suatu waktu nanti hasil dari gerakan budaya beras perelek ini, bukan saja bermanfaat bagi ketahanan pangan masyarakat Purwakarta, termasuk kegiatan membangun di dalamnya, namun juga bisa digunakan untuk membantu dan membantu masyarakat di luar Purwakarta. “Kita juga bisa memberikan pada masyarakat di luar Purwakarta. Bisa itu karena mereka kekurangan beras atau masyarakat yang terkena musibah,” kata pria yang akrab disapa Kang Dedi itu. (sumber di sini)

Beras Perelak yang merupakan tradisi lama masyarakat Sunda (mungkin di daerah lain budaya ini sebenarnya ada juga, hanya belum muncul atau dimunculkan) ternyata bisa menjadi kekuatan sosial yang dahsyat. Manifestasi dari Beras Perelek ternyata bukan saja tentang ketahanan pangan, bukan saja tentang keadilan sosial, tetapi juga untuk mewujudkan pembangunan fisik dan lain sebagainya. Kang Dedi Mulyadi di Purwakarta sudah membuktikan dan meneladankannya. Tidak muluk-muluk, hanya berawal dari Beras Perelek saja. Namun karena diberlakukan kepada semua warga, maka jadilah ini sebagai kekuatan besar membangun negeri dan manusia.

Sebagai sebuah kebijakan dan program pemkab, yang direspon antusias oleh masyarakat secara luas, kalangan buruh juga ikut di dalamnya. Diawali oleh respon positif para buruh sendiri, akhirnya dengan Perbup Kang Dedi menetapkan bahwa pekerja yang berpenghasilan 3 juta sebulan, menyedekahkan beres perelek 1/4 liter sebulan; berpenghasilan 5 juta, menyedekahkan 1/2 liter; berpenghasilan 7,5 juta, menyedekahkan 3/4 liter; dan yang berpenghasilan 10 juta, menyedekahkan 1 liter beras sebulan.

Lihatlah bagaimana antusiasme para buruh Purwakarta terlibat dalam gerakan beras perelek di daerah mereka, sesuatu yang belum terjadi di daerah-daerah lain.

Tentang antusiasme buruh dalam gerakan budaya perelek bisa juga dibaca di sini.

Alhasil, dengan gerakan menghidupkan Budaya Beras Perelek di Purwakarta ini, plus wujud buktinya setelah sekian lama ditradisikan di kabupaten terkecil kedua di Jawa Barat ini, saya semakin yakin bahwa budaya memang merupakan kekuatan yang sangat dahsyat dalam membangun negeri dan kemanusiaan.

Jadi, ketika Kang Dedi terus menerus konsisten menyuarakan narasi besar Budaya dan Desa itu, karena baginya visi itu sangat jelas tergambar dalam imajinasinya sebagai seorang pemimpin. Dan kini masyarakat luas mulai merasakannya dengan sangat konkret dan massif. Bukan hanya wacana, tetapi jelas bukti nyata…

Inilah the power of Beras Perelek. Inilah the power of Indonesian Culture… Masyarakat Indonesia kini makin mengakuinya… Dan ini bagian dari keajaiban budaya yang dipelopori oleh Purwakarta.

Selamat, dangiang Ki Sunda, Kang Dedi Mulyadi… Terima kasih sudah menginspirasi, dan teruslah mengedukasi…!

https://news.detik.com/berita/d-3132094/perelek-solusi-subsidi-beras-ala-purwakarta

 

19 Juni 2017

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

close