Revolusi Mental Jokowi Memberitahu Kita Banyak Orang “Sakit”

jokowi santai

Saat kampanye Pilpres 2014 lalu, ada beberapa kata kunci yang melekat dengan Jokowi, seperti blusukan, tol laut, hari santri, nawacita, slogan “Jokowi adalah kita”, dan tentu saja Revolusi Mental. Tulisan ini akan fokus pada keyword Revolusi Mental.

Sejak frase Revolusi Mental muncul ke permukaan pada tahun 2014 lalu, secara pribadi, saya melihat ini merupakan frasa yang sangat menarik dan menggelitik, juga menggebrak. Apa daya tarik dan gebrakannya? Saya melihatnya dari sisi motivasi dan mindsetting-nya. Saya melihatnya dari sisi seseorang yang menyukai dunia motivasi dan brain building.

Seingat saya, frasa ini terasa menggelegar di langit kita, terutama di kalangan mereka yang menyukai berita dan isu politik saat itu. Seperti biasa, pro kontra membumbung, bahkan oleh sebagian orang dibikin memusingkan, menyimpang dari makna awal dari frasa tersebut. Hingga ada kalangan yang mengaitkan frasa ini dengan komunisme dan sejenisnya. Sehingga di kalangan lawan Jokowi, frasa ini juga dijadikan salah satu bahan untuk mengukuhkan tuduhan mereka tentang Jokowi waktu itu.

Sebagai sebuah ungkapan, frasa ini sangat keren, namun kontroversial di mata kalangan lain. Secara nasional, frasa ini berhasil menjadi wacana baru saat itu yang menarik diperbincangkan. Tak kurang, bahkan seorang SBY yang akan jadi mantan pun turut mengomentarinya.

Saya tidak ingin mengulas apa kata orang-orang yang kontra terhadap Jokowi. Sebab, tentu saja yang mereka lihat dan bincangkan dari frasa ini hanya sisi negatif saja. Sementara dalam kesan pribadi saya, sejak pertama frasa ini dimunculkan, saya melihatnya justru sangat positif dan keren. Bahkan saya berpikir, inilah yang sangat dibutuhkan oleh bangsa ini. Yakni, perubahan mental. Perubahan yang kelak berdampak pada perubahan cara berpikir, perubahan kebiasaan, dan perubahan dalam cara hidup.

Sebab, kita sama-sama tahu dan merasakan, sebenarnya ada yang tidak “beres” dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara saat ini, bahkan dalam skup yang sangat kecil, dalam bermasyarakat. Karena “ketidakberesan” itu sudah menjadi budaya, sehingga kita membiarkannya dan tidak mempedulikannya. Sebagian kita menyadari ada keburukan dalam sebagian kebiasaan kita secara kolektif, yang tercermin dalam aktivitas pelayanan publik. Namun, yang bisa kita lakukan hanya mengomel dan membicarakannya di belakang. Adapun untuk mengubahnya, wah entah dari mana, dan bagaimana caranya.

Orang-orang berbicara tentang budaya korupsi dan pungli yang ada di mana-mana. Kita juga mengetahui ini dan merasakannya. Sebagian kita bahkan mungkin harus melakukannya. Seperti di dunia pekerjaan, pelayanan, bahkan pendidikan. Mengapa harus melakukannya? Karena budayanya begitu. Jika tidak melakukannya, kita tidak mendapatkan sesuatu atau pelayanan yang kita butuhkan.

Orang-orang mengecam korupsi. Tetapi kita juga mengerti bahwa para pengecam belum tentu bisa menghilangkannya. Bahkan, jangan-jangan, pengecam juga justru pelaku. Seperti kita saksikan sendiri, sebagian dari orang-orang yang tertangkap oleh KPK itu adalah orang-orang yang juga turut menyuarakan anti korupsi atau menolak korupsi.

Jadi, kesimpulannya, ini bukan tentang perlunya kita memberantas korupsi. Tetapi lebih dari itu adalah tentang perubahan mental dan cara berpikir kita tentang korupsi itu sendiri. Karena sulit mengubah sesuatu yang sudah membudaya, maka perubahan tersebut harus revolusioner. Dan sebagai seorang pemimpin yang memiliki kewenangan atas pemerintahan dan birokrasi, maka seorang Presiden harus bisa menerjemahkannya dalam bentuk kebijakan dan program.

Mengapa kita sebagai sebuah bangsa memerlukan Revolusi Mental? Saya menemukan jawaban yang bagus di bawah ini:

Yakni karena ada tiga masalah pokok dalam berbangsa saat ini, yakni:

  1. Merosotnya wibawa negara
  2. Lemahnya sendi perekonomian bangsa
  3. Intoleransi dan krisis kepribadian bangsa

Dalam tullisan ini saya tidak menyoroti yang pertama dan kedua. Saya ingin membahas yang ketiga saja, yakni intoleransi dan krisis kepribadian bangsa.

Sepertinya selama ini kita merasa kepribadian bangsa kita baik-baik saja. Kita juga sering bangga menyebut diri sebagai bangsa yang toleran dan bhineka tunggal ika. Bayangkan, 17.000 lebih pulau dengan ratusan bahasa daerah dan etnis beragam, Indonesia bisa bersatu padu dan saling menghargai. Tidak ada di belahan dunia lain sedamai dan semenyatu Indonesia.

Akan tetapi, kita juga sering menemukan kasus-kasus di mana ekspresi kekerasan dan bahkan penghancuran terjadi di berbagai tempat dan daerah. Bukan sekadar tawuran anak sekolah atau antar geng anak muda, melainkan kerusuhan sosial yang melibatkan antar etnis. Meskipun hanya beberapa kasus di sejumlah daerah, dan berhasil diselesaikan sesudahnya, namun secara potensial tentu saja masih harus diwaspadai dan diantisipasi.

Dari segi kepribadian bangsa kita sama-sama sepakat bahwa bangsa kita adalah bangsa yang ramah dan cinta damai, bangsa yang memiliki kearifan lokal yang tinggi, dan bangsa yang menghargai kemajemukan dan mencintai kemajuan. Tetapi mari kita lihat, begitu masa kampanye Pilpres 2014 yang lalu mulai, segera kita saksikan banyak terjadi saling fitnah, menyebarkan berita bohong, serta ketidakrelaan menerima perbedaan. Kita juga bahkan menemukan hal-hal irasional dari sebagian bangsa ini.

Misalnya, karena begitu fanatiknya mendukung seorang capres, sampai ada seorang magister atau doktor yang berkampanye dan menyebut capresnya sebagai titisan Tuhan. Ada juga dari mereka yang mengatakan dalam kampanyenya, bahwa jika capresnya kalah maka mereka akan menuntut Tuhan. Ada lagi seorang tokoh yang sudah sepuh yang menggambarkan arena Pilpres 2014 sebagai Perang Badar (perang antara umat Islam dan kaum musyrikin Quraisy). Dan lain sebagainya.

Jika dikaji dalam keadaan normal, ucapan-ucapan tersebut di atas jelas sangat irasional. Bagi seorang Muslim, apalagi berpendidikan tinggi, menyebut seseorang sebagai titisan Tuhan itu jelas berakibat pada syirik. Apalagi hendak menuntut Tuhan, itu jelas merupakan penentangan dan kesombongan. Menggambarkan arena Pilpres sebagai arena Perang Badar jelas ahistoris dan tidak faktual, seolah pengucapnya bukan seorang tokoh yang banyak membaca buku dan arif melihat realitas.

Sebelum masa Pilpres kemarin, hal-hal irasional seperti itu sungguh tidak pernah terbayangkan akan terjadi di tengah bangsa ini, apalagi dilakukan oleh figur-figur yang ditokohkan. Namun, ternyata faktanya ada, dan masih terus berlanjut hingga sekarang, di mana medsos menjadi keseharian bangsa ini.

Kini, dengan kemudahan medsos, kita lihat, setiap orang sepertinya berhak berbicara dan berkomentar, juga memposting apa saja, tidak peduli benar atau salah, baik atau buruk. Dan karena kebencian serta kebodohan akut, seorang perempuan muda lugu yang bahkan bahkan belum lancar membaca Al-Quran sekalipun sudah berani menuduh murtad dan kafir kepada ulama mumpuni dan ahli ilmu yang sejak kecil hari-harinya digunakan untuk mencari dan menggali ilmu serta mencerahkan umat.

Orang-orang bodoh dan lemah akal merasa pintar, sampai menyuruh tobat kepada para kyai sepuh yang tidak sepaham dengan mereka. Ibu-ibu muda berjilbab lebar dan sering membacakan ayat-ayat suci Al-Quran, tanpa beban dan merasa bersalah menyerang dan menghina sesama Muslim lain yang berbeda. Bahkan setingkat figur yang sangat bangga menyandang gelar doktor sekalipun, tanpa malu-malu memamerkan kebodohannya secara terbuka di twitter dan lainnya, bahkan “bertengkar” di medsos dengan seorang anak remaja yang lebih pantas menjadi anaknya (kebetulan remaja ini adalah anak dari temannya yang pilihan politiknya berbeda).

Sekarang kita lihat, medsos telah menyingkap rahasia-rahasia kepribadian orang yang sebelumnya tersembunyi dan ditutup rapat-rapat. Keburukan dan kebodohan sengaja diperlihatkan dengan bangga, dan –lagi-lagi– dirasakan sebagai amal saleh. Kiranya kita semua memahami sekarang bahwa untuk mengetahui orang-orang itu bodoh atau cerdas, mudah saja. Perhatikan saja apa yang mereka tulis dalam medsos yang mereka ikuti.

Gara-gara capres dukungan mereka kalah oleh seorang tukang meubel berwajah ndeso, kebencian demi kebencian terus diproduksi. Fitnah, tuduhan, serangan dan semacamnya terus disebarkan setiap hari, bahkan setiap jam dan menit. Dan sosok Presiden Jokowi selalu menjadi “inspirasi” bagi lahirnya berbagai kebodohan dan ketidakwarasan mereka. Hati mereka makin tertutup, dan sepertinya tidak lagi mampu melihat sisi kebaikan dan keunggulan Jokowi kendatipun begitu besar, kontras dan terang benderang. Jangan-jangan hati mereka sudah berubah jadi batu hitam yang legam.

Pikiran, perasaan, ucapan, dan tulisan mereka seolah hanya berisi kebencian dan kemarahan kepada Pak Jokowi. Hingga sekarang belum juga berhenti. Jika kita sebutkan satu persatu, sudah tidak bisa kita lakukan lagi, saking banyaknya, hingga sebagian sudah terlupakan karena tertimpa oleh produk-produk kebencian berikutnya. Sudah terlalu banyak.

Jokowi mengenakan kain ihram, dikomentari dengan nyinyir. Jokowi menjadi imam salat asar bagi Lukman Hakim Saefudin dan Din Syamsudin usai Pembukaan Sidang Tanwir Muhammadiyah di Maluku, dikomentari negatif.

Yang terakhir, ketika Presiden salat di sebuah masjid di Cina itu pun, mereka gunjingkan dengan penistaan yang tidak pantas dilakukan manusia berakal. Karena masjid di Tiongkok berwarna merah (khas Tiongkok), karena arsitektur masjid yang berbeda dengan arsitektur di Indonesia umumnya (khas budaya Tiongkok), mereka menuduh masjid sebagai klenteng. Mereka cela Jokowi yang sedang bersimpuh berdoa usai salat tahiyyatul masjid. Lihat, bahkan hal-hal baik yang syar’i pun tetap mereka lihat sebagai keburukan, jika pelakunya adalah Jokowi.

Kita lihat, apakah sikap-sikap dan komentar seperti itu rasiional dan mencerminkan kepribadian bangsa? Di manakah budaya apresiasi, budaya keunggulan, budaya saling menghargai, budaya berkemajuan, dan lain sebagainya?

Saat Pilkada DKI yang lalu kita juga dikagetkan dengan adanya politisasi mayat (salat jenazah) di masyarakat. Kita menyaksikan, bahkan kemanusiaan dipertaruhkan di ujung pedang politik.

Edit-mengedit wajah orang hingga digambarkan sebagai binatang tertentu juga terjadi tidak sekali dua kali. Penghinaan, pelecehan dan penistaan personal terjadi berkali-kali. Siapakah pelakunya? Bahkan anak-anak remaja yang seharusnya masih banyak belajar tentang berbagai hal sudah berani bertindak gegabah.

Orang “pintar” bergelar tinggi, tokoh sepuh yang sudah malang melintang di dunia politik, mantan artis senior, musisi, politisi, anak muda, remaja tanggung, dan kalangan awam pun ternyata tidak lepas dari keganjilan-keganjilan buruk seperti ini.

Apa yang bisa kita simpulkan dari fakta sosiologis ini?

Jelas, ternyata Revolusi Mental Jokowi telah memperlihatkan wajah buruk dari mental bangsa ini. Dan sebagai sebuah bangsa besar, kita masih harus belajar memperbaiki mental kita semua. Itulah sebabnya mengapa Revolusi Mental itu relevan dan penting diberlakukan untuk bangsa ini.

Jokowi telah menyadarkan kita semua tentang kondisi buruk mental kita. Dan ini merupakan temuan yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa kita selama ini. Karena, mengetahui keburukan adalah langkah pertama melakukan perbaikan.

Suka atau tidak, ini adalah sisi lain keberhasilan sangat penting Jokowi di bidang mental. Dan ini harus dituntaskan…

 

7 Juni 2017

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

close