Mungkinkah Pilgub Jabar hanya antara Dedi Mulyadi Versus Ridwan Kamil?

dedi ridwan

Sebelum ini saya sudah menulis tentang kemungkinan Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil berduet dalam Pilgub Jabar 2018 nanti. Mungkinkah keduanya berduet? Kalau membaca dari wacana yang dimunculkan sejumlah elit partai yang selama ini telah mengusung keduanya, kemungkinan itu ada. Misalnya, Golkar sendiri (sebagai partai pengusung Dedi Mulyadi) sempat mewacanakan kemungkinan menduetkan Dedi dengan Ridwan. Di sisi lain, Nasdem (sebagai partai pengusung Ridwan Kamil) juga mewacanakan kemungkinan ini.

Lebih dari itu, sekalipun belum memunculkan siapa calon yang dielus-elusnya, PDIP juga dikabarkan tengah menjajaki komunikasi dengan kedua sosok ini. Partai terbesar di Jabar ini memang belum memastikan, tetapi juga memberi peluang untuk memilih salah satu atau bahkan juga menduetkannya. Lebih jelas tentang ini silakan baca tulisan berjudul “Duet Dedi-Ridwan, Mungkinkah Terjadi?” 

Sekarang, dalam tulisan kali ini, saya justru akan mengulas kemungkinan sebaliknya. Yakni, kemungkinan keduanya akan bertanding. Bukan hanya bertanding, bahkan pertandingan itu hanya menjadi milik mereka berdua. Dengan kata lain, terbuka kemungkinan bahwa Pilgub Jabar 2018 hanya akan diikuti oleh dua pasang calon, yakni Dedi Mulyadi dengan cawagubnya dan Ridwan Kamil dengan cawagubnya.

Lalu bagaimana dengan figur-figur lain yang selama ini sempat meramaikan media, sebut saja Dedi Mizwar dan Abdullah Gymnastiar. Oke, sekalipun kedua nama ini populer, bahkan keduanya sekarang juga melakukan “manuver” untuk memuluskan pencalonannya, namun saya juga melihat kemungkinan bahwa keduanya takkan jadi tercalonkan.

Saya melihat Dedi Mizwar dan Gymnastiar bisa jadi bernasib seperti Yusril Ihza Mahendra dalam Pilgub Jakarta yang lalu: ramai hendak mencalonkan atau dicalonkan, namun kemudian batal karena tidak ada partai yang mencalonkan. Sementara untuk mengandalkan jalur perseorangan, syaratnya berat dan sulit dilakukan. Singkat cerita, mereka berdua kemungkinan hanya sempat meramaikan bursa wacana saja. Adapun ketika masa pendaftaran paslon cagub oleh KPUD, keduanya tidak jadi didaftarkan.

Mengapa keduanya batal dicalonkan? Pertama, karena partai yang potensial untuk mendukung keduanya, yakni PKS dan Gerindra, sepertinya terlihat tidak percaya diri untuk mengusung calon sendiri. Kedua partai ini sepertinya nampak bingung untuk menentukan sikap apakah mengusung kader atau orangnya sendiri, atau memilih mendukung salah satu dari Dedi Mulyadi atau Ridwan Kamil.

Kedua, jika pun hendak mengusung calon sendiri, khususnya PKS lebih berjuang untuk mencalonkan kadernya ketimbang dua sosok ini, yang bukan kader partai. Sementara Gerindra sendiri belakangan juga melakukan komunikasi dan lobi politik dengan Dedi Mulyadi, hingga mendatanginya ke Purwakarta. Artinya, kemungkinan Gerindra untuk mengusung Dedi Mulyadi itu ada. Artinya pula, Gerindra tidak mempertimbangkan untuk mencalonkan sosok Dedi Mizwar, juga Gymnastiar.

Nah, jika kelak Gerindra misalnya jadi mengusung Dedi Mulyadi, maka PKS tidak memiliki mitra koalisi untuk mengusung calon sendiri. Sebab suaranya di DPRD tidak cukup untuk mengusung sendiri. Lagi pula, kadernya sendiri tidak cukup marketable untuk dicalonkan, yakni Netty Aher. Mungkinkah PKS mendukung Dedi Mizwar? Jawabnya, jika Gerindra tidak meliriknya, maka bagaimana bisa PKS mencalonkanya? Apalagi disebut-sebut bahwa PKS lebih memprioritaskan kadernya, ketimbang orang luar. Dan Demiz bukan kader PKS.

Dengan pertimbangan di atasu, maka baik Gerindra maupun PKS kemungkinan besar takkan berkoalisi memunculkan calon tersendiri. Keduanya mungkin akan bergabung dengan partai-partai lain dan turut mendukung calon luar yang sudah beredar kuat selama ini. Yang menjadi pertanyaan, apakah PKS dan Gerindra akan bersama-sama mendukung satu calon yang sama, ataukah masing-masing mendukung calon berbeda, kedua kemungkinan ini bisa saja terjadi.

Dengan uraian di atas, maka ada kemungkinan bahwa Pilgub Jabar hanya akan diikuti oleh Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil saja. Dan jika ini terjadi, maka kiranya menarik diulas, partai dan kekuatan mana sajakah yang mengusung dan mendukung masing-masing dari keduanya? Kita coba melihatnya sebagai berikut:

Seperti kita tahu, Ridwan Kamil (selanjutnya disebut Kang Emil atau Emil) sudah resmi diusung oleh Nasdem. Sementara Nasdem sendiri tidak mungkin mengusungnya sendirian. Nasdem membutuhkan koalisi partai-partai untuk memuluskan pencalonan Kang Emil. Dan di media diberitakan bahwa pihak Nasdem mempersilakan Emil untuk membangun komunikasi dengan dua partai sebelumnya yang telah mendukungnya saat Pilwakot Bandung 2013, yakni PKS dan Gerindra.

Artinya, jika Emil berhasil meyakinkan PKS dan Gerindra untuk bersama-sama Nasdem mengusungnya. Maka terjadilah poros Emil dengan setidaknya tiga kekuatan partai utama: Nasdem, Gerindra dan PKS. Mungkinkah PKS bergabung dengan Nasdem yang di kalangan grassrootnya disebut sebagai partai pendukung penista agama, apalagi dari kalangan mereka pula yang disinyalir menghembuskan isu Syiah untuk Emil? Mungkin saja. Apa sebabnya?

Secara historis, PKS memiliki sejarah dengan Emil di kota Bandung. “Cinta lama” bisa bersemi kembali setelah ada “cekcok” sekian lama, dan itu biasa, apalagi dalam politik. Tentang isu Syiah dan partai pendukung penista agama, itu hanya artifisial saja, mudah dihembuskan, mudah dihilangkan, tergantung kepentingannya. Sedangkan bagi Gerindra, secara ideologis atau basis konstituen, koalisi dengan Nasdem bukanlah masalah. Keduanya relatif dekat, berbeda dengan PKS. Bahkan sebenarnya secara ideologis dan basis konstituen, Gerindra sebenarnya tidak dekat dengan PKS. Lalu mengapa keduanya sering berkoalisi selama ini? Ya karena selama ini kepentingannya sama. Dan bagi PKS, ketimbang berkoalisi dengan poros PDIP (berkaca pada Pilpres 2014 kemarin yang mendukung Jokowi), berkoalisi dengan Gerindra lebih memungkinkan.

Singkat cerita, terbuka kemungkinan poros Emil diusung dan didukung oleh tiga partai utama, yakni Nasdem, Gerindra dan PKS. Dengan tiga partai ini saja, Emil sudah cukup syarat untuk diajukan sebagai calon. Lalu bagaimana dengan PDIP yang secara historis memiliki kedekatan dengan Nasdem dan terlihat ada komunikasi dengan Emil?

Jika dalam poros ini ada PKS dan Gerindra, maka kemungkinan PDIP tidak akan bersama poros ini. Apalagi, dalam politik nasional, PDIP dipastikan tetap mengusung Jokowi pada tahun 2019. Sedangkan Gerindra sudah memastikan akan kembali mendukung Prabowo, sedangkan PKS tentu sangat resisten untuk mendukung Jokowi. Karenanya, sulit kemungkinannya bagi PDIP untuk beradai di poros ini.

Lho, bukankah kita dengar bahwa Nasdem telah mengajukan “syarat” kepada Emil untuk membantu mengusung Jokowi sebagai capres 2019 nanti? Ketika dalam kalkulasi politik lokal, peta dukungan Nasdem untuk Emil itu harus berbagi dengan Gerindra dan PKS, maka bisa saja syarat di atas akan diabaikan dulu. Sekalipun Nasdem tetap mengusung Jokowi pada 2019, namun untuk Pilgub Jabar, Nasdem takkan terhalangi untuk tetap mendukung Emil yang –misalnya didukung oleh Gerindra dan PKS.

Lalu, jika PDIP tidak mungkin bersama poros ini, kepada siapakah PDIP mendukung? Di atas sudah diuraikan bahwa kemungkinan besar PDIP takkan mencalonkan kadernya sendiri, sehingga ia hanya akan mencalonkan salah satu dari dua calon kuat selama ini, yakni Emil dan Dedi Mulyadi (selanjutnya disebut Kang Dedi atau Dedi). Karena Emil sudah berada di poros sebelah, maka PDIP akan bergabung dengan poros Dedi. Apalagi PDIP juga sudah “mengincar” sosok Dedi ini, dan memberi peluang untuk mengusungnya.

Jika ini yang terjadi, maka PDIP akan bergabung dengan Golkar dan Hanura yang sudah memastikan mengusung Kang Dedi. Dari segi visi dan sosok, Dedi bisa lebih pas dengan PDIP mengingat visi budaya, visi desa, kerakyatan, kebhinekaan, toleransi, dan narasi besar lain yang menjadi ciri khas Dedi. Berdasarkan track record, Ikon toleransi lebih mengena kepada sosok Dedi ketimbang kepada Emil. Apalagi sosok kerakyatan Dedi juga lebih pas, karena sosoknya sebagai anak desa yang membangun negeri dari desa.

Lalu bagaimana dengan partai-partai sisanya? PKB, PPP, PAN, dan Demokrat juga akan memilih salah satu di antara Dedi dan Emil. Mungkinkah mereka akan mengajukan calon sendiri, semisal Dede Yusuf karena berhasil diyakinkan oleh Demokrat (partainya Dede Yusuf)? Yang namanya kemungkinan, tentu saja ada. Akan tetapi, mengingat kedekatan kultur NU dan basis paham keislamannya, PKB lebih dekat kepada Dedi yang seorang warga NU dan bahkan pengurus NU di Purwakarta. Apalagi selama Ramadhan ini Dedi sudah melakukan safar ke berbagai pesantren NU di Jabar dan diterima dengan baik oleh mereka, bahkan didoakan dan diberi panggung oleh para kyainya.

Tinggallah PPP, PAN dan Demokrat. Memang bisa saja mereka bertiga memunculkan calon tersendiri. Jika benar, kemungkinan sosok yang bisa dijual adalah Dede Yusuf, kader Demokrat yang mantan kader PAN. Jika ini diambil, maka PAN bisa memajukan kadernya sebagai cawagub bagi Dede Yusuf.

Akan tetapi, melihat elektabilitas Dede yang masih di bawah Emil dan Dedi, apalagi Dede adalah mantan cagub yang kalah pada Pilgub 2013 yang lalu, maka biasanya calon yang sudah kalah akan kalah lagi pada pemilihan berikutnya. Jadi, pilihan ini cukup riskan bagi PAN. Sehingga, kemungkinan ini kecil bagi PAN. Dan yang lebih mungkin bagi PAN adalah bergabung dengan salah satu dari dua poros di atas, yakni poros Emil dan poros Dedi. Kalau sudah begini, maka tiga partai tersisa ini akan memilih bergabung dengan salah satu dari dua poros tadi. Kecuali untuk Demokrat, mungkin partai ini akan kembali menjadi partai yang “menggantung”, tidak ke sana, tidak ke sini.

Karenanya makin kuat kemungkinan bahwa pertarungan pilgub Jabar 2018 itu adalah antara Dedi dan Emil saja. Nah, jika ini yang terjadi, maka Pilgub Jabar akan menarik dan relatif oke-oke saja. Mengapa? Karena kedua sosok ini sama-sama memperlihatkan citra dan prestasi yang positif di mata publik. Sekalipun ada perbedaan cukup mencolok antara keduanya, namun isu-isu panas yang berpotensi menegangkan atau bahkan memecah, relatif tereliminasi.

Sehingga, siapa pun yang menang dari keduanya, publik relatif “baik-baik” saja. Kita tunggu tanggal mainnya… Dedi, atau Emil…?

Sampurasun…!

Leave a Reply

close