Logika Aneh Aa Gym Saat Ketahuan Bermain Panahan di “Masjid”

agym panahan di masjid

Seharusnya saya menulis tulisan ini awal Juni 2017 yang lalu, saat kejadiannya masih aktual dan fresh. Tetapi karena saat itu belum memungkinkan, saya menangguhkannya, dan baru sekarang bisa menuliskannya. Tetapi tidak apa lah saya menuliskannya sekarang. Toh yang saya soroti bukan kejadian bermain panahan di tempat yang diduga masjid itu, melainkan lebih pada logika yang sempat disampaikan oleh A Gym sesudah kejadian yang membuatnya malu itu.

Seperti kita ketahui, beberapa waktu lalu sempat ramai tayangan video yang menggambarkan A Gym sedang berlatih atau bermain panah, atau berlatih memanah. Tidak ada yang salah. Malah berlatih memanah itu bagus, karena Nabi Saw juga pernah menyuruh umatnya untuk belajar memanah (dan berenang). Mengapa beliau menyuruh umatnya belajar memanah? Karena, selain bermain pedang dan tombak, memanah adalah salah satu alat dan senjata perang pada masa Nabi hidup. Dan saat itu umat Islam harus menguasai dengan terampil senjata-senjata yang ada pada itu. Sebab itulah beliau menyuruh umatnya belajar memanah.

Belakangan, oleh sebagian kalangan pada zaman sekarang, perintah Nabi ini dipahami sebagai sunnah sepanjang zaman. Artinya, sekalipun persenjataan zaman sekarang sudah menghilangkan jenis panah dalam perang, mereka memandang memanah tetap sebagai sunnah. Bagi mereka, belajar memanah itu dianggap sunnah Nabi yang mendatangkan pahala. Berbeda dengan belajar keahlian yang tidak ada pada masa Nabi, semisal internet, dianggap tidak bernilai ibadah kendatipun “perang” di dunia maya lebih sengit dan mematikan. Alasannya karena Nabi tidak pernah mencontohkan atau menyuruh umatnya belajar internet. Sekalipun mereka mungkin memandang perlu menguasai internet, namun mereka takkan berani menyebutnya sunnah yang mendatangkan pahala, berbeda dengan belajar memanah yang secara tekstual diperintahkan oleh Nabi Saw.

Namun begitu, tentu saja ada sedikit kalangan yang berlatih memanah bukan karena membawa-bawa hal agamis atau bawa-bawa sunnah. Mereka tidak melihatnya sebaga ibadah. Melainkan karena motif kesenian dan melatih konsentrasi dan ketangkasan. Mungkin juga karena motif hobi, atau sekadar menghabiskan waktu luang. Lalu, kira-kira apa motivasi A Gym berlatih memanah? Entahlah. Yang jelas, rasanya tidak mungkin juga untuk latihan berperang. Memangnya mau berperang dengan siapa? Lagi pula, untuk zaman ini, panah bukan jenis senjata yang canggih dan efektik untuk memenangkan peperangan.

Kalau melihat beberapa foto A Gym yang beredar di internet dalam posisi sedang memanah, ada di antara foto-fotonya itu yang memperlihatkan A Gym sedang memanah dari atas kuda. Dalam penilaian saya, apa yang dilakukan olehnya dalam hal memanah ini hanya untuk melatih keahlian, ketangkasan, juga tentu saja untuk menyalurkan hobi, atau seperti katanya, “… untuk mengisi waktu luang.” Dan sebagai seorang manusia biasa, wajar dan sah-sah saja siapa pun menyalurkan hasrat hobinya. Misalnya sejumlah kalangan yang suka memancing, bermain catur, bermain paralayang, atau apa saja yang lainnya. It is okey.

Lalu mengapa kasus panahan A Gym sempat heboh di kalangan netizen? Harap dicatat, warga netizen ramai membicarakan panahan A Gym bukan karena panahannya, melainkan karena sosok ini bermain panahan di sebuah ruangan besar yang diduga masjid. Indikasinya karena ruangan besar itu beralaskan banyak sajadah, baik yang berwarna hijau maupun merah. Sekalipun belum tentu tempat itu merupakan masjid (karena videonya tidak mempelihatkan mihrab), namun argumen yang membantahnya juga lemah. Sebab, jika pun itu bukan masjid, setidaknya tempat itu digunakan untuk kegiatan ibadah ritual.

Tentu saja hanya A Gym dan orang-orangnya saja yang mengetahui pasti apakah tempat itu masjid atau bukan. Yang mungkin tahu juga adalah orang-orang yang sudah hafal betul kondisi dan suasana ruangan itu. Apa pun, dengan permintaan maafnya A Gym akibat kasus yang membuatnya malu itu, agaknya bisa jadi benar bahwa tempat itu digunakan untuk kegiatan ibadah. Alhasil, A Gym sudah meminta maaf. Dan urusannya dianggap selesai.

Kendatipun ada sebagian kalangan yang menyebut A Gym melakukan penistaan terhadap rumah ibadah, tentu saja suara ini dengan mudah lenyap. Berbeda halnya jika yang melakukannya adalah sosok semisal Presiden Jokowi. Untuk Jokowi, bahkan memegang gelas dengan tangan kiri saat minum saja ributnya luar biasa. Analisanya ke mana-mana dan mengada-ada. Padahal, kalangan yang mempersoalkannya pun sebenarnya sering juga melakukan hal yang sama. Bahkan saat Jokowi menjadi imam salat asar bagi Din Syamsudin (Mantan Ketum PP Muhammadiyah dan MUI) dan Lukman Hakim Saifudin (Menag RI), heboh dan kenyinyirannya besar.

Namun untuk sosok semisal A Gym, hal yang bisa jadi lebih besar ketimbang urusan pegang gelas dengan tangan kiri ini, takkan terlalu jauh dipersoalkan. Mengapa? Karena pihak yang suka mempersoalkan hal-hal kecil itu biasanya adalah para pembenci Jokowi dkk yang kemungkinan besar mereka adalah pengagum atau simpatisan figur semisal A Gym dkk. Bagi orang yang berpikir sehat, dan hanya memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang penting dan perlu, cukuplah permintaan maaf A Gym dianggap selesai. Namanya juga manusia, pasti pernah bersalah. Setelah ia meminta maaf, ya sudah, selesai. Dimaafkan.

Coba kita perhatikan permintaan maafnya, “Tidak ada manusia yang sempurna, seorang ustad pun pasti bisa salah. Saya AA Gym mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh umat muslim. Saya tidak ada niat kotor, saya hanya bermain panah untuk mengisi waktu luang saya. Allah saja maha pemaaf, apalagi saudara muslim semua pasti mau memaafkan kecerobohan saya ini,” (sumber dari sini) .

Jadi jelas, untuk perbuatannya sendiri, sudah selesai. Apa yang disorot oleh tulisan ini adalah seperti yang tertera dalam judul di atas, “Logika Aneh A Gym Saat Ketahuan Bermain Panahan di “Masjid”  Tulisan ini menitikberatkan pada logika dari apa yang A Gym sampaikan. Logika ini penting diulas, karena sejauh yang saya ketahui, logika semacam ini sepertinya sudah umum, dan tidak sedikit orang yang menggunakannya. Dan karena sudah umum itulah saya tertarik mengulasnya. Kebetulan saja A Gym yang memicunya dan mengingatkan logika umum ini.

Di satu sisi, logika A Gym di atas sudah umum, setidaknya tidak sedikit orang yang menggunakannya, terutama orang-orang yang sudah kepepet atau ketahuan salah. Namun di sisi lain, kita perlu cermati apakah logika tersebut benar ataukah salah. Perhatikan kalimat yang saya tulis tebal dan miring. “Allah saja maha pemaaf, apalagi saudara muslim semua pasti mau memaafkan kecerobohan saya ini.”

Saya tidak jarang mendengar logika seperti ini dari sejumlah orang, sekalipun dengan redaksi yang berbeda. Ada beberapa redaksi lain dengan maksud yang sama. Misalnya, “Allah saja maha pemaaf, masak kita makhluk-Nya tidak mau memaafkan.” Atau “Allah saja memaafkan, masak kita tidak?”

Dalam pemahaman saya, logika dalam kalimat-kalimat di atas aneh dan ganjil. Di mana letak ganjilnya? Yakni, membandingkan Allah (Tuhan) dengan manusia, dengan menempatkan Tuhan justru di bawah manusia. Lebih singkat lagi, logika di atas merendahkan Tuhan di atas manusia. “Tuhan saja memaafkan, masak kita tidak?” Ini adalah ungkapan yang menempatkan manusia lebih pemaaf daripada Tuhan. Bukankah Tuhan adalah Zat yang maha pemaaf, yang maafnya lebih luas daripada langit dan bumi, sedangkan manusia, apa atuh, ia memiliki nafsu dan hina.

Masak membandingkan kehinaan manusia dengan kemuliaan Tuhan dalam hal ampunan. Logika di atas adalah terbalik. Logika terbalik ini setara dengan ungkapan berikut, “Orang dewasa saja bisa menyetir mobil sendiri, masak anak kecil tidak bisa?” Ini khan logika yang aneh. Kalau ungkapannya begini baru benar, “Anak kecil saja bisa menyetir mobil sendiri, masak orang dewasa tidak bisa?” Jika pun mau menyebut orang dewasa dulu, ungkapan yang benar adalah seperti berikut, “Orang dewasa saja bisa menangis, maka apalagi anak kecil.”

Nah, berkaitan dengan logika dalam ungkapan A Gym di atas, kalau ungkapannya seperti berikut ini, baru benar perbandingannya, “Jika manusia yang lemah saja mampu memaafkan kesalahan saudaranya, masak Tuhan yang Maha Pemaaf tidak mengampuninya?” Ini baru proporsional dan logis. Adapun apa yang diucapkan oleh A Gym di atas jelas merupakan logika yang terbalik dan bikin otak “melilit”.

Kalau kita perhatikan berbagai ungkapan harian di antara sesama, mungkin juga kita menemukan berbagai kalimat lain yang mengganggu logika sehat. Lalu apa sikap kita? Jika memungkinkan, kita mendiskusikan untuk memperbaikinya. Jika tidak, mungkin kita hanya berkerut. Yang parah, kita bisa saja ikut-ikutan menggunakan ungkapan dengan logika aneh dan ganjil itu. Apalagi jika ungkapan itu sudah lazim dan umum digunakan oleh banyak orang.

Berpikir logis adalah sebuah keharusan dan kebiasaan yang benar. Sayangnya, tidak semua orang terbiasa dengannya, atau bahkan tidak mempedulikannya. Dan di tengah orang-orang yang terbiasa berlogika ganjil, bersiap-siaplah kita terbawa ganjil juga… Tapi, jangan sampai lah..!

Bandung, 20 Juni 2017

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

close