Jokowi Itu Trendsetter Efektif

jokowi saya pancasila

Percaya atau tidak, Jokowi itu seorang pemimpin trendsetter yang efektif. Jika Anda sudah tahu, tentu karena faktanya banyak menunjukkan demikian. Kepala Anda sudah berisi sekian fakta yang bisa Anda ceritakan. Jika Anda belum tahu, tentu saja tidak berdosa, tetapi sebaiknya ketahuilah hal ini, sekalipun terlambat. Sebab, Anda sedang hidup di lingkungan dan media yang terkena pengaruh Jokowi, Jokowi’s Effect.

Namun jika pun Anda pura-pura tidak tahu, atau lebih tepatnya tidak mau mengakui, berarti Anda tidak sedang benar-benar hidup di sini. Mungkin Anda sedang tidur dan bermimpi, dengan posisi kaki digantung dan kepala menjuntai ke bawah: melihat sekitar dengan penampakan terbalik.

Sebelum tahun 2012, siapa yang mengenal istilah blusukan? Mungkin hanya orang Solo yang sudah akrab dengan istilah ini? Namun setelah Jokowi terpilih sebagai Gubernur Jakarta 2012 yang lalu, boleh dikatakan seluruh rakyat Indonesia mengenal kata blusukan. Kata blusukan sangat populer, dan menginspirasi pemimpin daerah lain melakukan hal yang sama. Sekalipun ada juga yang menamakannya dengan istilah lokal, semisal kukurusukan. Maklum, ingin disebut beda, padahal mencontoh orang lain.

Gaya blusukan, mendatangi dan menemui rakyat, mendengar dan memberi solusi langsung atau segera, menjadi trend leadership nasional. Diakui atau tidak, gaya blusukan telah menginspirasi sejumlah kepala daerah yang tidak perlu malu belajar dari kelebihan orang lain.

Baju kotak-kotak. Siapa sangka bahwa baju kotak-kotak sekarang menjadi sebuah identitas politik sekaligus kebudayaan. Sebelum Jokowi mengenalkan baju kotak-kotak ini, para calon pemimpin daerah dan nasional baru membayangkan kostum hanya sebatas putih, batik, baju koko, baju etnis, atau baju satu warna.

Namun, begitu Jokowi masuk persaingan Pilgub DKI 2012, mendadak publik sadar bahwa identitas politik pakaian bisa dibuat kreatif. Baju kota-kotak adalah kreasi baru dalam politik busana. Dan Jokowilah yang mengenalkannya. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa baju kotak-kotak ala Jokowi ini kelak menjadi trend pakaian yang booming.

Maka, usai sukses baju kotak Jokowi yang menenggelamkan seluruh identitas pakaian yang dikenakan para cagub lainnya, maka arena Pilgub Jabar 2013, juga semarak dengan baju motif kotak-kotak, yang dikenakan oleh Rieke – Teten. Dan belakangan, Pilgub DKI 2017 yang baru lalu juga disemarakkan dengan baju kotak-kotak yang dikenakan oleh Ahok – Djarot. Tentu saja dengan modifikasi dan penyegaran masing-masing. Tidak dipungkiri, bahwa tren baju kotak-kotak adalah efek dari Jokowi.

Saat kampanye Pilpres 2014, siapa yang akrab dengan frasa Revolusi Mental? Bagi para pembaca sejarah, mungkin frasa ini pernah mereka baca dan temukan dalam literatur gerakan dan pemikiran, khususnya di negeri ini. Namun kebanyakan rakyat tidak familiar dengan frasa ini. Lagi pula, sekalipun sebagai sebuah istilah mungkin frasa ini pernah ada, akan tetapi sebagai sebuah wacana publik dan politik, frasa ini menggugah kesadaran orang. Ketika pertama kali mendengarnya, saya sendiri surprised. Wow, revolusi mental.

Dengan kata ini Jokowi mengingatkan bahwa pembangunan bangsa tidak semata-mata fisik (sekalipun kita tahu ini memang menjadi target kejaran Presiden), namun yang tidak kalah penting adalah pembangunan mental. Dan karena mental rakyat secara kultural dan struktural perlu perubahan mendasar, maka jargonnya juga harus menyentak dan mengagetkan. Revolusi Mental sudah tepat untuk menyentak kesadaran tersebut.

Dan terbukti, berikutnya Jokowi memperlihatkan sejumlah gebrakan yang merevolusi mental publik selama ini. Sebagai misal, pembangunan yang semula membelakangi laut, kini mulai menghadap lautan. Bahkan “panglima” laut Jokowi pun tidak tanggung-tanggung, seorang perempuan yang hanya lulusan SMP. Padahal sebelumnya biasanya seorang menteri minimal lulusan S1. Dengan dipilihnya Susi Pujiastuti asal Pangandaran Jabar, publik disadarkan bahwa yang penting adalah kualitas personal, bukan catatan formal.

Gara-gara ini, maka publik sekarang akrab dengan kosakata laut. Bukan hanya tentang Tol Laut, tetapi juga tentang berbagai hal yang terjadi di laut, publik banyak melihat dan menyaksikannya. Lautan kini menjadi “tontonan” yang tidak kalah menarik ketimbang daratan. Tren laut adalah bagian dari setting Jokowi, yang berhasil menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat.

Efek lain dari Revolusi Mental ala Jokowi juga sekarang kita merasakan adanya Saber Pungli, Sapu Bersih Pungutan Liar. Ini bukan gebrakan main-main. Sekalipun gebrakan ini pernah dinyinyiri oleh wakil ketua DPR (kita tahu siapa dia) sebagai “mengurusi hal kecil”, namun Jokowi terus melaju, malah mematahkan “mindsetting” wakil ketua DPR tadi. Kata Jokowi kurang lebih, “Bahkan pungli sepuluh ribu pun akan saya kejar.”

Di sini Jokowi ingin kembali mensettting pikiran publik bahwa yang namanya pungli, bahkan seribu rupiah pun adalah penyelewengan yang harus disapu bersih. Jika pun ini sudah terlanjur membudaya di banyak institusi atau masyarakat, ya harus diperbaiki. Karena itulah diperlukan Revolusi Mental, baik bagi para pelayan masyarakat, maupun masyarakat sendiri.

Belum lagi tentang cara berpakaian Jokowi, atau segala hal yang berkenaan dengan apa yang Jokowi kenakan. Jaket, payung, sandal, kopiah, kombinasi sarung dan jas, dan lain-lainnya, menjadi tren di masyarakat. Sehingga, di kalangan bisnis atau ekonomi kreatif, tren ini berpengaruh positif terhadap peluang-peluang ekonomi dan omset bisnis. “Penciptaan” tren yang Jokowi lakukan ini bermanfaat besar bagi sebagian rakyat yang menggeluti bidang ini. Sehingga jelas kepemimpinannya membawa “berkah” bagi rakyat.

Ada banyak hal lain yang masih bisa kita sebutkan tentang trendsetting Bapak Presiden. Dan yang paling mutakhir adalah berkenaan dengan Pancasila. Sebenarnya menyebut Pancasila bagi kita sudah biasa, terutama bagi kalangan yang lahir sebelum tahun 1980 an. Karena dulu di sekolah ada pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) dan sering mendengarkan dan menyanyikan lagu Pancasila.

Namun, akhir-akhir ini, menyebut kata Pancasila terasa sangat berbeda, dan memiliki makna yang lebih mendalam. Dulu kebanyakan kita tidak begitu peduli dengan Pancasila. Bahkan sebagian kita mungkin ada yang memplesetkannya. Akan tetapi, ketika belakangan ini ada kekhawatiran kolektif nasional menyangkut prinsip-prinsip kebangsaan, seperti isu kebhinekaan, intoleransi, radikalisme yang mengatasnakaman agama, dan lainnya, ditambah dengan fenomena sosial seperti yang sudah kita ketahui bersama akhir-akhir ini, maka menyebut kata Pancasila terasa emosional dan lebih bermakna.

Karenanya ketika Bapak Presiden mengingatkan pentingnya Pancasila, publik menoleh dan menyimak. Bahkan tergerak untuk meramaikan ucapan Presiden. Seperti kita ketahui, dalam video pada akun instagramnya, yang diposting Senin 29 Mei 2017, Presiden menyatakan bahwa Pancasila adalah pemersatu bangsa dan negara.

Bapak Presiden juga menegaskan, “Pancasila itu jiwa dan raga kita. Ada di aliran darah dan detak jantung kita, perekat keutuhan bangsa dan negara. Saya Jokowi, Saya Indonesia, Saya Pancasila,” demikian pernyataan Presiden Jokowi, seperti dikutip Kompas.com dari @ Jokowi, Selasa (30/5/2017). (sumber)

Perhatikan kalimat yang saya tebalkan di atas. Segera setelah ucapan Presiden ini, medsos ramai dengan dua kalimat “sakti” ini, Saya Indonesia, Saya Pancasila. Banyak kalangan yang mengunduh dan memasang meme berisi kalimat di atas, bahkan menyandingkannya dengan foto mereka. Dulu, warga netizen juga ramai-ramai menyuarakan ungkapan Kami Tidak Takut (yang juga terinspirasi oleh tindakan Presiden). Sekarang, mereka ramai menyuarakan dua kalimat di Hari Lahirnya Pancasila ini, 1 Juni.

Dan Presiden kembali membuat tren baru lagi, bagi rakyat. Sekalipun tidak semua rakyat mengikutinya (terutama para hater), namun banyak yang mengikuti irama Presiden dalam menyuarakan Saya Pancasila ini. Tren baru yang dimaksud bukan sekadar ramai mengupload foto Saya Indonesia Saya Pancasila (SISP), namun yang lebih penting adalah membangun tren kesadaran kolektif tentang pentingnya ber-Pancasila, dan bersetia kepadanya demi keutuhan dan kemajuan bangsa.

Hanya saja, seperti biasa, tentu ada saja kalangan yang mencibir dan nyinyir dengan tren ini. Misalnya ada yang menyebutnya tindakan latah. Ada juga yang menyebut rakyat yang memviralkan ungkapan SISP sebagai Muallaf Pancasila. Dengan menyebut Muallaf Pancasila, seolah-olah rakyat yang merespon SISP ini oleh kaum  nyinyir dianggap baru mengenal Pancasila.

Ya tidak masalah. Orang bebas merespon apa pun di sekitarnya. Akan tetapi, dengan massifnya SISP ini terlihat bagaimana sekarang publik kembali menengok dan memperhatikan Pancasila, membicarakan dan mengingatkan untuk memegangnya kuat-kuat. Baik kalangan yang pro dan kontra Jokowi, sama-sama jadi diingatkan untuk kembali memegang teguh Pemersatu Bangsa ini. Dan ini sebagai akibat positif dari tren yang disetting oleh Presiden Jokowi.

Yang menarik, mengapa rakyat selalu merespon apa yang diucapkan dan dilakukan oleh Presiden? Kalangan yang pro, meresponnya secara positif. Dan kalangan yang kontra, meresponnya secara negatif. Apa pun itu, dengan selalu diresponnya setiap ucapan dan tindakan Jokowi, ini bermakna bahwa Jokowi telah berhasil mensetting tren di kalangan masyarakat.

Bagi kalangan yang mendukungnya, respon positif mereka kepadanya menunjukkan kesatuan pikiran dan perasaan antara pemimpin bangsa dan rakyatnya. Jika pikiran dan perasaan keduanya telah bersatu, maka Presiden tidak perlu memerintahkan atau sekadar menganjurkan, bahkan semata-mata ucapannya pun akan direspon dan diterjemahkan oleh rakyat dalam berbagai tindakan yang sealur dan menguatkan.

Dan bagi kalangan yang menentangnya, respon negatif mereka kepadanya menunjukkan bahwa mereka mengikuti ritme tren yang diciptakan oleh Presiden, baik Jokowi merencanakannya maupun karena kebetulan saja. Sehingga, wacana diskusi sering muncul akibat ucapan dan tindakan seorang Jokowi.

Ketika seorang Presiden menyampaikan sesuatu lalu direspon positif oleh rakyatnya, hingga menjadi trending, dalam teori kepemimpinan ini merupakan bagian dari manifestasi kepemimpinan yang efektif. Dan saya lihat, tren positif ini mulai terlihat dalam sosok kepimpinan lainnya, kendatipun belum sekuat Jokowi, baik nasional maupun lokal.

Efek positif berikutnya, jika seorang pemimpin dekat dengan rakyatnya, dan rakyatnya pun dekat dan sepikiran dengannya, maka antara keduanya selalu ada persenyawaan yang menghasilkan hal-hal positif. Sekarang, tipe kepemimpinan seperti ini yang kita harapkan ada di Indonesia, di mana pemimpin dan rakyat menyatu.

Sehingga kelak terus lahir pemimpin-pemimpin baru dengan kualitas hebat. Karena Indonesia membutuhkan mereka…!

Bandung, 1 Juni 2017

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

close