Duet Dedi-Ridwan, Mungkinkah Terjadi?

dedi ridwan santai

Sebenarnya tahun 2018 yang akan datang ada beberapa pilkada gubernur di berbagai provinsi. Di pulau Jawa saja, ada pilkada untuk memilih gubernur Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Namun sejauh yang kita bisa pantau, dari ketiga provinsi tersebut, yang lebih sering diperbincangkan adalah Jabar, Jawa Barat. Provinsi di tanah Parahyangan ini sepertinya lebih menarik dan seksi secara politis.

Yang membicarakan Pilgub Jabar ternyata bukan saja warga Jabar. Warga provinsi lain pun ikut terlibat dan tertarik membincangkan bahkan menuliskannya. Memang tidak (belum) seperti Pilgub DKI yang baru lalu, namun wacana publik tentang Pilgub Jabar cukup terasa, tidak seperti pilgub-pilgub provinsi lainnya.

Mengapa Pilgub Jabar sangat menarik? Kata orang, karena jumlah populasinya besar. Baiklah, kalau hanya sebatas ini, Pilkada Jakarta yang populasinya jauh di bawah Jabar sebegitu hebohnya. Jadi, kalau begitu, bukan karena pertimbangan populasi.

Melanjutkan alasan yang pertama, ada juga yang berpendapat, karena populasinya sangat besar maka Jabar menjadi ajang rebutan para parpol untuk persiapan Pemilu 2019, baik dalam pemilihan anggota legislatif (DPR) maupun Pilpres. Kemenangan Pilgub Jabar akan mengindikasikan kemenangan pada pemilu setahun berikutnya. Sebagaimana kemenangan di Jakarta, kemenangan di Jabar juga menjadi modal sangat besar bagi kemenangan dalam perhelatan politik 2019 yang tidak lama lagi.

Okelah, anggap saja pendapat ini diterima. Artinya, menurut pendapat ini, pemicu kemenarikan Pilgub Jabar ini adalah karena kerasnya perebutan di antara para partai pengusung dan pendukung. Namun, jika semata-mata karena rebutan antar partai, bukankah semua partai saling berebut kemenangan di semua provinsi dan kabupaten/kota? Jadi, kalau begitu, bukan semata-mata faktor perebutan antar para parpol.

Lalu, adakah hal lain yang menjadi pemicu? Tentu saja ada. Menurut saya ada dua faktor. Pertama, suasana batin di kalangan masyarakat Jabar yang sengaja diciptakan oleh para elit politik. Kedua, menyangkut sosok dan figuritas yang selama in beredar, yang merepresentasikan suasana batin itu.

Yang di maksud dengan suasana batin di sini adalah penyederhanaan dari ideologi atau sesuatu yang menggerakkan orang-orang dalam berpolitik dan menentukan pilihan politik. Dan ideologi itu tercermin dalam tokoh atau figur yang selama ini beredar di pasaran politik Jabar.

Jadi, yang dipertarungkan di Jabar bukan saja antar para figur, melainkan juga antar ideologi yang melatarbelakangi mereka. Namun, apa yang dimaksud dengan ideologi itu sebenarnya hanya kamuflase semata. Karena yang menggerakkan ideologi tersebut adalah keinginan atau nafsu untuk mendapatkan apa jika memenangkan kekuasaan. Nafsu tersebutlah yang menggoreng isu-isu di seputar tokoh dan ideologi itu.

Di satu sisi, ada beberapa figur yang telah memperlihatkan kualitas kepemimpinan dan prestasi kerja yang bagus di tempat sebelumnya, entah sebagai bupati atau sebagai walikota. Dan publik sangat berharap sosok yang bagus itu bisa terpilih memimpin Jabar.

Namun di sisi lain, ada pihak yang kader atau calonnya tidak berkualitas namun berharap tetap menang di perhelatan ini. Dan pihak yang terakhir ini tentu tidak akan membiarkan orangnya kalah, sekalipun yang menang adalah figur yang bagus. Mengapa? Sebab, bukan karena bagus-jeleknya figur, atau kualitas kerja yang sudah diperlihatkan, melainkan apa yang didapatkan oleh pihak tersebut jika mereka kalah.

Karenanya pihak ini pasti akan berjuang sangat keras untuk mempertahankan kekuasaannya. Sedangkan publik luas yang mengharapkan kualitas dan kerja terbaik juga berjuang untuk memenangkan figur yang bagus. Maka, dua keinginan inilah yang melahirkan kesengitan dan daya tarik dalam pertarungan ini. Apalagi figur-figur yang muncul sudah sangat familiar, bahkan di kalangan publik secara nasional.

Di kalangan publik luas, ada dua nama yang sangat diharapkan bersatu dalam satu paket calon. Kita sudah sama-sama tahu, yakni Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil. Yang pertama saat ini masih menjadi Bupati Purwakarta dan satu lagi saat ini masih menjadi Walikota Bandung. Yang satu mengandalkan narasi budaya dan desa, dan yang satu lagi mengandalkan kemampuan teknokratiknya dalam memimpin kota.

Publik mengapresiasi hasil kerja kedua sosok ini secara bagus, sehingga berharap keduanya memimpin Jabar secara bersama-sama. Publik tidak rela jika salah satunya tersisih sehingga tidak berkesempatan untuk turut membangun Jabar yang membutuhkan sentuhan keduanya sekaligus.

Akan tetapi, ada juga kalangan yang berpendapat bahwa demi membangun Jabar, keduanya harus dipisah, jangan disatukan dalam satu paket. Mengapa? Tujuannya adalah agar ketika ada satu yang kalah, maka yang satunya lagi menang. Siapa pun pemenangnya, Jabar akan diuntungkan.

Kata pendapat ini, jika keduanya bersatu dalam satu paket, keduanya bisa kalah, mengingat keduanya sama-sama ditiupkan isu-isu sektarian yang tidak produktif. Jika isu-isu sektarian itu kencang dihembuskan, maka elektabilitas pasangan ini bisa kalah. Sehingga pemenangnya kelak justru pihak yang menjadi lawannya yang secara kualitas dianggap tidak sebagus keduanya. Jika kedua sosok ini dipisah, maka isu negatif bisa terpecah. Sehingga, ketika ada satu yang kalah, maka satunya lagi bisa menang.

Logika ini mungkin ada benarnya. Tetapi sepertinya menduetkan keduanya lebih diharapkan ketimbang memisahkannya. Alasannya, karena keduanya mewakili dua keunggulan yang saling melengkapi. Baik dari segi gaya, kepemimpinan, keahlian, maupun basis massa.

Masalahnya, mungkinkah keduanya bersatu dalam satu paket? Kalau mencermati beberapa manuver elit partai selama ini, kemungkinan itu ada. Misalnya di kalangan elit Golkar sendiri (partai pengusung Kang Dedi) ada wacana untuk mempertimbangkan duet Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil. Sementara elit Nasdem (pengusung RK) juga mewacanakan hal yang sama.

Bahkan, kabarnya PDIP sendiri –sebagai partai terbesar di Jabar– menyatakan sedang memantau dua nama ini, dan berkisar di dua nama ini, yakni Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil. Nah, jika Golkar, PDIP dan Nasdem bersepakat, maka duet keduanya menjadi mungkin terjadi, terlepas siapa pun yang berposisi sebagai cagub atau cawagub.

Kalau kita mengamati pernyataan para tokoh dan elit partai, kepastian peta politik Jabar baru akan kita ketahui usai lebaran Idul Fitri ini. Bulan Ramadhan masih menjadi bulan penjajakan. Dan kita masih tetap menunggu ujung manuver perpolitikan Jabar ini hingga habis lebaran.

Artinya sekarang ini kita masih bebas berspekulasi dan menganalisa berbagai kemungkinan. Termasuk kemungkinan apakah Kang Dedi dan Kang Emil bersanding, atau bertanding.

Sampurasun…!

21 Juni 2017

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

close