Sekolah Ideologi Purwakarta Jadi Percontohan Nasional  

Dan sekarang tindakan teror itu kembali terulang. TKP nya masih di Jakarta, namun bergeser sedikit, Kampung Melayu. Dulu ketika bom Sarinah masyarakat ramai meneriakkan slogan Kami Tidak Takut dengan gegap gempita. Apalagi saat itu Presiden Jokowi langsung mendatangi lokasi pengeboman sore harinya. Dan masyarakat ramai menonton seolah tidak ada apa-apa. Yang berjualan, tetap berjualan. Ini adalah pernyataan sikap bersama bahwa dengan contoh dari Presiden, rakyat tidak takut.

Sekarang pun sama. Sekalipun tidak segegap gempita bom Sarinah, namun teriakan dan meme Kami Tidak Takut kembali bergema pasca bom Kampung Melayu ini. Dan ini menegaskan bahwa tindakan teror apa pun tidak akan menyurutkan langkah rakyat untuk membangun dan menjaga bangsa ini. Rakyat tidak takut menjaga negeri dan bangsanya, dari ancaman teror sekalipun.
Melintas di running text sebuah stasiun TV bahwa ISIS mengaku bertanggungjawab atas tindakan teror ini. Seperti ada korelasi, karena di Filipina dikabarkan bahwa ISIS merebut sebuah daerah di bagian Selatan (Marawi), dalam waktu yang tidak lama berselang. Karenanya, kemungkinan aksi bom ini dikaitkan dengan ISIS bisa saja. Namun begitu, bisa saja itu hanya klaim ISIS dalam rangka menunjukkan kerja mereka dan memberitahu kepada masyarakat bahwa mereka sudah ada dan sudah bergerak di sini. Dan bom ini contohnya.
Tetapi belakangan ada kabar bahwa ada tiga orang yang diduga terlibat pengeboman Kampung Melayu, tertangkap di Bandung, di tiga lokasi yang berbeda. Terlepas apakah ketiganya berkaitan dengan ISIS atau tidak, namun jika benar keterlibatan mereka, maka ini menunjukkan bahwa ideologi radikalisme dan teror ala ISIS itu benar-benar ada di sebagian masyarakat kita. Dan tentang fakta penangkapan di Bandung, ini menunjukkan bahwa Bandung sudah harus waspada dengan ideologi radikalisme ini.
Beberapa bulan silam kita juga mendengar kabar tentang penangkapan terduga teroris di kawasan waduk Jatiluhur Purwakarta, dan ternyata yang tertangkap itu adalah (kalau tidak salah) warga Bandung, yang saat itu tinggal (ngontrak) di kawasan waduk. Tentu saja tidak hanya Bandung, ada beberapa daerah lain yang menjadi tempat penangkapan atau kewargaan para terduga teroris. Namun fakta penangkapan terduga terorisme di Bandung ini mesti menjadi perhatian bahwa Bandung perlu waspada terhadap radikalisme atas nama agama ini.
Agus sedang menceritakan sejarah singkat dirinya di hadapan Siswa saat Kelas Ideologi di Aula Janaka, Purwakarta, Kamis ( 28-01-2016)

Agus sedang menceritakan sejarah singkat dirinya di hadapan Siswa saat Kelas Ideologi di Aula Janaka, Purwakarta, Kamis ( 28-01-2016)

Sebelum-sebelum ini juga kita mendengar dan tahu bahwa di Bandung ada ormas yang menamakan dirinya dengan Aliansi Anti ini atau itu. Di antara yang dilakukan oleh ormas ini adalah menyebarkan propaganda pengkafiran dan penyesatan kepada kalangan Muslim yang lain, yang berbeda paham dengan mereka.
Selain itu, paham ideologi HTI yang baru saja dilarang oleh pemerintah juga kemarin-kemarin cukup subur di daerah Bandung dan sekitarnya. Tidak hanya di kampus-kampus perguruan tinggi, bahkan masuk ke rumah-rumah, menyasar kalangan ibu-ibu rumah tangga dan bapak-bapaknya.
Artinya, secara faktual-sosiologis paham radikalisme dan takfiri itu ada di Bandung. Ohya, tentu bukan hanya Bandung, tetapi juga Jawa Barat pada umumnya. Karenanya ketika kemudian Jawa Barat kemarin-kemarin disebut sebagai provinsi paling intoleran, jangan-jangan di antaranya karena berdasarkan fakta-fakta sosiologis ini, selain indikasi lainnya.
Sebagai sebuah kota, secara fisik Bandung mengalami perubahan positif. Hard development Bandung menuju ke arah yang lebih baik. Harus disyukuri. Namun yang belum ditangani serius dan sistematis oleh terutama Pemkot Bandung adalah soft developmentnya, pembangunan lunaknya, yang menyangkut mindset, intelektualitas dan spiritualitas. Inilah kelemahan yang sangat mendasar dalam performa kota Bandung saat dulu dan sekarang.
Dan karena itulah kiranya Bandung dan semua kota dan daerah di Indonesia perlu belajar dari Purwakarta, dalam rangka menangkal radikalisme dan intoleransi di daerahnya. Seperti kita ketahui, sebagai respon atas radikalisme dan intoleransi ini, Dedi Mulyadi kemudian menyelenggarakan dan mendirikan Sekolah Ideologi dan Akademi Kebangsaan di Purwakarta.
Dan karena tertarik dengan konsep Sekolah Ideologi ini, pihak BNPT berencana melakukan kerjasama untuk menjadikan sekolah Ideologi Purwakarta sebagai model program deradikalisasi secara nasional.

Seperti kata Dektur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Irfan Idris, ia akan menjadikan Sekolah Ideologi Purwakarta menjadi model percontohan upaya deradikalisasi nasional. “Naskah MoU-nya sudah kami siapkan. Nanti Direktur BNPT yang akan menandatanganinya langsung di sini (Purwakarta),” demikian kata Irfan usai memberikan ceramah deradikalisasi di hadapan ratusan pelajar SMP dan SMA di Sekolah Ideologi Purwakarta, Jumat, 10 Maret 2017.

Katanya lagi, Sekolah Ideologi Purwakarta juga akan dijadikan model percontohan upaya deradikalisasi di semua kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. “Karena baru Pemerintah Kabupaten Purwakarta yang punya sekolah ideologi,” ujarnya.

Sebenarnya daerah lain juga sudah melakukan program deradikalisasi, tapi belum terpola seperti yang dilakukan Pemkab Purwakarta. Menariknya di Purwakarta, bahkan mantan teroris yang sudah bertaubat ikut dilibatkan dalam program deradikalisasi tersebut. Ini menunjukkan efektifnya sistem sekolah ideologi yang sudah berjalan di Purwakarta Istimewa ini, sampai-sampai mantan teroris pun bertaubat dan bisa berkontribusi di sekolah ini.

Tentu saja Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menyambut baik keinginan kerja sama dalam upaya deradikalisasi dan terorisme dari BNPT tersebut. Hanya saja, menurutnya, upaya deradikalisasi di Purwakarta tidak melulu dilakukan melalui program sekolah ideologi yang menempa anak-anak pelajar dengan mendalami ideologi Pancasila dan kebangsaan. Upaya lain juga dilakukan melalui kajian kitab suci semua agama resmi di Indonesia. Khusus pelajar Muslim juga diajarkan kajian kitab kuning ala pesantren tradisional.

Sementara untuk kalangan mahasiswa dan aparat sipil negara dan ormas (organisasi kemasyarakatan) upaya ini dilakukan melalui program Akademi Kebangsaan.

Dengan ancaman nyata radikalisme dan intoleransi yang berujud teror ini, kita semua makin sadar bahwa upaya deradikalisasi itu harus dilakukan secara berkesinambungan, sejak usia dini. Karena paham-paham radikal dan takfiri itu juga sudah masuk ke jenjang pendidikan dasar bahkan dini.

Maka, selain pemberantasan, upaya pencegahan harus mendapatkan proporsi yang besar. Dan kiranya para penyelenggara pemerintahan di semua tingkatan perlu belajar dari Kang Dedi Mulyadi, Ki Sunda ikon toleransi dari Purwakarta.

Majulah Indonesiaku, amanlah negeriku…

Sampurasun…!

Sumber berita:

https://m.tempo.co/read/news/2017/03/10/299854705/sekolah-ideologi-purwakarta-jadi-percontohan-nasional

Bandung, 26 Mei 2017