Dalam Pilgub, Aa Gym akan Sama dengan Yusril

agym pegang mic

Awalnya dipicu oleh hasil survei yang dirilis oleh lembaga survei Poltracking besutan Hanta Yuda. Survei yang diadakan pada tanggal 18-24 Mei 2017 lalu itu menempatkan Aa Gym sebagai sosok di Jabar dengan tingkat popularitas tertinggi, yakni 92,04 persen. Berikutnya disusul oleh Deddy Mizwar 86,05 persen, Dede Yusuf 84,03 persen, dan Ridwan Kamil 79 persen. Seperti kita lihat, menurut survei ini, Aa Gym terlihat sebagai sosok yang paling populer di Jawa Barat.

Namun, popularitas boleh tertinggi. Survei yang sama justru menempatkan Aa Gym berada di peringkat kelima dari segi elektabilitas. Ia hanya mendapatkan 6,50 %, jauh di bawah empat nama lainnya, yakni Ridwan Kamil, Dedi Mizwar, Dedi Mulyadi, dan Dede Yusuf. Artinya, paling populer bukan berarti paling terpilih.

Akan tetapi, namanya juga harapan boleh dong melambung atau dilambungkan. Sekalipun elektabilitas hanya 6,50 % saja, namun perspektif positif akan memperlihatkan ini sebagai modal dasar yang bagus. Pertama, jelas popularitas Aa Gym adalah yang tertinggi saat survei diadakan. Kedua, dari segi elektabilitas ternyata di luar dugaan ia masuk dalam pusaran 5 besar. Karena itulah kemudian harapan untuk ambil bagian dalam kontes Pilgub Jabar 2018 ini muncul.

Tidak lama setelah rilis hasil survei Poltracking ini publik segera melihat dan membaca respon dari Aa Gym. Ia sudah mulai berkomentar menanggapi hasil survei. Baik berupa komentar standar, maupun upaya tertentu untuk merespon hasil survei yang membuatnya gembira. Termasuk upaya untuk menjaring relawan melalui pesan sms berantai (seperti via WA) dan audio yang mulai disebarkan oleh orang-orangnya, termasuk oleh para simpatisannya (yang tentu saja tidak sedikit). Inti dari respon ini adalah bahwa A Gym mulai mempertimbangkan dirinya berada dalam pusaran politik Pilgub Jabar 2018. Dalam bahasa lain, Aa Gym cukup geer dengan hasil survei ini. Dan ini sah, juga wajar. Namanya juga manusia.

Sebagian dari netizen tentu saja ada yang pernah menerima sms atau audio yang berisi suara Aa Gym berkenaan dengan Pilkada Jabar ini, misalnya via WA. SMS atau audio yang intinya mengajak penerimanya untuk menjadi relawan untuk Aa Gym. Dengan ajakan ini, setidaknya tim A Gym sekaligus melakukan survei internal dan menjajaki kemungkinan untuk merespon lebih jauh, sehingga kelak menjadi manuver politik. Setelah hasil survei, para relawan akan dijadikan andalannya yang paling penting untuk keputusan ini.

Apakah tindakan Aa Gym ini salah? Tidak, tentu saja tidak salah. Wajar saja, dan mungkin begitulah biasanya manusia pada umumnya, terutama mereka yang memiliki akses atau merasa memiliki modal tertentu. Bagi kebanyakan orang seperti saya tentu saja tidak kepikiran untuk menjadi calon gubernur, apalagi menjadi calon gubernur untuk sebuah provinsi dengan jumlah populari terbesar di Indonesia, yakni Jawa Barat. Jangankan menjadi calon gubernur, bahkan sekadar menjadi calon ketua RW saja tidak ada tampang.

Akan tetapi, bagi sedikit orang tertentu, kesempatan itu tentu saja ada. Kesempatan langka yang hanya akan didapatkan oleh segelintir kecil orang saja. Karenanya, ketika ada peluang, maka siapa pun tentu saja ingin mengambilnya. Apalagi jika ia merasa memiliki modal yang dirasakan cukup. Modal yang dimaksud itu adalah semisal modal politik, modal kekuatan pendanaan, dan modal dukungan publik. Nah, untuk modal dukungan publik, setidaknya hasil survei Poltracking di atas menunjukkannya.

Maka, ketika Aa Gym mulai mempertimbangkan untuk ikut turun dalam gelanggang pilkada Jabar nanti, secara publik tentu saja sah dan dibenarkan. Ketika kemudian ia melakukan sejumah manuver juga bukan persoalan, ia memiliki hak untuk mengkapitalisasi dirinya secara politik di depan publik. Karena baginya sendiri, jelas ini akan menjadi sejarah hidup yang membanggakan. Adapun tentang realitas ke depan seperti apa, itu soal lain. Yang penting coba dulu, berusaha dulu.

Apakah A Gym berpeluang? Saya termasuk yang tidak melihat peluang Aa Gym besar dalam Pilgub Jabar. Persoalan terbesarnya adalah dalam hal pencalonannya. Siapa yang akan mengusungnya? Jika melalui partai, partai apa? Secara sekilas kita menangkap bahwa seolah-olah ia akan mengandalkan jaringan relawan. Lalu, sudah seberapa banyak relawannya? Populer boleh lah, dikenal publik oke lah. Mana ada sih orang dewasa Jabar yang tidak kenal sosok Aa Gym. Apalagi setelah ia beristeri dua, namanya semakin sering dibicarakan. Bapak-bapak membicarakannya (tidak selalu karena iri ya), dan ibu-ibu juga banyak yang membincangkannya (dan menggunjingnya).

Akan tetapi, untuk mendapatkan kekuatan jaringan relawan yang besar, dari mana basisnya? Padahal jaringan relawan yang besar akan menjadi syarat utamanya untuk mengumpulkan KTP dari para warga yang setuju dengan pencalonannya. Yang paling memungkinkan untuk memuluskan pencalonan A Gym adalah melalui dukungan KTP warga, atau maju melalui jalur perseorangan. Sementara, untuk jalur ini dipastikan berat dan sulit. Tidak mudah mendapatkan dukungan KTP dari para warga yang tersebar di 30 an kabupaten dan kota se-Jawa Barat.

Tidak usah baper atau ill feel, kesulitan ini juga akan sama dirasakan oleh Ridwan Kamil yang beberapa waktu lalu (pasca deklarasi Nasdem baginya) sempat memunculkan pikiran untuk maju via jalur perseorangan. Baik A Gym maupun Ridwan sama-sama sulit mengumpulkan dukungan KTP untuk memenuhi syarat minimum pencalonan via jalur perseorangan.

Karenanya, ketika kemarin-kemarin Ridwan mendeklarasikan relawan BARKA (Baraya Ridwan Kamil) karena mempertimbangkan untuk maju melalui jalur perseorangan, saya yakin itu sulit dilakukan. Upaya pembentukan BARKA waktu itu –selain persiapan membangun basis dukungan– yang lebih utama adalah untuk menaikkan bargaining position RK sendiri di mata partai-partai.

Artinya, saya tidak melihat keseriusan RK untuk maju via jalur perseorangan. Dan melihat manuver politik akhir-akhir ini keyakinan saya semakin kuat, bahwa RK hanya bisa maju melalui jalur partai, karena via perseorangan pasti akan sangat sulit dan berat, tidak cukup waktu dan kekuatan untuk mewujudkannya.

Begitu juga dengan A Gym. Sekalipun ia populer, pasti tidak mudah untuk menggalang dukungan para relawan yang bisa menghasilkan dukungan riil KTP warga sebagai syarat minimal pencalonan. Artinya, sekalipun harapan A Gym dan timnya besar untuk bisa maju dalam pencalonan via jalur ini, saya pikir sulit –untuk tidak mengatakan mustahil. Singkat cerita, melalui jalur perseorangan Aa Gym sulit untuk tercalonkan.

Maka pilihan terakhir adalah mengharapkan dukungan dan usungan melalui partai-partai. Masalahnya, ini lebih sulit lagi. Mengapa? Memangnya, partai mana yang akan mendukung dan mengusungnya? Tidak mungkin ia berharap dukungan dari partai-partai nasionalis semisal Nasdem, PDIP, dan Golkar. Nasdem sudah mendeklarasikan dukungan untuk Ridwan Kamil. PDIP masih menyimpan dukungannya, namun sudah mulai mewacanakan dukungan untuk dua sosok, yakni antara Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil. Lagi pula, mana mungkin A Gym mencari dukungan dari PDIP? Lalu dari Golkar, jelas tidak mungkin lagi. Partai Golkar semua tingkat (baik provinsi, kabupaten hingga ranting desa-desa se-Jabar) sudah bulat mengusung Dedi Mulyadi sebagai cagub.

Lalu, mungkinkah mencari dukungan dan usungan dari partai lainnya, semisal PAN, PKB, HANURA, PPP? Sama tidak mungkin. Justru keempat partai itu malah akan mendukung salah satu calon yang selama ini beredar. Hanura sudah mendeklarasikan dukungan untuk Dedi Mulyadi. PKB dan PAN sudah intens melakukan lobi-lobi politik dengan Dedi Mulyadi. PPP sendiri kabarnya akan mengajukan kadernya, Uu Ruzhanul Hakim bupati Tasikmalaya yang tidak elektabel. Jelas, keempat partai itu sama-sama tidak memiliki sosok kader sendiri yang kuat, dan hanya berpeluang untuk turut mendukung calon luar partai yang sudah terlihat kuat, yakni antara Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil.

Jadi, mengharapkan mereka mendukung A Gym sangat sulit. Apalagi PKB dan PPP, dari segi warna dan paham keislamannya “berbeda” dengan corak Aa Gym.

Paling-paling, yang agak dekat mungkin mengharapkan dukungan dari PKS, partai yang dari segi corak berislamnya mirip dengan Aa Gym dan jamaahnya. Hanya saja, jangan lupa, PKS sangat berkeinginan untuk memajukan kadernya sendiri. Seperti kita tahu, PKS sudah memunculkan nama Netty isteri Aher yang juga kader mereka. Terlihat upaya keras PKS untuk bisa mencagubkan kadernya sendiri.

Kesimpulannya, lagi-lagi Aa Gym sulit untuk diusung oleh PKS. Meskipun warna keislaman dan gaya-gayanya mirip, namun tidak otomatis PKS memberikan dukungannya untuk Aa Gym. Kalau memanfaatkan popularitas Aa Gym untuk peraihan suara partainya, oke lah. Tapi kalau membiarkan kekuatan partainya untuk kendaraan Aa Gym, ya nanti dululah. Jika bisa kader sendiri, mengapa harus orang luar? Lagi pula, berapa sih suara PKS di DPRD Jabar? Memangnya partai ini bisa mengajukan calon sendiri? Tidak…!

Gerindra? Nah ini dia. Mindset publik saat ini biasanya selalu mengaitkan partai ini dengan PKS. Di mana ada PKS, di situlah Gerindra. Kemana Gerindra, ke situlah PKS. Sekarang pun kebanyakan publik menduga bahwa Gerindra-PKS akan berkoalisi mengusung satu calon tersendiri di Jabar, di luar partai-partai lain. Menurut saya belum tentu. Bahwa keduanya tetap satu jalur dukungan mungkin iya. Tetapi bahwa dukungan itu hanya oleh mereka berdua saja, belum tentu. Karena, mungkin saja keduanya akan berkoalisi dengan partai ketiga atau keempat.

Saya melihat, untuk Pilgub Jabar, kedua partai ini sebenarnya tidak percaya diri untuk mengusung calon sendiri. Salah satu indikasinya adalah ketua Gerindra Jabar melakukan lobi-lobi mendekati Dedi Mulyadi di Purwakarta. Katanya bahkan Gerindra berpeluang mengusung Dedi Mulyadi sebagai cagubnya. Jika benar Gerindra turut mengusung Dedi Mulyadi, belum tentu PKS akan mendukungnya. Ingat, yang dulu menuduh Kang Dedi Mulyadi sebagai musyrik itu massa akar rumput dari kalangan mana? Saya melihat ada resistensi dari kalangan PKS untuk mendukung Kang Dedi.

Kalau begitu, maka bisa saja pecah kongsi antara PKS dan Gerindra. Gerindra bersama Kang Dedi, PKS mungkin ke kubu lain yang belum jelas. Dan jika kelak akhirnya PKS memutuskan satu jalur dengan Gerindra yang mendukung Dedi Mulyadi, tentu karena sangat terpaksa dan tidak punya pilihan apa-apa lagi. Untuk ini, kedua partai ini kemungkinan akhirnya tidak akan mengajukan calon sendiri. Pilhannya antara mendukung kubu Ridwan Kamil atau kubu Dedi Mulyadi.

Kembali kepada Aa Gym. Sekalipun sekarang sempat ramai pencalonannya di Pilgub Jabar ini, saya menduga kuat bahwa nasibnya di Pilgub Jabar akan sama dengan Yusril di Pilgub Jakarta kemarin. Jauh-jauh hari Yusril sudah luntang-lantung ke sana kemari, mempromosikan diri dan mendekati partai-partai, bahkan sepertinya ia yakin akan diusung oleh partai-partai. Namun kenyataannya ia tidak jadi dicalonkan. Capaian tertingginya di Jakarta hanyalah sempat menjadi calon cagub, calon untuk calon gubernur Jakarta.

Kemungkinan, Aa Gym juga begitu..!

21 Juni 2017

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

close