Memulai Infak Puasa, Agar Nilai Puasa Tidak Hanya Indah dalam Ceramah

ramadhan

Sekali dalam setahun, ada kewajjiban zakat fitrah bagi setiap Muslim yang hidup, di akhir bulan Ramadhan. Zakat fitrah bertujuan untuk mensucikan orang yang berpuasa dan memberi makan bagi orang miskin.

Dengan asumsi harga beras (biasanya di sini dianalogikan dengan beras) rata-rata Rp 12.000 per kg, jika diuangkan, zakat fitrah kurang lebih sebesar Rp 30.000 per orang, setahun. Jika dibagi duabelas bulan, berarti zakat fitrah itu sebesar Rp 2.500 per bulan atau Rp 800 saja per hari, per orang. Hanya 800 Rupiah sehari,

Itulah rata-rata zakat fitrah kita. Sangat ringan dan murah. Padahal tiap hari kebutuhan makan setiap jiwa jauh di atas itu. Jika sekali makan rata-rata Rp 10.000, dikalikan dua atau tiga kali makan, berarti rata-rata kebutuhan makan setiap orang adalah Rp 20.000 – Rp 30.000 setiap hari. Maka, apa artinya Rp 800 dibandingkan dengan Rp 20.000 – 30.000.

Secara faktual dan sosiologis, saat berpuasa (Ramadhan), biasanya anggaran makan-minum kita bukannya berkurang, justru malah bertambah. Akibatnya, puasa bukannya membuat kita mengendalikan diri, malah justru membuat kita lebih boros. Sehingga, tujuan agar puasa dapat membuat kita lebih sehat, hemat, terkendali dan empatik, belum bisa diwujudkan secara ideal sebagaimana seharusnya.

Namun, sedikit-sedikit kita harus mulai bisa mengupayakannya.

Ada sebuah sekte agama lain di luar sana, yang berpuasa seminggu sekali selama setahun. Setahun sekitar 50 hari. Tiap hari semua anggaran makan-minum mereka disumbangkan untuk kegiatan sosial, kepedulian, pembangunan dan pengembangan. Dalam setahun, para anggota sekte itu mampu mengumpulkan dana sebesar 6 Milyar Dolar (sekitar 70 Trilyun Rupiah), yang disalurkan untuk berbagai donasi ke seluruh dunia.

Karena Islam agama yang sempurna, kita pun bisa mulai melakukannya, walaupun tidak 100 % seperti mereka. Kita memiliki ajaran infak dan sedekah yang banyak dan rutin. Yang kita masih kurang adalah kepercayaan (trust), kebersamaan dan manajemen. Berkaitan dengan keunggulan dan kebaikan yang ada pada agama lain berkenaan dengan sumbangan puasa ini, tidak perlu malu kita belajar dari mereka.

Tentu saja secara bertahap. Kita belum bisa menginfakkan 100 % anggaran makan-minum saat berpuasa. Namun setidaknya kita bisa memulainya, cukup misalnya dengan menyisihkan 10 % saja dari anggaran makan minum kita sehari dalam keluarga, saat berpuasa.

Sebagai contoh, kita ambil rata-rata saja. Jika sebuah KK (Kepala Keluarga) anggaran kebutuhan makan-minum untuk semua orang di rumahnya sebesar Rp 100.000 per hari, berarti ia bisa sisihkan Rp 10.000 sebagai infak puasa. Dalam 30 hari (sebulan Ramadhan), berarti infak puasanya terkumpul sekitar Rp 300.000.

Jika di lingkungan atau komunitas kita ada 300 KK yang besaran infak puasanya sama, berarti akan terkumpul sekitar 90 juta rupiah, hanya dalam sebulan Ramadhan.

Lalu, untuk apa dana hasil pengumpulan Infak Puasa tersebut? Banyak yang bisa dibicarakan. Jika sebuah masyarakat sedang membangun masjid, dana tersebut bisa digunakan untuk pembangunan.

Jika infak puasa bisa kita wujudkan dan tradisikan setiap tahun, bahkan bukan hanya saat puasa Ramadhan, tetapi juga puasa-puasa sunnah yang lainnya, maka kita bukan saja telah memperbaiki kualitas dan nilai puasa kita di bulan Ramadhan yang segera tiba ini. Tetapi kita juga bisa beramal jariyah yang pahalanya terus mengalir.

Ke depan, ketika kelak kebutuhan pembangunan sarana-prasarana atau infrastruktur sudah tuntas, maka hasil pengumpulan Infak Puasa berikutnya bisa kita gunakan untuk kegiatan sosial, pendidikan, kesehatan, pembinaan, pengembangan, dan kesejahteraan kaum Muslimin di lingkungan sekitar dan yang seterusnya.

Ramadhan tahun ini segera tiba. Kita semua yang telah baligh berkewajiban berpuasa Ramadhan. Sejak akil baligh dan mulai belajar puasa, sudah puluhan tahun kita berpuasa Ramadhan. Mari kita hitung, jika usia kita rata-rata 40 tahun, setidaknya sudah 25 tahunan kita berpuasa. Sebagian usia kita tentu saja ada yang kurang atau lebih.

Lalu sekarang mari kita perhatikan, setiap tahun kita berpuasa Ramadhan, adakah perbedaan kualitas antara puasa di satu Ramadhan dan Ramadhan berikutnya?

Di antara tujuan puasa adalah agar kita mengendalikan hawa nafsu, terutama nafsu perut: makan dan minum. Jadi, saat berpuasa, kita harus mengendalikan nafsu makan. Namun, seringkali berpuasa Ramadhan hanyalah memindahkan waktu makan dari siang ke malam, dengan anggaran biaya makan yang malah lebih besar dari hari-hari biasa saat kita tidak sedang berpuasa.

Karena itu, untuk meningkatkan kualitas berpuasa, kiranya perlu kita menata kembali puasa, khususnya dalam anggaran biaya makan sekeluarga ini. Kini, setiap hari berpuasa, kita mulai sisihkan sekian persen (misalnya 10 %) dari anggaran makan keluarga sebagai infak, INFAK PUASA. Jika pun misalnya kita belum bisa mengurangi anggaran makan saat berpuasa, setidaknya kita tetap berinfak sekian rupiah yang diprosentasikan dari anggaran makan harian.

Inilah Ramadhan kita tahun ini. Dan ia bisa dijadikan sebagai titik tolak peningkatan nilai dan kualitas puasa, melalui Infak Puasa. Dan ini akan menjadi wujud nyata dari nilai puasa kita.

Gagasan dan tradisi Infak Puasa mungkin hal baru di negeri kita. Dan kita bisa memelopori dan mewujudkannya. Kita mulai INFAK PUASA SEJAK RAMADHAN SEKARANG…! Bismillah…

Gerakan Infak Puasa (GIP)
Studi Islam Bandung (SIB)

 

12 Mei 2017

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

close