Membela “Ulama” Sambil Menista Nabi? Keterlaluan…!

rizieq cabul syariah

Ini adalah hal ganjil dalam cara berpikir dan perilaku sebagian orang yang merasa dekat dengan simbol-simbol keagamaan. Mereka merasa sedang beragama, padahal sedang meninggalkannya. Merasa sedang membela agama, padahal sedang mencampakkannya. Merasa sedang memuliakan agama, padahal sedang menistakannya. Malangnya, keganjilan ini sudah lama berlangsung, dan masih terjadi hingga saat ini.

Masih ingat, pada tahun 2014 yang lalu, saat Pilpres. Ada seorang perempuan berjilbab dengan gelar pendidikan tinggi, saat berkampanye, ia menyebut capres dukungannya sebagai titisan Tuhan. Terlalu semangat mengidentifikasi dirinya dengan simbol keagamaan yang diilusikannya, sampai ia mengucapkan hal fatal dan memalukan yang jelas sangat bertentangan dengan Islam yang ia yakini sendiri (kalau ia tersadar dari halusinasinya).

Sampai saat ini saya belum bisa memahami cara berpikir orang-orang seperti perempuan ini dan kalangannya. Atas dasar apa mereka mencitrakan capres dukungannya sebagai representasi Islam? Kalau melihat sosok tokohnya, bagian mana yang mengukuhkan citra keislamannya sambil menegasikan keislaman capres pesaingnya? Kalau melihat partai-partai pengusung dan pendukung, hal yang sama juga ada pada capres rival.

Apakah karena di barisan ini ada partai yang suka membawa-bawa isu agama dalam politiknya, baik untuk menguatkan dirinya maupun menyerang lawan yang berseberangan? Jika iya, justru kalangan lain malah melihat partai ini lebih sebagai penjual agama ketimbang pembelanya. Dengan kasus presidennya yang menjadi napi kasus korupsi sapi saja terlihat bahwa perilaku tersebut telah mempermalukan agama yang suka dibawa-bawanya dalam komunikasi politik publik.

Lagi pula, corak keagamaan kalangan yang berada di partai ini hanya bagian kecil saja dari corak keislaman mayoritas di Nusantara ini. Dan mayoritas tersebut justru berada dalam barisan capres pesaing.

Kesimpulannya, pencitraan bahwa capres A adalah representasi Islam hanya akal-akalan saja, dalam rangka politisasi simbol. Representasi yang tidak berdasar dan tidak faktual. Dan karena mereka rajin dan semangat 45 bermain dalam politisasi agama, maka mereka berhasil mendapatkan citra itu dari kalangan awam agama yang mudah dininabobokan dengan simbol-simbol agama pula.

Menjelang pemungutan suara Pilpres 2014, lagi-lagi keganjilan di kalangan mereka terjadi. Seorang pendukung yang mantan anggota DPR, yang di atas kepalanya selalu bertengger tutup kepala khas, berkata bahwa jika capres dukungannya kalah maka ia akan menuntut Tuhan.

Bayangkan, orang yang mengklaim sebagai berada dalam barisan agama itu berani-beraninya menuntut Tuhan jika capresnya kalah. Orang beragama kok berani-beraninya menuntut Tuhan. Setahu saya, orang yang berani menuntut Tuhan adalah orang yang tidak mengerti agama dan Tuhan. Perhatikan saja dulu pada masa nabi-nabi, siapakah orang-orang yang berani kepada Tuhan itu? Para pengikut nabi justru adalah orang-orang tulus dan takzim kepada Tuhan mereka.

Ada lagi, seorang lelaki sepuh yang sudah saatnya menjadi penyejuk bangsa, justru menganalogikan ajang pilpres sebagai perang Badar. Perang Badar adalah perang antara kaum Muslimin yang dipimpin oleh Rasul Saw dengan orang-orang musyrik Quraisy.

Dengan analoginya ini, ia seperti menganggap diri dan barisannya sebagai representasi umat Islam, sementara umat Islam yang berada di barisan seberang sebagai kalangan kaum musyrik. Jangan-jangan ia menganggap bahwa salah satu dari mereka ada yang dianggap sebagai nabi bagi mereka. Ini adalah analogi yang keterlaluan, dan merendahkan martabat perang Badar itu sendiri, yang seharusnya beliau hormati dengan takzim.

Apakah keganjilan seperti ini berakhir dengan selesainya Pilpres 2014? Ternyata tidak! Malah terus berkepanjangan, dan sepertinya belum akan mereka akhiri.

Belakangan ini publik nasional sedang ramai membicarakan sosok sangat tersohor yang terjerat kasus chat berkonten pornografi dan sejumlah kasus lainnya yang sedang ditangani kepolisian. Yang bikin lebih heboh, adalah karena sosok ini mangkir dari pemanggilan pihak berwenang, malah kabarnya pergi ke Saudi dan belum mau pulang ke Indonesia hingga sekarang. Kabarnya lagi, katanya sosok ini tidak akan pulang ke Indonesia selagi presidennya masih Jokowi.

Menuntut orang lain agar taat hukum dan dihukum, namun saat dirinya terkena kasus hukum malah ia pergi keluar. Sementara orang-orangnya di sini melemparkan berbagai tuduhan bahwa pemerintah melakukan rekayasa. Mereka juga sering mengatakan tuduhan kriminalisasi ulama.

Oleh para pandukung dan simpatisannya, sosok ini memang dianggap sebagai ulama. Ya, di negeri kita ini sampai sekarang belum pernah ada kejelasan bagaimana dan apa syarat-syarat agar seseorang pantas menyandang gelar keulamaan, dengan hak dan kewajibannya. Karena tidak jelas, maka tidak perlu heran jika ada orang yang dianggap sebagai ulama oleh sekelompok orang justru tidak diakui keulamaannya oleh sebagian kalangan yang lainnya. Begitu pula dengan sosok ini.

Karena perbedaan ini pula, tidak heran pula jika para pendukungnya menyuarakan frase “jangan kriminalisasi ulama”, maka kalangan yang lain justru menyuarakan frase sebaliknya, “jangan ulamakan kriminal.”

Kalangan pendukung dan simpatisannya, menyatakan bahwa kepolisian harus menghormati ulama. Sementara kalangan yang lain menyatakan bahwa kapolisian harus menegakkani hukum kepada siapa pun. Semua orang sama di mata hukum. Ketua KPK, ketua DPD, ketua MK, ketua DPR, para menteri, dan gubernur aktif saja diperlakukan sama di mata hukum. Seorang mantan bupati yang katanya dianggap ulama di daerahnya juga sama diproses secara hukum. Lalu mengapa ada warga negara yang ingin diperlakukan berbeda atas nama agama?

Sekarang ini nampaknya sosok ini memiliki para pendukung dan simpatisan yang fanatik. Bahkan fanatisme sebagian mereka sudah mulai melampaui batas. Bagi yang rajin mengamati ingar bingar kehebohan yang mengiringi sosok ini, mungkin telah menemukan tidak sedikit ungkapan fanatisme yang berlebihan itu. Karenanya tidak perlu disebutkan lagi di sini.

Hanya saja, saya ingin menulisnya satu saja di sini sebagai contoh yang paling mutakhir. Terutama, karena contoh kali ini sudah sangat keterlaluan dan menghina Nabi Saw. Sikap fanatisme kepada sosok (yang dianggap ulama) ini telah sampai pada batas menista dan melecehkan Nabi sendiri.

Aneh tidak, jika ada seorang Muslim yang mengaku sebagai umat Nabi Saw, lalu karena membela sosok yang dianggapnya ulama itu ia sampai menghina Nabi Saw? Pantas tidak mengatakan bahwa Rasul yang suci dan mulia itu melakukan cabul syariah? Figur tersebut kamu hormati, tetapi Nabimu sendiri kausebut cabul?!!! Memangnya siapa figur itu dibandingkan Nabi Agung yang suci dan terus menerima shalawat dari Allah, malaikat dan umat beriman itu? Merasa membela “ulama” tetapi menghina Nabi? Terlalu…!

Awalnya saya tidak pernah membayangkan bahwa hal seperti itu bisa dilakukan oleh seseorang yang mengaku Muslim. Tetapi setelah adanya kasus ini, saya jadi teringat bahwa ini bukan satu-satunya kasus di mana seorang Muslim menghina Nabinya sendiri. Sebelum orang ini, ada banyak kasus di mana Muslim menghina Nabi mereka.

Sebagai contoh, ada seseorang yang di kalangannya disebut sebagai ustadz, ia berjenggot, suka berceramah tentang Islam, suka menyebut dirinya mengajarkan Sunnah Nabi, dan mengajak pendengarnya untuk mengikuti sunnah Nabi. Sebagian ceramahnya bisa kita temukan di Youtube. Belum lama ini ia ditolak kehadirannya berceramah di sebuah daerah.

Apa yang ia katakan? Dalam sebuah ceramahnya, ia menyebut bahwa orang tua Nabi Saw (ayahanda Abdullah dan ibunda Aminah) masuk neraka. Tragisnya, ia menyatakan itu dengan menggunakan hadits Nabi yang ada pada dirinya.

Bayangkan, orang yang mengaku kemana-mana membawa dan mengajarkan Sunnah Nabi, tetapi tega dan berani menyebut orang tua Nabi masuk neraka. Tidakkah itu menghina dan menyakiti Nabi yang seharusnya ia hormati dan agungkan? Mungkinkah seseorang mengaku mengagungkan Nabi sambil menyakiti hati dan tidak beradab kepada beliau?

Ya, begitulah. Di antara manusia yang banyak ini ada saja orang-orang yang mengaku menggenggam kemuliaan tetapi justru membantingnya, meneriakkan keagungan tetapi justru meludahinya, berbaju keluhuran tetapi justru melucutinya….

Tidakkah kalian berpikir…?!!

Ahad, 21 Mei 2017

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

close