Di Purwakarta, 183 Desanya Menjadi Pemilik Saham Perusahaan Nasional. Kok Bisa..?

dedi mulyadi beras perelek

Ada banyak hal menarik dari apa yang telah dilakukan oleh Dedi Mulyadi di daerah yang dipimpinnya, Purwakarta Istimewa. Baik baru berupa gagasan dan wacana, maupun produk-produk kebijakan yang sudah diimplementasikan. Dan sejauh yang saya pantau, hal-hal yang sudah diimplementasikannya itu sudah banyak. Dan publik nasional juga sudah cukup akrab dengan sosok Kang Dedi.

Apa yang menarik perhatian saya dari sosok Ki Sunda ini adalah kemampuan unggulnya dalam menggabungkan hard development dengan soft development. Dari segi hard development kita banyak mengetahui ia telah membangun banyak hal yang mengundang decak kagum. Pembangunan jalan di desa-desa, termasuk jalan-jalan baru yang menghubungkan Purwakarta dengan kabupaten tetangga. Membeli 100 sumber mata air oleh Pemda, agar tidak dikuasai oleh swasta.

Selain itu ia juga membangun beberapa musium digital diorama pertama di Indonesia. Membangun air mancur menari pertama di Indonesia di Taman Sri Baduga (ini yang sekarang paling tersohor dari destinasi Purwakarta). Dan banyak lagi yang lainnya. Belakangan ia juga mulai menyulap kawasan “prostitusi” Cilodong menjadi kawasan pendidikan, pariwisata dan religi yang sangat luas, di atasnya sedang di bangun masjid yang megah, dengan menggabungkan konsep edukatif dan pariwisata.

Dari segi soft development, Kang Dedi berhasil melakukan banyak mindsetting, baik warganya maupun masyarakat Indonesia secara luas. Yakni, bahwa “budaya adalah kekuatan bangsa.” Ia berhasil menyadarkan sekaligus meyakinkan masyarakat luas bahwa budaya Nusantara (khususnya Sunda) itu adalah aset besar dan sangat bernilai untuk kemajuan dan pembangunan bangsa. Dan ia menunjukkan beberapa contohnya sebagai bukti konkret.

Misalnya, dengan mengefektifkan Program Beras Perelek (tradisi khas masyarakat Sunda yang menyimpan satu sendok beras di sebuah tempat lalu dikumpulkan bersama dengan warga-warga lainnya) ia membangun masjid warganya.

Ia juga menerapkan Program Arisan Gotong Royong, yakni dalam satu kecamatan, semua desa bergotong royong secara arisan untuk membantu sebuah desa misalnya membangun jembatan, gedung sekolah, atau masjid. Jika ada 10 desa dalam satu kecamatan, maka 9 desa bergotong royong membangun misalnya masjid di satu desa, dan berikutnya pindah ke desa lain untuk membangun prasarana yang dibutuhkan desa tersebut. Jadi, sebuah masjid atau jembatan di sebuah desa bisa dibangun berdasarkan gotong royong dari desa-desa dalam satu kecamatan. Baik tenaga maupun pembiayaannya.

Program Bulan Purnama yang diadakan setiap malam purnama juga merupakan hal menarik dan unik. Selain bermakna untuk memperkuat silaturahim antar masyarakat bertetangga, juga berdampak pada penghematan energi. Penggalakan atribut-atribut budaya Sunda, seperti iket, pangsi, cetok, wayang, alat-alat kesenian lainnya juga menunjukkan keseriusan program dan pendekatan budaya Sunda ini, yang toleran, dengan filosofi luhur Siliwangi: Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh.

Sudah banyak festival budaya tingkat nasional dan dunia diadakan di Purwakarta. Termasuk membuka cabang Sate Maranggi di USA dengan nama OMG. Dan tidak kalah penting, simbol-simbol budaya Sunda dibawa ke berbagai negara, baik Asean, Eropa hingga Afrika dan Amerika. Dalam acara seminar di Filipina, Kang Dedi (yang selalu beriket) membagikan sekitar 100 iket kepada para peserta. Di New York, di atas podium PBB, ia gemakan salam Sunda Sampurasun yang kini makin dikenal luas.

Kesimpulannya, Anak Desa ini telah melakukan berbagai terobosan dan tindakan kelas dunia yang mencuri perhatian masyarakat hingga ke mancanegara. Dari itu semua, saya melihat benang merah dari apa yang dilakukan Kang Haji Dedi selama ini, yakni Budaya dan Desa. Budaya dan Desa adalah narasi andalan Kang Dedi dalam membangun negerinya selama ini, dan ini pula yang terus disosialisasikan secara konsisten.

Nah, di antara gagasannya tentang kekuatan desa ini, Kang Dedi menggulirkan konsep Desa Mandiri, dengan beberapa program seperti Dana Investasi Desa (per desa 5 Milyar), yang dilakukan secara bertahap.

Kini, program Dana Investasi Desa (DID) ini bukan lagi gagasan, namun sudah lebih konkret menjadi kebijakan, dengan alokasi anggaran APBD yang besar, yang mulai diberlakukan pada tahun 2018 nanti. Seperti disampaikan oleh Kang Dedi, pemkab Purwakarta mengalokasikan sekitar 200 Milyar untuk membangun jalan di desa-desa, sekitar 183 desa. Karena program pembangunan jalan di desa-desa sudah selesai tahun ini, maka mulai tahun 2018 nanti alokasi anggaran jalan itu dijadikan Dana Investasi Desa. Untuk tahap awal, setiap desa mendapatkan alokasi 1 milyar, kali 183 desa, total 183 milyar. Untuk apa uang sebesar ini? Untuk ikut memiliki saham perusahaan skala nasional semacam Bank BJB atau lainnya.

Bagi saya ini gagasan menarik. Dengan konsep besar “Membangun bangsa dari desa” ini, desa harus menjadi subjek sekaligus pemilik pembangunan dan kesejahteraan. Desa juga harus menjadi pemilik aset perekonomian; desa adalah share holder bagi pembangunan.

Dengan 1 milyar per desa dalam setahun, 183 desa di Purwakarta akan menjadi sekaligus pemodal sebuah bank besar. Sehingga saham sebuah bank besar dan terpercaya dimiliki oleh semua desa di Purwakarta.

Apa yang bisa kita bayangkan dari program ini ke depan. Kelak, setiap tahun, bukan hanya bank, bahkan perusahaan-perusahaan nasional dan multinasional bisa “dimiliki” oleh rakyat desa.

Ini baru 183 desa di Purwakarta. Sekarang kita hitung ada 70 ribuan desa di seluruh Indonesia. Lalu sebutkan perusahaan nasional atau multinasional mana yang bagus. Jika setiap pemda menyiapkan minimal 1 milyar untuk setiap desanya dalam setahun (dan dinaikkan lagi pada tahun berikutnya), maka seluruh desa di Indonesia bisa menjadi pemilik saham perusahaan-perusahaan besar nasional dan mulitansional. Dengan cara ini, setiap tahun, seluruh desa di Indonesia bisa mengakuisisi perusahaan dunia prospektif yang mungkin sedang kesulitan pembiayaan. Seharusnya memang perusahaan-perusahaan bagus sahamnya dimiliki oleh bangsa Indonesia, dengan representasi desa-desa seluruh Indonesia. Ini jelas terobosan kebijakan dan program yang keren dan hebat.

Awalnya gagasan hebat ini saya dengar saat Kang Haji Dedi Mulyadi menjadi pembicara dalam seminar di STIE Ekuitas Bandung, 3 Mei 2017 lalu. Saya menyimak paparannya via video Facebooknya, saat hendak mengisi seminar di Cirebon. Dari paparannya, gagasan Dana Investasi Desa ala Kang Dedi ini mengesankan.

Ternyata kini gagasan itu bukan sebatas wacana, melainkan sudah diputuskan. Mulai tahun depan, 2018, semua desa di Purwakarta turut menjadi pemodal dan pemilik saham bagi sebuah bank besar dan terpercaya di Jawa Barat.

Seperti disampaikan oleh Bupati Purwakarta Kang Dedi Mulyadi, tahun depan (2018) setiap desa di Purwakarta akan menyertakan modal di bank pemerintah. Namun katanya penyertaan modal dana desa ini tidak akan dilakukan di pasar saham.

“Sedang kami proses. Penyertaan modal pemerintahan desa di bank pemerintah, kami sih inginnya di bank BJB karena lebih prospektif,” kata Dedi di Purwakarta, Selasa (9/5).

Menurutnya, penyertaan modal di bank BJB lebih aman dibanding di sektor swasta. Apalagi, menurutnya, bank BJB termasuk bank yang sehat. Sehingga, penyertaan pemerintah desa di bank tersebut mampu memberi manfaat besar bagi pemerintahan desa.

“Skemanya tahun depan kami alokasikan dana dari APBD Purwakarta untuk 183 desa di Purwakarta. Setiap desa mendapat alokasi anggaran Rp 1 miliar,” katanya.

Dana tersebut kemudian akan disertakan ke dalam modal bank BJB yang kini sudah jadi perusahaan terbuka. Sehingga, pemerintahan desa di Purwakarta ikut andil menjadi pemegang saham di bank milik Pemprov Jabar tersebut.

“Harapannya, dari penyertaan modal tersebut, pemerintahan desa mendapat manfaat untuk pembangunan desa, seperti infrastruktur, jaringan air bersih, penanggulangan kemiskinan hingga rumah tidak layak huni,” ujar Dedi.

Jika setiap desa mendapat Rp 1 miliar untuk penyertaan modal, maka total anggaran yang disiapkan sekitar Rp 183 miliar.

“Saya belum bisa pastikan jika penyertaan modal itu manfaatnya berapa persen. Tapi saya ingin desa mandiri, biasanya kan desa dapat alokasi dana dari pemerintaha daerah, pemerintah provinsi hingga pemerintah pusat, uangnya selalu habis. Saya ingin desa diberi modal, modalnya itu disertakan ke bank pemerintah dan dari penyertaan itu akan mendapat manfaat bagi pemasukan desa,” ujar Kang Haji Dedi.

Yang menarik, ini bukan semata wacana dan usulan, namun saat ini, alokasi anggaran itu sudah dimasukan ke dalam draft rancangan perda tentang APBD Purwakarta. Sehingga tahun depan sudah terlaksana.

Lalu dari mana alokasi anggaran sebesar itu dalam APBD Purwakarta 2018? Kata Dedi, dana itu berasal dari dana yang pada tahun-tahun sebelumnya dialokasikan untuk infrastruktur jalan.

“Biasanya tiap tahun Purwakarta mengalokasikan sekitar Rp 200 miliar untuk jalan. Karena tahun depan sudah tidak ada alokasi untuk jalan karena sudah selesai, maka dana itu kami alokasikan untuk penyertaan modal itu,” katanya.

Inilah inspirasi lain yang terbaru dari Kang Haji Dedi Mulyadi, orang desa yang bertindak kelas dunia…

Saya membayangkan, andaikan saja nanti semua desa di seluruh Indonesia menjadi pemiliki saham perusahaan nasional bahkan dunia… Wooow…!

The new inspiring leader..

Sampurasun..

Sumber berita:

Tahun Depan, Purwakarta Berlakukan Sistem Penyertaan Modal Desa ala Pasar Modal

24 Mei 2017

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

close