Benci Jokowi sampai Mati

jokowi doa di masjid cina

Perkembangan teknologi bukan saja telah memudahkan hubungan antar manusia di berbagai belahan dunia. Bukan hanya memperpendek jarak. Bukan hanya mempersingkat waktu sangat cepat. Ia juga telah berdampak pada penularan sifat buruk yang sangat cepat dan sulit berhenti.

Awalnya teknologi diciptakan untuk memudahkan komunikasi, menyambungkan orang-orang yang terpisah, menyatukan yang tercerai berai. Fitrah awal teknologi adalah kebaikan. Dengan teknologi medsos, kini ada banyak grup di mana-mana, di berbagai produk aplikasi medsos. Semuanya ramai. Banyak anggota. Baik yang saling kenal satu sama lain di darat, maupun grup yang para anggotanya tidak saling mengenal sebelumnya, apalagi pernah bertemu.

Awalnya dengan medsos mereka menjadi bertambah teman, bertambah relasi, bertambah peluang dan kesempatan. Awalnya orang-orang senang diajak gabung di berbagai grup yang variatif. Awalnya seolah ini adalah surprise yang menyenangkan.

Tetapi kemudian kita rasakan sendiri, kini kemudahan teknologi itu benar-benar telah menjadi alat yang “memusingkan” dan menghilangkan akal sehat. Juga menebarkan keburukan, mengotori hati nurani, merenggangkan persahabatan dan memutuskan persaudaraan.

Karenanya, sekarang, tidak jarang, banyak orang yang justru enggan jika diajak bergabung ke suatu grup baru. Mengapa? Karena, mereka sudah diajak di berbagai grup berbeda, tetapi isi broadcast dan diskusi di dalamnya saling mirip. Misalnya, ada satu broadcast yang berpindah dari satu grup ke grup lain, dan seorang anggota membacanya di grup yang berbeda-beda.

Yang mengesalkan, isi broadcast itu bukan saja fitnah, hoax, atau sejenisnya, namun lebih dari itu merupakan pesan berantai kebencian yang terus ditularkan. Kebohongan, kebodohan dan kebencian ditransmisikan dari satu grup ke grup yang lainnya, dan setiap orang menemukannya di berbagai grup yang berbeda.

Malangnya lagi, orang-orang yang membagikan broadcast itu merasa telah beramal saleh dan berbuat baik, sekalipun yang disebarkannya adalah fitnah dan keburukan, kebohongan dan kebencian. Karena tertutup oleh perasaan sedang beramal saleh itu, mereka melihat bahwa fitnah adalah dakwah, keburukan adalah kebaikan. Cara berpikir yang makin aneh dan ganjil, keluar dari akal sehat.

Kebebasan berbicara adalah hak setiap orang. Karenanya, dalam hal ini pun, setiap orang merasa berhak berbicara dan berkomentar, juga memposting apa saja, tidak peduli benar atau salah, baik atau buruk. Dan karena kebencian serta kebodohan akut, seorang perempuan muda lugu yang bahkan belum lancar membaca Al-Quran sekalipun sudah berani menuduh murtad dan kafir kepada ulama mumpuni dan ahli ilmu yang sejak kecil hari-harinya digunakan untuk mencari dan menggali ilmu serta mencerahkan umat.

Orang-orang bodoh dan lemah akal merasa diri sudah pintar dan ahli agama, sampai menyuruh tobat kepada para kyai sepuh yang tidak sepaham dengan mereka. Ibu-ibu muda berjilbab lebar dan sering membacakan ayat-ayat suci Al-Quran, tanpa beban dan merasa bersalah, menyerang dan menghina sesama Muslim lain yang berbeda. Bahkan setingkat figur yang sangat bangga menyandang gelar doktor di depan namanya sekalipun, tanpa malu-malu memamerkan kebodohannya secara terbuka di twitter dan lainnya.

Medsos, oh medsos. Ia telah menyingkap rahasia-rahasia kepribadian orang yang sebelumnya tersembunyi dan ditutup rapat-rapat. Keburukan dan kebodohan sengaja diperlihatkan dengan bangga, dan –lagi-lagi– dirasakan sebagai amal saleh. Kiranya kita semua memahami sekarang bahwa untuk mengetahui orang-orang itu bodoh atau cerdas, mudah saja. Perhatikan saja apa yang mereka tulis dalam medsos yang mereka ikuti.

Apakah ini sudah terjadi cukup lama? Sebenarnya kemudahan teknologi sudah sangat terasa sejak belasan tahun silam. Namun, dulu masih terbatas dan relatif “sopan” dan “beradab”. Sementara pameran spektakular kebodohan, kebohongan dan kebencian massal itu baru terjadi beberapa tahun saja. Tepatnya sejak Pilpres 2014 yang lalu.

Gara-gara capres dukungan mereka kalah oleh seorang tukang meubel berwajah ndeso, kebencian demi kebencian terus diproduksi. Fitnah, tuduhan, serangan dan semacamnya terus disebarkan setiap hari, bahkan setiap jam dan menit. Dan sosok Presiden Jokowi selalu menjadi “inspirasi” bagi lahirnya berbagai kebodohan dan ketidakwarasan mereka. Hati mereka makin tertutup, dan sepertinya tidak lagi mampu melihat sisi kebaikan dan keunggulan Jokowi kendatipun begitu besar, kontras dan terang benderang. Jangan-jangan hati mereka sudah berubah jadi batu hitam yang legam.

Pikiran, perasaan, ucapan, dan tulisan mereka seolah hanya berisi kebencian dan kemarahan kepada Pak Jokowi. Hingga sekarang belum juga berhenti. Jika kita sebutkan satu persatu, sudah tidak bisa kita lakukan lagi, saking banyaknya, hingga sebagian sudah terlupakan karena tertimpa oleh produk-produk kebencian berikutnya. Sudah terlalu banyak.

Mereka hanya melihat, bahwa tidak ada yang baik dari Jokowi. Jokowi yang Muslim, mereka Kristenkan (huruf H di depan namanya sempat dituduh sebagai Herbertus), mereka PKI-kan (termasuk ibunya). Jokowi yang sedang umrah, mereka persoalkan kain ihramnya. Jokowi menjadi imam salat asar bagi Din Syamsudin (Mantan Ketua MUI dan Muhammadiyah) dan Lukman Hakim Saefudin (Menag), dibulli.

Jokowi memberi ancaman kepada Cina yang bermanuver di dekat perairan Natuna, di atas kapal perang di laut Natuna, mereka cemooh. Ketika pemerintahan Jokowi berhasil membawa investasi Cina ke Indonesia, mereka tuduh Jokowi sebagai pro aseng dan pro Cina. Mengancam Cina, dicemooh; bekerjasama dengan Cina, dicemooh.

Yang terakhir adalah komentar mereka saat Presiden Jokowi berkunjung ke Tiongkok belum lama ini. Datangnya Jokowi ke Cina saja bagi mereka sudah dianggap sebagai kesalahan, apalagi hasil kerjasama yang dibawanya. Bahkan, saat Presiden mengunjungi sebuah masjid di Niujie, Beijing, mereka juga mempersoalkan. Mereka menggunjing dengan cemoohan yang tidak pantas dilakukan manusia berakal.

jokowi doa di masjid cina

Karena masjid berwarna merah (khas Tiongkok), karena arsitektur masjid yang berbeda dengan arsitektur di Indonesia umumnya (khas budaya Tiongkok), mereka menuduh masjid sebagai klenteng. Mereka cela Jokowi yang sedang bersimpuh berdoa usai salat tahiyyatul masjid. Dan lain-lainnya. Bahkan hal-hal baik yang syar’i pun akan tetap mereka lihat sebagai keburukan, jika pelakunya adalah Joko Widodo.

jokowi di depan masjid cina

jokowi di masjid cina dengan pengurus

Padahal hubungan kerjasama dengan negara mana pun adalah lumrah, sesuai dengan kepentingan dan kebijakan yang berpihak kepada bangsa Indonesia sendiri. Gubernur Jabar saat ini juga melakukan kontrak kerjasama dengan Cina di mana pemerintah Cina berinvestasi di Jabar, namun tidak mereka persoalkan (karena gubernurnya berasal dari kalangan mereka). Bahkan junjungan mereka Raja Salman pun bekerjasama dengan pemerintah Tiongkok dengan investasi yang lebih besar ketimbang kerjasamanya dengan Indonesia, juga tidak mereka persoalkan.

Hanya Jokowi yang selalu salah di mata mereka. Secara psikologis, apakah ini perilaku yang wajar dan sehat? Secara teologis, apakah perilaku dan kebiasaan ini dibenarkan Syariat? Secara politis, apakah ini menguntungkan untuk pembangunan dan pelesatan kualitas bangsa. Secara sosiologis, apakah ini menyehatkan hubungan sosial?

Kita patut khawatir, jangan-jangan ini adalah ekspresi dan produk kebencian yang akhirnya mendarah daging, masuk ke dalam hati terdalam, dan diwariskan kepada orang-orang terdekat atau yang bisa dijangkau. Sebagai sesama manusia, kita turut menyayangkan kondisi orang-orang yang hatinya makin sakit dan gelap. Kita tahu, ternyata bukan hanya kebodohan yang telah merusak kebaikan dalam kehidupan ini. Namun kebencian ekstrem akan berakibat lebih dari itu.

Jadi teringat kata-kata Ali bin Abi Thalib, “Setiap sesuatu ada zakatnya. Dan zakat akal adalah bersabar menghadapi orang-orang bodoh.”

Ya, kita semua agaknya tidak hanya harus bersabar menghadapi kebodohan dan kedustaan, tetapi juga kebencian. Dan karena kebencian itu mengarah kepada siapa pun yang tidak sependapat dengan mereka, maka kita semua harus bersabar jika suatu saat dibenci oleh mereka –gara-gara menyatakan pendapat yang berbeda. Semoga saja kebencian itu tidak terus dipelihara sampai mati.

Teringat lagi ungkapan bijaksana dari Manusia Agung, “Semua manusia tengah tertidur. Saat mati, mereka terbangun,” demikian sabda Nabi Saw.

Lalu, apakah kita terus tidur dalam kebencian, dan kelak bangun pun dalam kebencian…? Duh, jangan sampai ..!
Silakan benci seseorang, tetapi tetaplah berakal sehat, berkata benar, serta bertindak adil dan proporsional. Silakan berbeda pendapat, tetapi hindarkan hati dari kebencian.
Kecuali jika kita ingin mati dengan predikat sebagai pembenci abadi…!
Rabu, 17 Mei 2017
Ashoff Murtadha

Leave a Reply

close