Orang-orang berkata penuh semangat;

“Kita tidak boleh hidup dalam bayang-bayang orang lain.”

Ah, masa sih harus begitu? Bukankah orang yang tidak memiliki bayangan berarti ia berada dalam kegelapan?

Coba kita berada dalam gelap. Apakah kita melihat bayang-bayang? Tentu saja tidak…! Nah, maukah kita hidup dalam kegelapan? Mana yang hendak kita pilih: hidup dalam bayang-bayang, ataukah hidup dalam kegelapan?

Bayang-bayang itu muncul ketika ada cahaya, ketika ada terang. Ketika tidak ada cahaya, gelap menutupi semua yang ada di sekitar. Gelap menguasai. Tidak ada yang bisa terlihat atau dilihat. Beruntung bagi yang memiliki mata batin dan rasa yang kuat, ia bisa merasakan keadaan sekitar. Tetapi sedikit saja yang bisa demikian….

Hidup dalam bayang-bayang adalah keteduhan, memastikan diri untuk menghindar dari kepanasan, serta kepastian bahwa ada cahaya di sekitar kita. Hidup dalam bayangan adalah kenikmatan, kecerdasan dan kebahagiaan…

Sebab, orang yang berada dalam bayang-bayang adalah orang yang berada di dekat cahaya. Dalam bahasa agama, ia tengah berada dalam petunjuk, hidayah.

Dan betapa malangnya orang yang tidak memiliki bayangan, atau tidak berada dalam bayangan… Karena, dengan begitu ia tidak sedang berada dalam cahaya dan terang. Dalam bahasa Islam, orang yang tidak mendapatkan cahaya adalah orang yang tersesat, atau tengah meniti kesesatan…

Maka, hidup dalam bayang-bayang orang lain yang baik (yang karenanya kita bisa berjalan berkat cahayanya), lebih baik daripada tidak bisa melangkah karena dunia sekitar gelap…***

Bandung, 15 September 2014

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

close